PADANG, ONTIME.ID — Proses pembangunan Main Stadium (Stadion Utama) Sumatera Barat (Sumbar) di Nagari Sikabu, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, selama dua tahun belakangan, telah berhenti total.
Ketiadaan anggaran disebut menjadi penyebab utama mangkraknya lokasi pembukaan MTQ Nasional XXVIII itu. Kepala Dinas Bina Marga Cipta Karya Tata Ruang (BMCKTR) Sumbar, Era Sukma Munaf, menyebut, paling tidak butuh sekitar Rp800 miliar lagi untuk menyelesaikan proyek pembangunan yang menelan anggaran total hingga Rp1,6 triliun itu.
“Sejak pandemi sampai sekarang memang pembangunannya sudah tidak dilanjutkan lagi. Kendalanya ya itu, anggaran kami di Pemprov tidak mencukupi,” katanya saat ditemui ONTIME.ID di kantornya, Kamis (9/2).
Era mengungkapkan, untuk saat ini, masih banyak proyek pembangunan strategis yang bersifat lebih mendesak. Sehingga, pembangunan Main Stadium mau tidak mau terpaksa harus dipinggirkan dahulu.
“Kalau untuk kelanjutan pembangunan, untuk saat ini memang tidak ada penganggaran. Tapi kalau untuk perawatannya, masih jalan kok,” katanya.
Secara umum, dengan kondisi saat ini, Main Stadium sesungguhnya sudah bisa menggelar pertandingan sepak bola. Hanya saja, untuk pertandingan setingkat liga, Main Stadium dinilai belum memenuhi standar FIFA. Pasalnya, hingga saat ini baru satu tribun yang memiliki fasilitas lengkap, seperti lampu dan pelindung tribun. Pun halnya dengan tempat duduk. Baru sekitar 30 persen tribun yang memiliki tempat duduk.
“Kalau ingin melanjutkan pembangunan sesuai perencanaan awal, rasanya sulit. Anggaran Rp800 miliar itu masih terlalu besar untuk Sumbar,” tuturnya.
Terlebih, bantuan pemerintah pusat, yang sempat diharapkan dapat menjadi solusi pembangunan stadion berkapasitas 50 ribu penonton tersebut, pun urung datang. Menurut Era, pemerintah pusat belum melihat pembangunan Main Stadium sebagai sesuatu yang mendesak.
Dengan masih banyaknya pembangunan stategis di daerah yang difasilitasi pusat, anggaran sebesar Rp800 miliar untuk membangun sebuah stadion pun, menurut Era, akan membuat pemerintah pusat berpikir panjang. Terkecuali bila ada iven besar yang akan digelar di daerah bersangkutan. Seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) misalnya.
“Pusat tentu tentu pertimbangannya, iven yang akan dituju apa? Beda ceritanya jika ada iven besar yang akan digelar. Misal, PON 2024 digelar di Sumbar, sudah selesai itu pembangunannya. Kita tidak perlu mikir-mikir lagi. Tapi kan PON 2024 digelarnya di Aceh dan Sumut. Atau kalau mau, 20 atau 30 tahun lagi Sumbar mengajukan diri jadi tuan rumah PON, baru bisa pembangunan Main Stadion rampung seperti yang diharapkan,” ujarnya.
Oleh karena itulah, guna mengakali keterbatasan anggaran tersebut, pihaknya melakukan optimasi anggaran untuk pembangunan Main Stadium. Dalam hal ini, optimasi dilakukan untuk mencari tahu berapa anggaran minimal yang dibutuhkan agar Main Stadium bisa beroperasi dan laik untuk menggelar pertandingan setingkat liga.
Optimasi dilakukan dengan memangkas sejumlah fasilitas yang dirasa belum terlalu dibutuhkan. Salah satunya, dengan membiarkan hanya satu tribun yang tertutup, sementara tiga tribun lainnya dibiarkan terbuka. Pun halnya dengan ruangan di bawah tribun penonton.
Menurut Era, ruangan yang berada di tribun barat, yang sudah ada saat ini, sesungguhnya telah mencukupi. Jika dipaksakan untuk membangun ruangan di tribun timur, utara, dan selatan, maka anggaran yang dibutuhkan akan cukup besar. Bisa jadi, ruang kosong di tiga tribun tersebut akan dijadikan sebagai tempat parkir.
Dengan kata lain, pihaknya akan fokus pada pembangunan fasilitas-fasilitas utama, seperti penerangan, lintasan lari, termasuk lapangan untuk latihan. Sementara, fasilitas pendukung lainnya, ucap Era, bisa dikesampingkan dahulu.
“Kemarin itu sudah kami coba kami hitung-hitung bersama konsultan perencanaaan. Setidaknya, kami masih butuh sekitar Rp100 miliar lagi agar Main Stadium bisa beroperasi dan laik untuk menggelar pertandingan-pertandingan Liga 1 dan Liga 2,” kata Era Munaf. (*/vand)













