Pendidikan

Gubernur Jambi Ambil Alih Konflik Brutal Guru vs Siswa di SMKN 3 Tanjabtim

318
×

Gubernur Jambi Ambil Alih Konflik Brutal Guru vs Siswa di SMKN 3 Tanjabtim

Sebarkan artikel ini
Gubernur
Gubernur Jambi Ambil Alih Konflik Brutal Guru vs Siswa di SMKN 3 Tanjabtim

JAMBI, ONtime.ID — Gubernur Jambi Al Haris turun langsung merespons keras kasus pengeroyokan guru oleh siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur yang menggemparkan publik.

Kasus yang semula dipandang sebagai kekerasan terhadap pendidik itu kini membuka tabir konflik yang lebih dalam hingga berujung pada langkah tegas dari orang nomor satu di Provinsi Jambi.

Guru berinisial AS, yang diketahui bernama Agus Saputra, sebelumnya viral setelah dikeroyok oleh sejumlah muridnya dan melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Namun kasus berkembang tajam setelah AS justru dilaporkan balik oleh seorang siswa berinisial LF (16) atas dugaan penamparan yang terjadi sebelum pengeroyokan berlangsung.

[irp posts=”33436″ ]

Melihat eskalasi konflik yang dinilai telah meninggalkan “luka sosial” di lingkungan sekolah, Gubernur Al Haris memutuskan untuk memindahkan AS dari posisinya sebagai guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur. Keputusan itu disebut sebagai langkah tak bisa ditawar.

“Yang pasti guru itu kita pindahkan dari situ. Enggak mungkin dia tetap di situ, mesti harus dipindah,” tegas Al Haris.

Tak berhenti pada mutasi, Al Haris juga menginstruksikan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mental secara menyeluruh terhadap AS. Hasil assessment tersebut akan menentukan kelanjutan statusnya sebagai tenaga pendidik.

“Saya minta pemeriksaan kejiwaannya juga. Apakah beliau masih layak seorang guru? Kalau misalnya tidak layak, ya kita pindahkan ke jabatan bukan guru lagi, staf biasa,” ujar Al Haris.

Kasus ini mencuat ke ruang publik setelah terungkap adanya dugaan pemicu konflik berupa ucapan bernada penghinaan yang dilontarkan AS kepada siswa. Kesaksian seorang siswi berinisial Bunga menyebutkan, masalah bermula dari persoalan sepele—menutup pintu kelas—yang kemudian berujung pada makian, penyebutan profesi ayah siswa, serta sindiran soal gaji guru yang berasal dari uang komite orang tua.

Upaya mediasi sempat dilakukan oleh Polres Tanjung Jabung Timur. Namun, Gubernur menilai konflik tersebut sudah terlalu kompleks dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan damai di tingkat lokal.

[irp posts=”33433″ ]

Di sisi lain, proses hukum terus berjalan. LF, siswa yang melaporkan dugaan penganiayaan oleh AS, telah memenuhi panggilan penyidik di Mapolda Jambi pada Kamis (22/1/2026). Selama sekitar tiga jam, ia dimintai keterangan untuk memperkuat kronologi peristiwa.

Kuasa hukum LF, Dian Burlian, mengatakan penyidik masih mendalami sejumlah aspek krusial, termasuk asal-usul dua senjata tajam yang disebut-sebut muncul dalam rangkaian kejadian tersebut.

“Yang paling didalami adalah dari mana dua senjata tajam itu didapatkan,” kata Dian.

Selain aspek pidana, perlindungan terhadap korban anak menjadi perhatian serius. LF dijadwalkan menjalani pemeriksaan psikologis pada Senin (26/1/2026) sebagai bagian dari prosedur perlindungan anak.

“Pemeriksaan psikologis ini penting untuk mengukur trauma yang dialami anak sebagai korban. Ini menjadi dasar penting dalam proses hukum,” ujar Dian.

Selama proses hukum berlangsung, LF mendapat pendampingan penuh dari keluarga, kuasa hukum, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Provinsi Jambi. Konsultan hukum DP3AP2, Raden Ardiansyah, menegaskan komitmen lembaganya untuk memastikan hak-hak korban anak terpenuhi.

“Kami mendampingi dan memastikan korban anak mendapatkan perlindungan selama proses hukum berjalan,” kata Raden.

Ia menambahkan, sejauh ini baru satu siswa yang secara resmi melapor, yakni LF. Namun DP3AP2 membuka ruang pendampingan bagi korban lain apabila muncul laporan tambahan.

[irp posts=”33430″ ]

Kasus ini kini tak lagi sekadar soal guru dan murid, melainkan menjadi cermin rapuhnya relasi pendidikan, disiplin, dan perlindungan anak—yang akhirnya memaksa Gubernur Jambi turun tangan langsung. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID