Internasional

Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz 48 Jam, Ancam Serang Infrastruktur Energi

159
×

Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz 48 Jam, Ancam Serang Infrastruktur Energi

Sebarkan artikel ini
Trump
Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz 48 Jam, Ancam Serang Infrastruktur Energi

WASHINGTON, ONtime.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Iran untuk segera membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Jika tuntutan tersebut diabaikan, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran, termasuk pembangkit listrik utama.

Ancaman itu disampaikan melalui akun Truth Social miliknya, Minggu (22/3), di tengah eskalasi konflik yang semakin tajam di kawasan Timur Tengah.

“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam 48 jam, maka AS akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar,” tulis Trump.

Ultimatum ini muncul tak lama setelah Iran melancarkan serangan besar ke wilayah Israel, termasuk ke kawasan Dimona yang dikenal sebagai lokasi fasilitas nuklir strategis. Serangan tersebut disebut sebagai yang paling destruktif sejak konflik pecah beberapa pekan lalu.

[irp posts=”34916″ ]

Menurut laporan lapangan, dua rudal Iran menghantam wilayah selatan Israel dan melukai lebih dari 100 orang. Di kota Arad, 84 orang dilaporkan terluka, dengan 10 di antaranya dalam kondisi serius. Sementara itu, 33 orang lainnya terluka di Dimona. Serangan ini bahkan dilaporkan mampu menembus sistem pertahanan rudal Israel, meninggalkan kerusakan signifikan pada bangunan dan menciptakan kawah besar.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan pihaknya akan membalas serangan tersebut “di semua front,” menandai potensi eskalasi konflik yang lebih luas.

Di tengah tekanan militer dan diplomatik, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pembatasan di Selat Hormuz hanya diberlakukan terhadap kapal dari negara-negara yang terlibat dalam serangan terhadap Iran. Ia menegaskan kapal dari negara netral tetap dapat melintas dengan bantuan otoritas Iran.

Sementara itu, militer Iran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energinya akan dibalas dengan menargetkan fasilitas energi dan instalasi desalinasi milik AS serta sekutunya di kawasan.

[irp posts=”34913″ ]

Situasi ini berkembang cepat setelah sebelumnya Trump mengisyaratkan kemungkinan mengakhiri operasi militer yang telah berlangsung selama tiga pekan. Namun, dengan jalur minyak global yang masih terganggu dan tambahan pasukan AS yang dikerahkan ke Timur Tengah, arah kebijakan Washington kini kembali mengeras.

Ketegangan di Selat Hormuz jalur vital distribusi energi dunia menjadi pusat perhatian global. Setiap eskalasi di kawasan ini berpotensi mengguncang pasar energi internasional dan memperluas konflik ke skala yang lebih besar. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID