MENTAWAI, ONtime.ID — Suasana Pantai Mapadegat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, pada Selasa siang terasa berbeda dari biasanya. Aroma harum lobster bakar tercium dari berbagai sudut, bercampur riuh tepuk tangan dan sorak-sorai ribuan pengunjung.
Inilah momentum bersejarah bagi Mentawai Sajian Lobster 2025 dengan tema “Rancak Bana Mentawai, Seribu Rasa Seribu Cerita”, yang berhasil mengangkat kekayaan kuliner laut daerah ini ke panggung nasional.
Acara yang digagas Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai bekerja sama dengan sejumlah mitra ini menghadirkan perpaduan budaya, wisata, dan kuliner. Puncaknya adalah aksi masak 300 kilogram lobster segar oleh Chef kondang Bobon Santoso di area terbuka, tepat di bibir pantai, di hadapan ribuan penonton yang antusias mengabadikan momen dengan ponsel mereka.
Kehadiran Tokoh Penting
Hadir dalam acara tersebut Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Dr. Drs. Gatot Tri Suryanta, M.Si, Wakil Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy, Bupati Kepulauan Mentawai, dan Wakil Bupati Kepulauan Mentawai, Kapores Mentawai. Kehadiran para pejabat ini menjadi sinyal dukungan penuh terhadap pengembangan potensi kuliner dan pariwisata Mentawai sebagai bagian dari penggerak ekonomi daerah.
Dalam sambutannya, Wagub Vasco Ruseimy menegaskan bahwa Mentawai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata kelas dunia.
“Pantai yang indah, laut yang kaya, dan budaya yang unik adalah modal berharga. Dengan kreativitas seperti acara hari ini, Mentawai akan semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara,” ujarnya.
Kapolda Sumbar turut menyoroti keamanan dan kenyamanan wisatawan sebagai faktor kunci.
“Kami berkomitmen menjaga agar kegiatan pariwisata seperti ini berlangsung aman, tertib, dan menyenangkan. Potensi seperti lobster Mentawai ini adalah ikon yang patut dijaga,” katanya.
300 Kilogram Lobster, Rekor Kuliner di Mentawai
Bagian paling dinanti adalah sesi memasak raksasa. Chef Bobon Santoso yang dikenal dalam membuat sajian ekstrem memulai proses memasak dengan menggunakan tungku khusus dan peralatan masak berukuran besar, mereka mengolah lobster dengan berbagai bumbu khas Nusantara.
Bobon mengatakan, tantangan terbesar adalah mempertahankan kesegaran dan rasa alami lobster.
“Lobster Mentawai punya tekstur daging yang manis dan padat, berbeda dari kebanyakan lobster di tempat lain. Saya ingin rasa aslinya tetap menonjol, dengan sentuhan bumbu yang mengangkat cita rasa lautnya,” ungkapnya.
Dalam waktu kurang dari dua jam, ratusan kilogram lobster matang sempurna dan siap dibagikan. Sajian ini dibagikan gratis sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat dan promosi pariwisata daerah.
“Rancak Bana Mentawai, Seribu Rasa Seribu Cerita”
Tema yang diusung tahun ini mencerminkan semangat untuk memadukan kekayaan rasa dengan narasi budaya lokal. “Rancak Bana” yang berarti “sangat bagus” dalam bahasa Minang dipadukan dengan “Seribu Rasa Seribu Cerita” untuk menggambarkan keberagaman kuliner, budaya, dan kisah masyarakat Mentawai.
Bupati Kepulauan Mentawai Rinto Wardana dalam sambutannya mengatakan, kuliner adalah pintu masuk untuk mengenalkan identitas daerah.
“Melalui makanan, orang akan mengenal cerita kita. Lobster ini bukan sekadar hidangan laut, tetapi hasil kerja keras nelayan, kekayaan alam yang kita syukuri, dan bukti bahwa Mentawai siap menyambut wisatawan dengan rasa terbaik,” ujarnya.
Daya Tarik Wisata Kuliner dan Budaya
Selain pesta lobster, pengunjung disuguhi berbagai pertunjukan seni tradisional Mentawai, mulai dari tarian turuk laggai hingga musik tradisi yang menggema di tepi pantai. Aneka stan kuliner lokal juga berjejer, menawarkan makanan khas seperti ikan bakar, sagu, dan kue-kue tradisional.
Wisatawan lokal dan mancanegara tampak menikmati kombinasi panorama pantai dengan aktivitas kuliner. Beberapa turis asing mengaku sengaja datang setelah mendengar kabar tentang acara ini dari media sosial.
“Saya datang dari Australia, dan ini luar biasa. Lobster-nya segar sekali, dan suasananya penuh kehangatan,” kata Megan, salah satu turis yang hadir.
Dampak Ekonomi dan Harapan ke Depan
Acara ini diperkirakan menggerakkan ekonomi lokal secara signifikan. Dari pedagang makanan, penyedia jasa transportasi, hingga penginapan, semua merasakan dampak positif lonjakan kunjungan wisata. Kepala Dinas Pariwisata Mentawai mencatat, jumlah pengunjung di Pantai Mapadegat selama acara meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan hari biasa.
Wagub Vasco Ruseimy menegaskan bahwa kegiatan seperti ini akan menjadi agenda rutin, bahkan berpotensi masuk kalender pariwisata nasional.
“Kita akan jadikan Sajian Lobster ini sebagai brand tahunan. Tujuannya jelas: meningkatkan kunjungan wisata, membuka lapangan kerja, dan memperkuat citra Mentawai sebagai surga kuliner laut,” ucapnya.
Mentawai di Peta Wisata Kuliner Nasional
Dengan keberhasilan Sajian Lobster 2025, Mentawai kini menambah satu lagi alasan bagi wisatawan untuk berkunjung. Tidak hanya ombak untuk peselancar dunia, tetapi juga kuliner laut yang premium.
Chef Bobon Santoso bahkan menyarankan agar lobster Mentawai dipromosikan dengan label khusus.
“Kalau Jepang punya wagyu, Mentawai punya lobster yang kualitasnya tidak kalah. Bayangkan jika ini dipasarkan secara global dengan identitas yang kuat, dampaknya bisa luar biasa,” katanya menutup sesi wawancara.
Sajian Lobster 2025 bukan sekadar pesta makan di tepi pantai. Ini adalah perayaan identitas, wujud sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh kuliner, dan masyarakat dalam mengangkat potensi lokal. Dengan kombinasi panorama alam, budaya, dan cita rasa laut, Mentawai kian mantap menempatkan dirinya di peta pariwisata dan kuliner nasional.
Jika tahun ini 300 kilogram lobster menjadi rekor baru, siapa tahu tahun depan angka itu akan berlipat ganda dan Mentawai akan semakin harum namanya di seluruh penjuru dunia. (*)













