DHARMASRAYA, ONTIME.ID—Kenaikan harga daging segar ditambah dengan maraknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), usaha rendang ikut terimbas.
Salah satunya usaha Randang Bundo milik Endri Yuni di Kabupaten Dharmasraya, yang terpaksa harus berhenti produksi untuk sementara.
Endri Yuni yang juga guru kesenian di salah satu SMPN di Dharmasraya ini, biasanya menjual rendang per kilogramnya Rp300 ribu dengan biaya produksi Rp250 ribu.
Tetapi semenjak harga daging mencapai Rp150-170 ribu per kilogramnya, ditambah lagi dengan harga bahan lainnya seperti santan, cabai dan bawang juga naik, ia tidak sanggup lagi untuk produksi karena tidak tega menaikkan harga kepada konsumennya.
Selain kenaikan harga daging, harga santan yang biasanya Rp12 ribu per kilogram, sekarang mencapai Rp14 ribu per kilogram. Harga cabai merah keriting biasanya Rp20 ribu, sekarang sudah mencapai Rp50 ribu.
Kemudian harga bawang kampung biasanya Rp15-20 ribu per kilogram, sekarang mencapai Rp45 -50 ribu per kilogram. Belum harga yang lainnya, seperti minyak goreng.
“Apalagi saat ini dengan berjangkitnya PMK di Sumbar, orang bertambah tidak mau lagi untuk makan daging. Kalua boleh katanya, istilah sudahlah jatuh ditimpa tangga pula, itulah yang tepat untuk pengusaha rendang,” ujarnya, Senin (30/5).
Padahal katanya, Randang Bundo buatannya sudah menjajal kemana mana di seluruh Indonesia, untuk Pulau Sumatera sudah semua wilayah, begitu pula Pulau Jawa dan bahkan sudah sampai ke pulau pulau lainnya.
Ia berharap, meskipun usaha ini usaha menambah gaji, pemerintah segera mengambil langkah langkah kongkrit terutama untuk menurunkan harga kebutuhan pokok. (*/red)











