PADANG, ONtime.ID – Orasi kebudayaan yang berlangsung di Universitas Andalas (UNAND), pada Kamis (5/9), menjadi momen reflektif yang mendalam tentang pentingnya menjaga keberagaman dan persatuan bangsa.
Orasi kebudayaan ini merupakan bagian dari Dies Natalis ke-68 sekaligus menjadi bagian dari perayaan Festival Adat Budaya Nusantara (FABN) III di Sumatra Barat (Sumbar).
Ketua Pelaksana Sultan Muhammad Yusuf Tuanku Mudo Rajo, menyampaikan kegiatan ini sebenarnya direncanakan pada tahun 2023. Namun karena beberapa kendala, baru dapat terlaksana di tahun ini. Ia bersyukur meskipun beberapa narasumber berhalangan hadir karena tugas negara, dan acara tetap berlangsung dengan baik.
Sultan Muhammad Yusuf juga menjelaskan panitia sengaja membatasi jumlah tamu undangan hanya 25 raja, sultan, permaisuri, datu, penglingsir, datuak, dan pemangku adat. Kegiatan orasi kebudayaan kali ini turut menghadirkan Prof. Dr. Herwandi, M. Hum dan Prof. Dr. Rer.soz. Nursyirwan Effendi sebagai narasumber.
“Jika tidak dibatasi, jumlah peserta bisa mencapai ratusan, seperti pada Festival Adat Budaya Nusantara sebelumnya. Selain itu, niniak mamak, alim ulama, dan bundo kanduang juga turut hadir dalam acara ini,”ujarnya.
Ketua Umum DPP Matra, Andi Bau Malik Barammamase, SH Karaenta Tukajangangan, menyampaikan apresiasinya kepada UNAND yang telah berkolaborasi dalam acara ini. Ia berharap kegiatan ini, yang merupakan bagian dari Program Kerja (Proker) Matra, dapat semakin menyentuh masyarakat luas.
Sekretaris UNAND, Dr. Aidinil Zetra, MA, yang mewakili Rektor UNAND juga menyambut hangat kehadiran para tamu undangan, seperti raja, permaisuri, sultan, datu, penglingsir, pemangku adat, dan para niniak mamak. Menurutnya, orasi kebudayaan ini lebih dari sekadar perayaan, tetapi juga refleksi mendalam tentang keberadaan bangsa Indonesia yang kaya akan keberagaman adat dan budaya.
Aidinil mengingatkan Nusantara merupakan rumah bagi ribuan adat dan suku bangsa yang unik, dan kekayaan budaya yang merupakan cerminan dari sejarah panjang perjuangan nenek moyang. Ia menekankan pentingnya menjaga keberagaman dan persatuan bangsa dengan saling memahami perbedaan, karena bangsa yang tidak bisa hidup dalam keberagaman akan terpecah.
“FABN ini bukan hanya sebuah perayaan, melainkan refleksi mendalam tentang eksistensi kita sebagai bangsa. Kehadiran di sini untuk menjaga keberagaman adat dan budaya serta persatuan bangsa dengan saling memahami perbedaan,” tutur Aidinil. (*)













