JAKARTA, ONTIME.ID – Sederetan tokoh perempuan Minang dan nasional yang tergabung dalam organisasi Limpapeh menggelar nonton bareng (nobar) special screening Film Buya Hamka di Plaza Senayan XXI, Jakarta, Rabu (12/4).
Nobar ini juga dihadiri producer Falcon & Starvision dan para artis pemainnya. Limpapeh adalah perkumpulan perempuan-perempuan Minang, dari para pemerhati budaya dan adat Minangkabau.
Sederetan tokoh perempuan Minang dan nasional yang ikut nobar Film Buya Hamka tersebut diantaranya, Mufidah Jusuf Kalla, Ida Hasjim Ning, Meutia Farida Hatta, I Gusti Ayu Bintang Darmawati (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia), Ida Rachmawati Budi G. Sadikin (istri Menkes), Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Lisa Eka Putra (istri Bupati Tanah Datar).
Kemudian juga terlihat hadir sebagai undangan VVIP Ike Nirwan Bakrie, Ade Syarfuan
Putri Kuswisnu Wardani (Dewan Pertimbangan Presiden), Fasli Jalal (mantan Wamendiknas),
Lisda Hendrajoni (anggota DPR RI), Willy Aditya, (anggota DPR), Shinta Pahala Mansyuri (istri wamen BUMN), Irin Kartika Wirjoatmojo (istri wamen BUMN) dan Nies Martowardojo (istri mantan Gubernur BI).
Pendiri dan Ketua Umum Limpapeh Puan Puti Reno Sativa Sutan Anwar mengapresiasi pihak produser yang telah mengangkat kehidupan dan ketauladan Buya Hamka yang bernama asli H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo itu, seiring dengan meningkatnya dunia perfilman nasional saat ini.
“Sebagai panutan bagi masyarakat Indonesia, kita patut menyaksikan ketauladanan Buya Hamka dalam menjalankan Agama Islam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau yang berbudaya dalam menjalankan adat-istiadatnya. Dimana Tiga Tali Sapilin, atau Tiga Tungku Sajarangan, Adat basandi Sya’ra, dan Sya’ra Basandi Kitabbulah menjadi pegangan bagi kehidupan beliau,” kata Attitje Aryman, begitu dia akrab disapa, seusai nobar.
Film Buya Hamka ini dimainkan oleh Czech Symphony Orchestra dengan 41 orang pemain. Original scoring seorang Purwacaraka menjadikan film ini sebagai sebuah suguhan musik yang cukup berperan dalam film ini.
Menurut Purwacaraka seorang musikus dan komponis yang menggarap ilustrasi musik dalam film Buya Hamka mengatakan, bahwa musik yang dominan dibuat dalam bentuk full orchestra, untuk memberi nilai yang optimal sebagai sebuah karya seutuhnya.
“Walaupun berlatar belakang budaya Minang, musik dalam film ini tidak selalu harus bernuansa Minang. Yang penting bagaimana memberikan sentuhan serta gambaran bahwa sosok Buya Hamka adalah seseorang yang baik dan rendah hati, berbudi luhur, berperangai halus, pekerja keras, bertanggung jawab sebagai ulama dalam menjalankan keislamannya sesuai dengan pegangan Al- Qur’an dan Hadis dalam kehidupan kesehariannya, serta sekaligus sebagai penulis buku-buku sastra beraliran roman,” jelas Purwacaraka. (vand)













