TEHERAN, ONtime.ID — Arab Saudi mengambil langkah tegas dengan mengusir atase militer Iran beserta empat staf kedutaannya, serta memberikan tenggat 24 jam untuk meninggalkan wilayah kerajaan. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya eskalasi konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Dalam pernyataan resmi pada Sabtu (21 Maret), Kementerian Luar Negeri Saudi menetapkan atase militer Iran, asistennya, serta tiga anggota staf misi sebagai persona non grata. Istilah ini merujuk pada status diplomatik bagi individu yang tidak lagi diterima di negara tuan rumah.
Langkah pengusiran ini disebut sebagai respons langsung atas serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Iran. Sejak konflik memanas pada akhir Februari, otoritas Saudi menuduh Teheran melancarkan ratusan serangan rudal dan drone ke wilayahnya, termasuk ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
[irp posts=”34926″ ]
Sebagian besar serangan dilaporkan berhasil dicegat, namun tidak seluruhnya dapat dihalau. Fasilitas energi di kawasan timur Saudi menjadi target berulang, sementara ibu kota Riyadh juga ikut terdampak. Bahkan, awal bulan ini dua drone dilaporkan jatuh di sekitar area Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan diplomatik.
Gangguan signifikan terbaru terjadi di pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Aktivitas pemuatan minyak sempat terhenti setelah sebuah drone jatuh di dekat fasilitas pengolahan SAMREF—kilang patungan antara Aramco dan ExxonMobil. Yanbu sendiri kini menjadi jalur vital ekspor minyak Saudi, terutama setelah ketegangan di Selat Hormuz menghambat arus tanker.
Pemerintah Saudi mengecam keras serangan tersebut dan menilainya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kedaulatan negara, serta norma hubungan bertetangga. Riyadh juga menyebut tindakan Iran bertentangan dengan komitmen diplomatik sebelumnya, termasuk kesepakatan yang dimediasi Beijing untuk meredakan ketegangan bilateral.
[irp posts=”34922″ ]
Menteri Luar Negeri Faisal bin Farhan Al Saud menegaskan bahwa kepercayaan terhadap Iran telah “hancur”, dan menekankan hak kerajaan untuk mempertahankan diri dari ancaman eksternal.
Langkah Saudi ini mengikuti tindakan serupa oleh Qatar yang lebih dahulu mengusir pejabat militer Iran dari Doha, setelah serangan rudal menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas gas alam cair Ras Laffan.
Situasi ini menandai kemunduran tajam dalam hubungan Saudi-Iran yang sebelumnya sempat mencair melalui kesepakatan diplomatik beberapa tahun lalu. Dengan meningkatnya intensitas serangan dan respons balasan, kawasan Timur Tengah kini menghadapi risiko eskalasi konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan. (*)
[irp posts=”34919″ ]













