Peristiwa

Masyarakat Diminta Waspada, Aktivitas Gunung Marapi Terus Meningkat

255
×

Masyarakat Diminta Waspada, Aktivitas Gunung Marapi Terus Meningkat

Sebarkan artikel ini
Marapi
Terlihat Gunung Marapi kembali erupsi mengeluarkan abu vulkanik dari Kabupaten Tanah Datar, Kamis (7/11). Status gunung Marapi tersebut berubah menjadi level III (siaga) yang sebelumnya level II (waspada).

PADANG, ONtime.ID – Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) menyiapkan langkah-langkah antisipasi darurat jika sewaktu-waktu gunung Marapi yang saat ini telah berstatus level III  (Waspada)  terus  menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas dan naik ke level IV  (Awas).

Selain itu, Pemprov Sumbar juga akan memaksimalkan empat unit sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) yang baru saja dipasang oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mencegah potensi dampak banjir lahar dingin Gunung Marapi terhadap pemukiman penduduk.

 

Penjabat (Pj) Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy, menyebut, sesuai dengan siaran pers yang telah dikeluarkan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sejak Rabu (6/11) kemarin, Gunung Marapi telah dinyatakan berada di level III atau Waspada. Di level tiga ini, semua aktivitas masyarakat yang berada di Kawasan Rawan Bencana atau KRB 1 di radius 4,5 Kilometer dari kawah Verbeek,  harus dihentikan atau ditiadakan sampai status ini kembali diturunkan.

 

Audy mengungkapkan, Pemprov Sumbar bersama kabupaten/kota telah menyiapkan skenario terburuk, jalur evakuasi, dan posko-posko pengungsian. “Prioritas kita saat ini tertuju kepada penyelamatan masyarakat terutama yang bermukim di daerah rawan. Sesuai dengan UU kebencanaan evakuasi bahkan dapat dilakukan dengan paksa jika itu diperlukan,” katanya.

 

Disebutkannya, rapat koordinasi bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait dengan penetapan status siaga bencana letusan Gunung Marapi masih menunggu dari arahan PVMBG. “Namun Kabupaten Kota sudah menyiapkan tempat-tempat yang akan dijadikan lokasi tempat pengungsian,” ucapnya.

Audy menyebut, pihaknya telah mendapatkan data pasti terkait jumlah Kepala Keluarga (KK) yang bermukim di radus 4,5 Kilometer dari kawah Verbeek Gunung Marapi di Kabupaten Agam. “Kita baru dapat informasi bahwa di Tanah Datar, di radius 4,5 kilometer itu hanyalah pondok kebun atau ladang, sehingga aktivitasnya bukanlah aktivitas rumah tangga sehari-hari,” ucapnya.

 

Ia juga menyampaikan, upaya evakuasi atau pengosongan rumah masyarakat yang bermukim di KRB 1 Gunung Marapi, akan segera dilakukan oleh Pemerintah kabupaten/kota. “Di status siaga darurat ini akan ada beberapa hal yang wajib kita laksanakan, pertama kesiapsiagaan dengan melakukan penyuluhan kepada masyarakat , mengungsikan masyarakat yang bermukim di radius 4,5 kilometer, membantu pemenuhan kebutuhan dasar serta  penyiapan rambu-rambu evakuasi dan posko pengungsian,” pungkasnya.

 

Widya Swara BNPB, Armen, menyatakan, Gunung Marapi memang telah berada di status level III atau siaga. Namun, untuk status awak belum bisa diprediksi waktunya. “Pesan Kepala BNPB jangan seperti Gunung Lewotobi di NTT yang menyebabkan sembilan meninggal, 31 luka berat dan luka ringan 32 orang. Jika, kita telat akan banyak masyarakat yang akan jadi korban,” katanya.

 

Ia meminta kepada pemerintah provinsi, kabupaten dan kota segera mengambil langkah signifikan untuk mencegah jatuhnya korban. Seluruh kabupaten/kota harus segera mengaktivasi posko dan mengaktifkan rantai komando. BNPB akan mengecek akan mengecek kesiapan masing-masing kabupaten/kota dan juga skenario evakuasi yang disiapkan.

 

“Bila memungkinkan TNI/Polri bisa melakukan evakuasi paksa jika memang kondisi memburuk,” katanya saat Rakor dengan Pj Gubernur Sumbar dan Pemkab Kabupaten/Kota terdampak erupsi Gunung Marapi Kamis (7/11) malam di Padang.

 

Sementara itu, Juru Bicara BPBD Provinsi Sumbar Ilham Wahab, menyebut, Pemprov Sumbar memastikan kesiapan logistik untuk situasi terburuk dampak erupsi Gunung Marapi ini.

 

Pemprov Sumbar juga akan memaksimalkan empat unit sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) yang baru saja dipasang oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mencegah potensi dampak banjir lahar dingin Gunung Marapi terhadap pemukiman penduduk.

 

“Meskipun EWS ini masih dalam tahap uji coba tetapi ini sudah bisa kita fungsikan dan mendapatkan kondisi di sungai-sungai yang berhulu dari Gunung Marapi,” kata Juru Bicara BPBD Provinsi Sumbar Ilham Wahab di Padang, Kamis.

 

Menurut Ilham, empat unit EWS tersebut memang masih kurang mengingat ada 12 sungai yang berhulu dari Gunung Marapi dan tersebar di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar. Namun, BPBD Provinsi Sumbar akan memaksimalkan alat itu.

 

Idealnya seluruh sungai yang berhulu dari Gunung Marapi dilengkapi atau dipasang EWS serta penambahan sirene khususnya di pemukiman masyarakat yang berpotensi paling besar terdampak ancaman banjir lahar dingin.

 

Ilham menjelaskan empat unit EWS tersebut tidak hanya berfungsi mengukur ketinggian muka air namun juga dilengkapi kamera pengintai atau closed-circuit television (CCTV). Tidak hanya itu, alat itu juga memiliki sensor yang berfungsi mengukur tingkat curah hujan.

 

Selain memasang EWS BPBD Sumbar bersama pemerintah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar juga menyiapkan mitigasi lain apabila terjadi tanda-tanda banjir lahar dingin.

 

Langkah yang disiapkan di antaranya memasang rambu-rambu atau petunjuk jalur evakuasi dan penentuan titik kumpul sementara ketika terjadi bencana. Dalam waktu dekat BPBD juga akan melakukan sosialisasi dan simulasi agar masyarakat lebih siap dan tanggap ketika terjadi bencana alam.

 

Terpisah, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan EWS berupa perangkat sensor, CCTV dan menara sirine yang sudah terpasang tersebar ke beberapa titik di sekitar Gunung Marapi.

 

Pemasangan peralatan EWS dilakukan setelah sebelumnya dinyatakan berfungsi dengan baik melalui serangkaian uji coba oleh tim ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera V.

 

Sebelumnya, – Gunung Marapi di Sumatera Barat (Sumbar) naik status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Keputusan ini diambil berdasarkan analisis menyeluruh terhadap aktivitas gunung berapi tersebut yang mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

“Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunung Marapi dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai pukul 15.00 WIB pada 6 November 2024. Peningkatan ini juga disertai dengan rekomendasi terbaru yang menyesuaikan dengan potensi ancaman terkini,” ujar Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid A. N, dalam keterangan tertulis yang diterima ONtime.ID Rabu (6/11).

Secara visual, aktivitas Gunung Marapi menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Hembusan abu vulkanik dan erupsi yang terjadi belakangan ini semakin intensif. Pada 27 Oktober, teramati kolom abu setinggi 2.000 meter di atas puncak, sementara pada 6 November pukul 05.44 WIB, ketinggian kolom abu mencapai 1.500 meter di atas puncak.

Sejak awal Oktober, pemantauan menunjukkan adanya peningkatan kegempaan, terutama gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan suplai magma dari kedalaman menuju ke permukaan. Kenaikan kegempaan ini sejalan dengan adanya deformasi atau penggelembungan (inflasi) di bagian puncak Gunung Marapi, yang menunjukkan adanya tekanan magma yang semakin meningkat di dalam tubuh gunung api tersebut. Data dari parameter dv/v (variasi kecepatan seismik) dan koherensi juga menunjukkan adanya gangguan kondisi medium bawah permukaan akibat peningkatan tekanan (stress).

“Saat ini, energi seismik yang tercermin dari RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan fluktuasi yang sedikit di atas baseline,” jelasnya, yang mengindikasikan peningkatan potensi letusan yang mungkin terjadi sewaktu-waktu sebagai bentuk pelepasan dari akumulasi energi tersebut. (*)