Peristiwa

Listrik Padam, Masyarakat Sumbar Geram

441
×

Listrik Padam, Masyarakat Sumbar Geram

Sebarkan artikel ini
PLN
Listrik Padam, Masyarakat Sumbar Geram

PADANG, ONTIME.ID—Pemadaman listrik selama berjam-jam yang terjadi pada Selasa (4/6) dan Rabu (5/6) telah membuat 600.000 lebih pelanggan PLN di Sumatera Barat (Sumbar) menjerit. Minimnya sosialisasi dan informasi terkait pemadaman tersebut telah berdampak pada kerugian ekonomi yang tidak sedikit.

Dari pantauan ONtime.ID pada Selasa(4/6) malam, di sepanjang jalan utama Jati-Gunung Pangilun hingga Siteba, pusat Kota Padang yang biasanya ramai perniagaan, tampak gelap gulita. Sejumlah pedagang memilih menutup tokonya lebih awal. Sebagian kecil memakai genset atau lilin sebagai penerangan, yang tentunya juga tidak memadai untuk memaksakan berjualan. Harian Umum ONtime.ID pun tak luput dari dampak pemadaman, bahkan terpaksa gagal cetak.

Banyak UMKM dan pedagang yang juga terdampak pemadaman listrik. Salah satunya Raindrop Laundry yang menawarkan jasa cuci pakaian di Kampung Olo, Kota Padang. Admin Raindrop Laundry, Wulan mengatakan, omzet jasa cuci pakaiannya turun hampir 30 persen dari hari biasanya.

“Pemadaman listrik sangat berdampak dengan usaha kami karena antrean cucian yang harusnya bisa dicuci terpaksa ditunda. Hampir 25 kg cucian yang terbengkalai akibat listrik padam. Belum lagi cucian yang masuk hari ini (kemarin, red),” ujar Wulan, Rabu (5/6).

Ia mengatakan, akibat pemadaman listik hampir selama delapan jam yang terjadi di tempatnya, banyak konsumen pengguna jasa cuciannya mengeluh karena pakaiannya belum bisa diambil. Apalagi Raindrop Laundry menawarkan jasa cuci pakaian dua jam selesai dan tidak menggunakan lampu emergency. Oleh karena itu, Wulan terpaksa menjelaskan kepada konsumen satu per satu untuk dimaklumi.

“Ada beberapa konsumen yang komplain karena pakaiannya belum siap dan beralih ke jasa binatu lain. Namun ada juga yang memaklumi karena pemadaman listrik ini merata di Kota Padang,” ujarnya.

Wulan berharap aliran listrik di Kota Padang dapat kembali normal, menimbang banyaknya setoran cucian masuk yang harus dikerjakan. Di samping itu, ia juga berharap pihak PLN memberi kompensasi atas pemadaman listrik ini.

Tidak hanya jasa cuci pakaian, pemadaman juga berdampak terhadap usaha depot isi ulang air minum di kawasan Berok, Nanggalo, Kota Padang. Omzet penjualan isi ulang air minum galon turun hingga mencapai hampir 80 persen dari hari biasanya.

“Jika hari normal rata-rata kami bisa menjual air minum ini sampai 150 galon. Namun karena pemadaman listrik ini kami hanya menjual 20 galon saja,” ujar karyawan Queen Water Treatment, Aldo.

Aldo mengatakan, pada Selasa (4/6) listrik padam sebanyak dua kali dalam sehari, mulai dari pagi sekitar jam 10.00 WIB hingga siang, lalu kembali padam pada sore hari hingga malam. Ia mengaku tidak tahu penyebab pasti listrik padam yang terjadi secara merata di Kota Padang. “Biasanya listrik padam ini tidak berlangsung lama. Kalaupun padam tapi tidak lama dan hanya sebentar,” ujarnya.

Ia juga berharap dengan kejadian listrik padam ini pihak PLN memberikan kompensasi karena kejadian ini sangat mengganggu kegiatan bisnisnya.

Sementara itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan telah berkoordinasi dengan PLN UID Sumbar agar insiden pemadaman listrik total menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada berbagai kebutuhan dan aktivitas masyarakat. “Saya sudah berkoordinasi dengan PLN, dan PLN menyampaikan akan bekerja optimal untuk kembali memulihkan jaringan listrik di Sumbar,” ujar Gubernur.

Mahyeldi menegaskan dengan kondisi Sumbar yang selama ini surplus aliran listrik seharusnya pemadam total tidak terjadi. Oleh karena itu, PLN diminta segera mencari solusinya.

 

PLN Belum Siap

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Andalas (Unand), Dr. Aidil Zetra menilai, kejadian pemadaman listrik ini mengindikasikan bahwa PLN sebagai perusahaan penyedia listrik tunggal, belum siap untuk mengatasi secara tuntas segala permasalahan kelistrikan di Indonesia.

“Apapun alasannya, ini mengindikasikan bahwa kita masih belum memiliki infrastruktur kelistrikan yang mumpuni. Ini bisa saja disebabkan karena minimnya perawatan alat maupun faktor lainnya,” ujarnya kepada ONtime.ID, Rabu (5/6).

Dengan adanya kejadian seperti ini, menurutnya pemerintah perlu melakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap kinerja PLN serta mengambil langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kualitas layanan kelistrikan.

Aidinil Zetra menegaskan, langkah ini merupakan suatu keharusan untuk memastikan masyarakat selaku konsumen mendapatkan pemenuhan hak dasarnya sebagai warga negara untuk mendapatkan layanan listrik yang aandal dan terjangkau.

Satu hal yang mesti segera dilakukan pemerintah untuk mencegah terulangnya kejadian yang menimbulkan kerugian luar biasa bagi berbagai sektor perekonomian masyarakat ini adalah menjamin terus dilakukannya peningkatan kualitas layanan kelistrikan.

“Caranya adalah seperti dengan meningkatkan investasi untuk infrastruktur kelistrikan dan membangun pembangkit listrik baru. Termasuk membanung sistem transmisi jaringan listrik yang lebih modern atau menyiapkan sistem cadangan kelistrikan yang memadai,” tuturnya.

Di samping itu, Aidinil Zetra juga mendorong PLN untuk senantiasa terus berbenah, baik dalam segi peningkatan profesionalisme jajaran maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lewat berbagai pelatihan dan pendidikan berkelanjutan. “Saya yakin PLN mampu untuk melakukan itu. Dan itu membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah agar layanan PLN menjadi semakin berkualitas,” ucapnya.

Sementara dari sisi regulasi, untuk memastikan PLN bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan profesional, peran badan pengawasan kelistrikan nasional perlu terus diperkuat.

“Nah jika PLN mampu  menjalankan tugasnya untuk menghadirkan layanan listrik yang aman, nyaman terjangkau dan murah bagi masyarakat, saya kira PLN juga layak diberikan reward.  Intinya, pemerintah harus melakukan langkah-langkah evaluasi dan pembenahan konkret terhadap PLN,” katanya.

 

Berikan Kompensasi Diskon 10 Persen

General Manager Unit Induk Distribusi (UID) Sumbar, Eric Rossi Priyo Nugroho menyebut, bakal ada kompensasi berupa pengurangan biaya beban 10 persen. Kebijakan ini sebagai bentuk pertanggungjawaban PLN terhadap pemadaman listrik yang terjadi di wilayah Sumbar. “Ada kompensasi pengurangan biaya 10 persen nanti di awal bulan baru. Ada datanya yang mana saja yang sudah dipadamkan 8 jam,” ujar Eric, Rabu (5/6) pagi.

Ia menambahkan, sampai saat ini PLN juga belum memastikan apa yang menjadi penyebab matinya lampu di pulau Sumatera. “Penyebab detailnya belum ada, tapi semua di Sumatera terdampak. Kepri dan Babel juga terdampak karena mayoritas satu aliran,” ucapnya.

Oleh karena itu, PLN menyampaikan permohonan maaf dan mengklaim pihaknya telah menurunkan ratusan personel dalam mempercepat pemulihan ini.

“Kejadiannya kemarin dan dalam investigasi. Pada pukul 22.57 WIB di jalur transmisi Lahat-Lubuk Linggau dilakukan inspeksi kurang lebih rentang jarak 90 km, di mana di situ terdapat hampir 300 tower. Kendala saat malam terhalang visibilitas dan tidak terlihat, sekitar 200-an yang sudah selesai diinspeksi. Kemudian dilanjutkan kembali pagi harinya,” tuturnya.

Eric menambahkan untuk startup, PLTU milik PLN membutuhkan waktu lama, yakni sekitar 8 jam. Sehingga untuk pemulihannya butuh waktu bertahap.

Ia melanjutkan, apabila masih harus dilakukan pemadaman dalam rangka proses pemulihan jaringan, maka PLN tidak akan memadamkan listrik kepada pelanggan yang sudah terdampak lebih dari 8 jam. “Pemadaman akan dialihkan ke pelanggan lain,” ucapnya.

PLN menyampaikan, permohonan maaf atas kondisi ini. Ia mengaku pihaknya terus bergerak cepat melakukan pemulihan dari sisi pembangkit, transmisi, dan distribusi serta melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait. (vand)