Padang

Empat Orang Minang Berpeluang Masuk Kabinet Prabowo-Gibran

1988
×

Empat Orang Minang Berpeluang Masuk Kabinet Prabowo-Gibran

Sebarkan artikel ini
Prabowo
Empat Orang Minang Berpeluang Masuk Kabinet Prabowo-Gibran

PADANG, ONtime.ID – Empat orang tokoh nasional asal Sumatra Barat (Sumbar) dipanggil presiden terpilih Prabowo Subianto ke kediamannya di Kartanegara sejak beberapa hari terakhir.

Pemanggilan ini berkaitan dengan proses penyusunan kabinet jelang pelantikan Prabowo  sebagai presiden ke delapan Republik Indonesia pada Minggu 20 Oktober mendatang. Keempat putra terbaik Sumbar yang telah mendapatkan undangan khusus dari Presiden terpilih Prabowo Subianto tersebut, diantaranya adalah Fadli Zon, Hasan Nasbi, Yassierli, serta Donny Oskaria.

 

Fadli Zon adalah putra asli Kabupaten Lima Puluh Kota. Ia disebut-sebut akan diplot sebagai Menteri Kebudayaan. Sementara Hasan Nasbi, putra asli kelahiran Kota Bukittinggi, bakal diplot untuk menduduki kursi Kepala Kantor Staf Komunikasi Presiden.

 

Kemudian ada juga nama Yassierli, Guru Besar Institut Teknologi (ITB)  kelahiran Kota Padang. Sosok ini direkomendasikan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menduduki posisi Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) di kabinet Prabowo-Gibran.

 

Terakhir Donny Oskaria, Direktur Utama InJourney kelahiran Nagari Tanjuang Alam, Kabupaten Tanah Datar. Dia  dikabarkan diplot  menduduki kursi Wakil Menteri (Wamen) Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Jika tidak ada aral melintang,  empat putra terbaik Sumbar ini akan dilantik sebagai Menteri dan Wakil Menteri di jajaran Kabinet Prabowo-Gibran.

 

Pengamat Politik dari Universitas Andalas (Unand), Prof Asrinaldi, menyebut, masuknya empat nama putra terbaik Sumbar dari kalangan profesional dalam kabinet Prabowo-Gibran, sesuai dengan janji kampanye Prabowo untuk membentuk zaken kabinet yang diisi kalangan profesional.

 

“Saya pikir ini sesuai dengan dengan janji Prabowo untuk membentuk zaken kabinet  pemerintahannya dari kalangan profesional,” ujarnya.

 

Disamping mengangkat menteri dari kalangan profesional, pada proses penyusunan kabinet kali ini, Asrinaldi menilai Prabowo juga mempertimbangkan aspek  keterwakilan dari kelompok etnis yang berasal dari wilayah bagian timur Indonesia seperti Papua, Maluku, atau Nusa Tenggara Timur NTT.

 

“Nah, masuknya nama Fadli Zon, saya pikir bukan karena status dia sebagai orang Minang, tapi lebih kepada posisinya sebagai kader Gerindra yang dianggap kompeten dalam bidang kebudayaan sehingga dianggap pantas di plot sebagai Menteri Kebudayaan,” ucapnya.

 

Asrinaldi juga membenarkan setelah era Gamawan Fauzi yang pernah diangkat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri), nyaris tidak ada lagi tokoh asal Sumbar yang menonjol secara signifikan di panggung kepemimpinan nasional.

 

Hal itu kata dia, tidak terlepas dari kenyataan bahwa telah terjadi semacam gejala krisis kepemimpinan di tingkat lokal Sumbar yang berujung dengan  absennya tokoh Sumbar di panggung kepemimpinan nasional sejak beberapa tahun terakhir. “Terkait krisis kepemimpinan, saya pikir itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Sebab mestinya kepemimpinan nasional itu mesti dimulai dari kepemimpinan lokal, baik itu dari wali kota, bupati maupun gubernur,” ujarnya.

 

Asrinaldi menilai, keputusan Mantan Presiden SBY mengangkat Mantan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi sebagai Mendagri, cukup menarik dan pantas untuk ditiru. Sebab faktanya, Gamawan Fauzi memang merupakan seorang tokoh birokrat  lokal kompeten  berpengalaman non partai yang sangat luar biasa. Baik dalam segi gagasan, pemikiran maupun kinerja. “Makanya dalam konteks Pilkada itu yang dibutuhkan itu adalah pemimpin -pemimpin lokal yang memang dipilih karena kompetensinya. Sekarang itu yang lupa dilakukan Parpol,” katanya.

 

Perlu diingat, tegas dia,  Gamawan Fauzi sendiri sejatinya bukanlah  seorang kader partai politik. Melainkan adalah seorang birokrat berpengalaman yang akhirnya diangkat menjadi seorang Menteri di era kepemimpinan Presiden SBY.

 

Langkah SBY mengangkat figur pemimpin lokal berkompeten sekaliber Gamawan Fauzi itu pun, kata Asrinaldi, sepertinya juga ditiru  Presiden terpilih Prabowo Subianto dengan memanggil Mantan Bupati Banyuwangi dua periode yang juga merupakan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) era Presiden Joko Widodo yakninya  Abdullah Azwar Anas.

 

“Abdullah Azwar Anas yang juga dipanggil Prabowo ke Kartanegara baru-baru ini juga seorang Mantan Bupati. Menurut saya hal seperti ini sangat bagus. Munculnya tokoh-tokoh daerah seperti ini sangat penting  disiapkan dalam Pilkada,” tegasnya.

 

Mudah- mudahan, lanjut Asrinaldi, sosok-sosok birokrat berkompeten seperti Gamawan Fauzi dan Abdullah Azwar Anas ini terus bermunculan sehingga kedepannya figur yang muncul tidak hanya berasal dari kalangan Parpol saja.

 

“Tapi juga muncul para birokrat  unggul dan dicalonkan parpol sehingga figur-figur semacam ini akan berpeluang untuk mengisi kepemimpinan nasional. Merit System atau kompetensi harus menjadi pertimbangan Presiden dalam pemilihan para Menteri pendampingnya,” pungkasnya.

 

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menyebut, masuknya empat nama tokoh nasional asal Sumatra Barat dalam susunan kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran  merupakan indikasi  Prabowo punya banyak variabel pertimbangan  dalam memilih dan mengangkat  para menteri yang akan membantunya menjalankan roda pemerintahan selama lima tahun ke depan.

 

Berdasarkan draft komposisi calon Menteri kabinet Prabowo-Gibran yang beredar saat ini, Arifki menilai Prabowo lebih mempertimbangkan variabel faktor latar belakang calon menteri daripada faktor kewilayahan.

 

“Komposisi kabinet Prabowo cukup menarik,  komposisinya cukup kompleks. Ada kombinasi orang parpol, kalangan Profesional yang direkomendasi parpol, hingga ulama NU dan Muhammadiyah,” ujarnya.

 

Ia menilai hal ini sangat lah wajar. Mengingat memang sudah seharusnya pengangkatan menteri disesuaikan dengan kebutuhan Presiden terpilih.  Jika  faktor tanah kelahiran dijadikan Prabowo sebagai dasar pertimbangan pengangkatan Menteri, seharusnya, sangat  mustahil akan ada tiga Calon Menteri serta satu Calon Wamen  asal Sumbar yang dipanggil ke Kartanegara.

 

“Sebab pada  Pilpres 2024 lalu, Sumbar  tidak menjadi kantong kemenangan pasangan Prabowo-Gibran dan malah menjadi daerah yang memenangkan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Ini mengindikasikan Prabowo memang ingin membentuk zaken kabinet,” ujarnya.

 

Arifki mencontohkan, ada dua orang Calon Menteri dan Wakil Menteri yang berasal dari Sumatra Barat. Yaitu Fadli Zon yang berpotensi di plot sebagai Menteri Kebudayaan dan Donny Oskaria yang disebut-sebut akan didapuk sebagai Wakil Menteri BUMN.

 

Sosok Fadli Zon, memang merupakan salah satu tokoh sentral di Partai Gerindra. Namun demikian, figur ini juga kompeten di bidang kebudayaan sehingga dianggap cocok dan pantas untuk menduduki kursi Menteri Kebudayaan.

 

“Fadli Zon itu dipilih bukan karena dia orang Sumbar, tetapi karena dia adalah Kader Gerindra potensial yang sejak awal sudah loyal bersama Prabowo, keberadaan Fadli Zon secara tidak langsung juga akan menjadi suatu keuntungan bagi orang Minang,“ katanya.

Begitupun dengan Donny Oskaria, Direktur Utama InJourney kelahiran Nagari Tanjuang Alam Kabupaten Tanah Datar ini, jelas berasal dari kalangan profesional yang dianggap pantas mengisi kursi Wamen BUMN.

“Artinya, penentuan kabinet itu  bukan hanya soal dia orang Minang atau tidak, tapi juga ada faktor wilayah, kelompok. Dukungan parpol dan lain sebagainya,” terangnya.

 

Selain mempertimbangkan faktor latar belakang calon menteri, kabinet Prabowo juga mengakomodir orang-orang Presiden Joko Widodo, kader-kader partai Koalisi Indonesia Maju (KIM) plus kader PKB dan PKS yang dikabarkan telah merapat.

 

“Memang di awal pemerintahan biasanya memang seperti itu dan nanti kedepannya pasti akan terjadi perubahan reshuffle dan lain sebagainya.” Tambahnya.

 

Secara ketokohan, sambung Arifki sebenarnya banyak sekali  tokoh Minang yang berkualitas dan berkompeten untuk mengisi posisi kepemimpinan nasional. Namun demikian, tidak semua dari mereka mendapatkan ruang dan akses.

 

“Apalagi kontribusi orang Minang memenangkan Prabowo juga tidak ada. Malah jika itu dilakukan, akan ada potensi kecemburuan dari daerah lain karena Sumbar justru tidak banyak berkontribusi memenangkan Prabowo pada Pilpres lalu. Tentu orang yang berjuang berdarah-darah dan berjasa sejak awal akan menjadi prioritas,” katanya.

 

Dalam realitas politik multi partai Indonesia saat ini, Arifki  menekankan definisi zaken kabinet Prabowo tidak bisa dipahami bulat-bulat sebagai kabinet yang hanya diisi oleh kalangan profesional. Sebab kenyataannya,  Presiden juga butuh para Menteri profesional yang punya dukungan kuat di parlemen.

 

“Kalau dia profesional tapi tak punya dukungan politik di parlemen bagaimana caranya dia akan bertarung di parlemen untuk menggolkan anggaran atau sebagainya,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Sumatra Barat Leadership Forum (SBLF) My Riset & Consultant, Edo Andrefson, menyebut,  masuknya tiga nama Calon Menteri dan satu Calon Wakil Menteri yang berasal dari Sumbar di jajaran Kabinet Prabowo-Gibran merupakan kabar bahagia bagi masyarakat Sumbar.

 

“Sebab selama sepuluh tahun terakhir kepemimpinan Presiden Joko Widodo, sangat sedikit tokoh Sumbar yang diberikan kesempatan untuk berada di pentas kepemimpinan Nasional,” ujarnya, Selasa (15/10).

 

Edo mengatakan, tiga calon menteri dan satu calon Wamen yang berasal dari Sumbar ini, merupakan putra terbaik Ranah Minang. Keempatnya memang benar-benar tulen berdarah Sumbar. “Keempatnya tulen Sumbar, bukan naturalisasi.  Hasan Nasbi kelahiran Bukittinggi, Dony Oskaria Tanah Datar, Yassirli Padang dan Fadli Zon Limapuluh Kota. Kita berharap kehadiran mereka di kabinet Prabowo-Gibran akan memberikan dampak positif bagi Sumatra Barat,” ucapnya.

 

Berdasarkan draft calon menteri dan wakil Menteri Prabowo-Gibran yang telah beredar di masyarakat saat ini, lanjut Edo, susunan komposisi kabinet Prabowo-Gibran belum dapat dikatakan sepenuhnya menjadi zaken kabinet.

 

Sebab kenyataanya, daftar nama calon Menteri dan Wakil Menteri yang beredar saat ini, masih didominasi oleh jajaran petinggi Parpol pendukung pasangan Prabowo-Gibran pada Pilpres lalu. Kursi menteri terbanyak, terlihat didapatkan Partai Golkar yang memperoleh sekitar tujuh sampai delapan kursi Menteri. “Kemudian Gerindra 5 kursi, PKB 1 kursi, PSI 1 kursi dan PKS 1 kursi. Kalau memang zaken kabinet, jumlah kursi untuk parpol tentu akan lebih sedikit daripada kursi untuk kalangan profesional” ungkapnya.

 

Hal menarik lainnya dari susunan komposisi calon Menteri Prabowo-Gibran yang beredar, lanjut Edo, adalah adanya kecenderungan Prabowo untuk mengangkat orang-orang yang dianggap Famous atau terkenal seperti dari kalangan artis.

 

“Untuk posisi Wamen rata-rata diisi artis. Raffi Ahmad, Giring Nidji dan lain sebagainya. Rata-rata adalah orang yang sudah familiar di televisi dan Prabowo tidak susah-susah lagi untuk mencari pamor kementriannya. Jadi kalau dikatakan zaken kabinet saya rasa belum sepenuhnya,” pungkasnya. (*)