Pendidikan

Pimpinan VII BPK RI Beri Kuliah Umum di Unand

477
×

Pimpinan VII BPK RI Beri Kuliah Umum di Unand

Sebarkan artikel ini
BPK
Pimpinan VII BPK RI Beri Kuliah Umum di Unand

PADANG, ONTIME.ID—Pimpinan VII Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia (RI) Hendra Susanto menekankan pentingnya seseorang menguasai “tacit knowledge” atau ilmu yang tidak diajarkan di sekolah bagi civitas Akademisi Universitas Andalas (Unand), Selasa (21/3/2023).

“‘Tacit knowledge’ adalah ilmu pengetahuan yang dikumpulkan dari pengalaman, dan pemahaman dalam konteks pribadi yang terinternalisasi dalam setiap individu,” ujarnya.

Hendra Susanto menyampaikan hal tersebut  saat memberikan kuliah umum bagi civitas akademisi  Unand dengan tema “Tacit Knowledge Developing Leadership and Capabilities to Achieve Your Ultimate Goals”.

Di hadapan mahasiswa Unand, ia mengatakan ‘tacit knowledge’ tidak akan ditemukan dalam buku pelajaran dan hanya bisa dilakukan pada saat tertentu atau mendesak.

“Secara pribadi, saya telah mengalami atau merasakan langsung ‘tacit knowledge’, ” ujarnya. 

Sebagai pejabat negara yang hampir setiap hari berkecimpung seputar pemeriksaan keuangan, ia mengaku, sama sekali tidak memiliki latar belakang keilmuan tentang akuntansi.

Namun, ia mengaku tetap bisa menjalankan amanah yang dipercayakan negara.

“Pada awalnya saya tidak mengerti apa itu akuntan, laporan keuangan dan sebagainya. Tapi setelah masuk ke BPK, saya jadi paham. Sebetulnya itu adalah ‘tacit knowledge’,” terangnya.

Dalam kuliah umumnya, ia berharap perjalanan karier tersebut hendaknya dapat dicontoh oleh para mahasiswa di Tanah Air, terutama bagi mahasiswa Unand.

Ia mengatakan mimpi, tekad, selalu ingin belajar, menjaga kejujuran, mengembangkan kapasitas dan jaringan menjadi modal utama hingga akhirnya berhasil berada di posisi saat ini.

Belajar dari Buya Hamka dan Hatta

Pimpinan VII Badan Pemeriksa Keuangan Negara (BPK) RI, Hendra Susanto meminta mahasiswa belajar dari sosok Buya Hamka dan Bung Hatta.

“Saya menginspirasikan Buya Hamka dan Bung Hatta dalam menggapai mimpi,” kata Hendra.

Bukan tanpa alasan Hendra mengidolakan dua sosok bapak bangsa tersebut.

Ia melihat bahwa Buya Hamka dan Bung Hatta bisa menjadi tokoh berpengaruh hingga saat ini karena perjuangan mereka di tengah keterbatasan.

Pimpinan VII BPK RI Beri Kuliah Umum di Unand

“Bayangkan saja, pada waktu itu belum ada teknologi internet, transportasi memadai, namun mereka sukses mewujudkan mimpi mereka membangun bangsa ini,” katanya.

Bahkan, katanya, perjalanan bangsa tidak terlepas dari lakek tangan kedua orang itu, selain nama besar lainnya dari Sumatera Barat (Sumbar), seperti Sutan Sjahrir.

Menurutnya, mahasiswa saat ini bisa belajar dari mana saja dan tidak terpaku kepada satu cabang keilmuan semata.

Pengalaman, katanya, merupakan pengetahuan yang dimiliki seseorang yang dikumpulkan dari pengalaman dan pemahaman dalam konteks pribadi yang terinternalisasi dalam setiap individu.

“Mahasiswa harus siap dengan apa yang hendak dituju dan dilakukan. Jika sudah siap, tidak ada alasan untuk tidak mampu bersaing,” katanya.

Ia juga memberikan tips kepada mahasiswa dalam meraih mimpi dan sukses.

Di antaranya, melatih diri sejak dini dan memiliki mimpi sejak kuliah dan selalu belajar dari siapapun.

Kemudian, memiliki aktivitas bermanfaat yang memiliki nilai kontribusi kepada keluarga, masyarakat dan Negara.

“Saya sejak dini membangun kemampuan, kapasitas, jaringan dan keinginan selalu belajar dari senior ataupun atasan,” kata pria kelahiran Lahat, Sumatera Selatan (Sumsel), 14 September 1972 silam itu.

Bahkan, katanya, dirinya bisa menjadi seorang pimpinan di BPK RI juga karena kemauan dan keberanian memulai sesuatu yang baru, mengingat dirinya yang berlatar belakang seorang Teknik Sipil.

“Siapa yang menyangka saya yang berlatar belakang Teknik Sipil bisa menjadi seorang pemeriksa di BPK RI, membawahi BUMN pula,” katanya.

Pemahaman penguasaan subject matter, katanya, menjadi kunci utama dalam keberhasilan pemeriksaan.

“Ilmu tertinggi dalam pemeriksaan adalah saat melakukan investigasi, perhitungan kerugian negara dan menjadi ahli di pengadilan,” ujarnya. (*/vand)