IRAN, ONtime.ID — Kebijakan Iran yang menerapkan blokade selektif di Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global. Dalam situasi konflik yang memanas, Teheran hanya mengizinkan kapal dari negara-negara tertentu untuk melintas, sementara akses bagi pihak lain dibatasi secara ketat.
Langkah ini menempatkan Iran pada posisi strategis. Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dunia, sehingga setiap pembatasan langsung berdampak pada pasar energi global. Penutupan total selat ini bahkan berpotensi memicu krisis energi berskala internasional.
Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah mendesak Iran untuk membuka jalur tersebut. Sementara itu, negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris menyatakan kesiapan untuk menjaga keamanan pelayaran di kawasan itu.
Di sisi lain, sejumlah negara Asia seperti China, India, dan Pakistan memilih jalur diplomasi langsung dengan Teheran. Hasilnya, kapal-kapal dari negara tersebut termasuk yang mendapat akses khusus untuk melintas.
[irp posts=”34901″ ]
Laporan Lloyd’s List menyebut setidaknya sembilan kapal telah keluar dari Teluk melalui koridor yang melintasi perairan Iran di sekitar Pulau Larak. Jalur ini memungkinkan otoritas Iran memantau pergerakan kapal secara ketat.
Pemimpin redaksi Lloyd’s List, Richard Meade, mengungkap adanya pola navigasi yang jelas dari kapal-kapal yang diizinkan melintas. Sementara itu, lembaga intelijen maritim Windward mencatat sejumlah kapal memilih berlayar dekat garis pantai Iran, alih-alih menggunakan jalur internasional standar.
Analisis Financial Times menunjukkan bahwa akses terbatas ini tidak lepas dari hubungan komersial sebelumnya dengan Iran. Sejumlah kapal yang diizinkan melintas diketahui pernah berlabuh di pelabuhan Iran, menandakan adanya preferensi berbasis relasi ekonomi.
Kapal-kapal yang melintas terdiri dari tanker minyak dan kapal kargo dari India, Pakistan, hingga Yunani, serta armada Iran sendiri. Namun, sebagian pergerakan kapal lain diduga tidak terdeteksi karena mematikan sistem pelacakan, menimbulkan kekhawatiran soal transparansi di jalur maritim tersibuk dunia itu.
[irp posts=”34898″ ]
Di tengah situasi ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka—namun hanya bagi pihak yang tidak dianggap sebagai musuh.
“Selat Hormuz tertutup bagi pihak yang melakukan agresi terhadap Iran,” ujarnya.
Dampak bagi Indonesia
Bagi Indonesia, situasi ini membawa risiko tidak langsung namun signifikan. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi global. Jika akses pelayaran dibatasi atau biaya logistik meningkat akibat konflik, harga minyak dunia berpotensi melonjak.
Selain itu, ketidakpastian jalur distribusi dapat memengaruhi rantai pasok energi nasional, termasuk bahan bakar dan gas. Meski Indonesia tidak termasuk dalam daftar negara yang disebut mendapat akses khusus, hubungan diplomatik yang relatif netral dapat menjadi faktor penentu dalam menjaga kelancaran pasokan.
Blokade selektif ini juga mencerminkan perubahan lanskap geopolitik maritim, di mana kontrol atas jalur perdagangan menjadi alat tekanan strategis. Dalam kondisi ini, Indonesia dituntut memperkuat diplomasi energi sekaligus mengantisipasi gejolak harga global yang bisa berdampak pada ekonomi domestik. (*)
[irp posts=”34895″ ]













