WASHINGTON, ONtime.ID — Gedung Putih secara tegas membantah klaim bahwa militer Amerika Serikat telah mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Bantahan ini muncul setelah unggahan Menteri Energi AS, Chris Wright, di media sosial yang menyebut adanya pengawalan militer AS di selat tersebut tiba-tiba dihapus hanya sekitar setengah jam setelah dipublikasikan.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa hingga saat ini Angkatan Laut AS tidak melakukan pengawalan terhadap kapal tanker atau kapal dagang yang melintasi jalur tersebut.
“Saya dapat mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal apa pun saat ini,” kata Leavitt. Ia menambahkan bahwa opsi pengawalan militer tetap terbuka jika diperlukan, sesuai pernyataan Presiden AS.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur maritim vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Lebih dari 20 persen pasokan minyak dunia melewati perairan sempit yang berada di antara Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab tersebut. Ketegangan geopolitik membuat jalur ini selalu menjadi perhatian pasar energi global.
[irp posts=”34664″ ]
Unggahan yang Memicu Kontroversi
Kontroversi bermula ketika Wright mengunggah pernyataan yang menyebut sebuah kapal tanker berhasil melewati Selat Hormuz berkat pengawalan militer AS. Dalam unggahannya, ia bahkan memuji kepemimpinan Donald Trump atas stabilitas pasokan energi global.
“Presiden Trump menjaga stabilitas energi global selama operasi militer melawan Iran. Angkatan Laut AS berhasil mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz untuk memastikan minyak tetap mengalir ke pasar global,” tulis Wright dalam unggahan tersebut.
Namun, pesan itu segera dihapus tanpa penjelasan resmi, memicu spekulasi luas mengenai situasi keamanan di jalur energi global tersebut.
Leavitt menyatakan unggahan itu telah dihapus “cukup cepat” dan mengaku belum sempat berbicara langsung dengan Wright mengenai alasan di balik publikasi pesan tersebut.
[irp posts=”34661″ ]
Iran Tuding Informasi Palsu
Pemerintah Iran langsung merespons kontroversi tersebut dengan tudingan bahwa unggahan yang dihapus itu merupakan bentuk informasi menyesatkan untuk memengaruhi pasar minyak global.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut pejabat AS telah menyebarkan berita palsu untuk memanipulasi situasi pasar energi.
“Pejabat AS memposting berita palsu untuk memanipulasi pasar. Itu tidak akan melindungi mereka dari tsunami inflasi yang mereka sebabkan terhadap rakyat Amerika,” tulis Araghchi melalui media sosial.
Ia juga memperingatkan bahwa pasar minyak global saat ini menghadapi potensi kekurangan pasokan besar yang menurutnya bahkan bisa melampaui krisis energi sebelumnya seperti embargo minyak Arab atau invasi Kuwait.
Ketegangan Militer dan Ancaman di Selat Hormuz
Ketegangan di kawasan meningkat setelah konflik militer antara AS dan Iran memicu kekhawatiran keamanan pelayaran di kawasan Teluk Persia. Sejak akhir Februari, aktivitas perdagangan melalui Selat Hormuz dilaporkan mengalami gangguan akibat kekhawatiran serangan atau ranjau laut.
[irp posts=”34658″ ]
Presiden Trump sebelumnya juga memperingatkan Iran agar tidak memasang ranjau di jalur pelayaran tersebut. Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, ia mengklaim militer AS telah menghancurkan sejumlah kapal yang diduga terkait operasi peletakan ranjau.
Trump juga menyatakan pemerintahannya mempertimbangkan berbagai langkah untuk menjaga jalur energi tetap terbuka, termasuk melalui lembaga federal U.S. International Development Finance Corporation yang akan menawarkan asuransi risiko politik bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
“Jika diperlukan, Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz secepat mungkin,” tulis Trump.
Namun hingga kini, pejabat militer AS belum mengonfirmasi adanya operasi pengawalan tersebut. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyatakan bahwa militer belum menjalankan misi perlindungan bagi kapal tanker di kawasan tersebut.
“Jika ditugaskan untuk mengawal, kami akan meninjau berbagai opsi untuk menyiapkan kondisi militer yang diperlukan,” ujarnya.
Dampak pada Harga Energi dan Politik Domestik
Ketegangan di kawasan Teluk langsung berdampak pada pasar energi. Laporan American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin di AS melonjak menjadi US$3,54 per galon, naik hampir 43 sen dibandingkan pekan sebelumnya.
[irp posts=”34655″ ]
Di sisi lain, konflik dengan Iran juga menuai resistensi politik di dalam negeri. Survei yang dirilis oleh Universitas Quinnipiac menunjukkan 53 persen pemilih AS menolak aksi militer terhadap Iran. Hasil jajak pendapat terpisah dari Reuters-Ipsos bahkan mencatat tingkat penolakan lebih tinggi, yakni sekitar 60 persen.
Dengan ketegangan militer yang terus meningkat dan pasar energi yang sensitif terhadap setiap perkembangan di kawasan Teluk, Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial dalam dinamika geopolitik global. (*)













