SUMBAR

Pakar Iklim Peringatkan Ancaman Banjir Bandang di Sumbar Diprediksi Terus Berulang

202
×

Pakar Iklim Peringatkan Ancaman Banjir Bandang di Sumbar Diprediksi Terus Berulang

Sebarkan artikel ini
Banjir
Pakar Iklim Peringatkan Ancaman Banjir Bandang di Sumbar Diprediksi Terus Berulang

PADANG, ONtime.ID — Ancaman banjir bandang susulan di Sumatera Barat dinilai masih sangat tinggi dan berpotensi berulang dalam lima tahun ke depan.

Peringatan ini disampaikan Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Negeri Padang, Nofi Yendri Sudiar, yang menilai wilayah tersebut tengah memasuki fase rawan akibat kombinasi krisis iklim dan kerusakan lingkungan.

Nofi menjelaskan, intensitas curah hujan ekstrem yang melanda Sumatera Barat sepanjang November 2025 merupakan fenomena langka yang memiliki pola pengulangan panjang.

“Curah hujan dengan intensitas 1.000 milimeter dalam sebulan pernah terjadi pada 1981–1982. Yang muncul di bulan November ini baru terjadi sekarang. Itu siklus 50 tahunan,” kata Nofi, Senin (29/12/2025).

Berdasarkan analisis data iklim sejak 1980-an hingga 2025, ia memperkirakan intensitas hujan ekstrem masih akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, tren perubahan iklim menunjukkan peningkatan intensitas yang semakin tajam.

“Dari sisi perubahan iklim, intensitas hujan trennya terus naik. Cuaca ekstrem yang dulu jarang muncul, sekarang justru sering. Ini sudah menjadi kenormalan baru,” ujarnya.

Nofi menyoroti kondisi Kota Padang yang diguyur hujan hampir tanpa henti sejak 6 hingga 29 November 2025. Dalam kurun dua pekan, curah hujan tercatat mencapai 1.000 mm.

“Sebagai perbandingan, 1.000 mm itu normalnya turun dalam empat bulan. Di Padang, itu terjadi hanya dalam dua minggu,” katanya.

Ia menjelaskan, karakter hujan ekstrem di Sumatera Barat berbeda dengan wilayah lain seperti Aceh. Di Aceh, intensitas hujan bisa mencapai 400 mm dalam satu hari, sementara di Sumatera Barat berada di kisaran 100–150 mm per hari dan bahkan menembus 200 mm, namun berlangsung terus-menerus selama hampir dua minggu.

“Curah hujan seperti ini masuk kategori sangat lebat hingga ekstrem,” tegasnya.

Kondisi paling mengkhawatirkan saat ini, menurut Nofi, adalah tanah di Sumatera Barat yang telah berada pada titik jenuh. Daya serap tanah dan hutan dinilai sudah tidak mampu lagi menahan air.
“Dengan kondisi tanah seperti sekarang, hujan intensitas sedang saja bisa memicu longsor, apalagi di wilayah tanah terbuka,” ujarnya.

Ia mencontohkan peristiwa banjir susulan di Maninjau pada 25 Desember 2025. Hujan yang hanya berlangsung satu hingga dua jam langsung memicu banjir, menandakan rapuhnya kondisi lingkungan di kawasan tersebut.

Pemantauan menggunakan drone dan citra satelit BRIN di hulu Sungai Air Dingin dan Sungai Kuranji menemukan sedikitnya 51 titik longsor di kawasan hulu Kuranji.

“Banyak bagian hulu sudah terbuka, tanggul runtuh, dan kondisinya sangat labil. Hujan sebentar saja, longsor bisa terjadi serentak,” ungkap Nofi.

Ia mengidentifikasi tiga faktor utama penyebab cuaca ekstrem di Sumatera Barat. Pertama, krisis iklim global yang meningkatkan intensitas hujan. Kedua, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif yang menaikkan suhu perairan di pantai barat Sumatera, sehingga meningkatkan penguapan dan pembentukan awan hujan. Ketiga, kemunculan siklon tropis di wilayah tropis yang sebelumnya tergolong jarang.

“Sebanyak 90 persen panas akibat pemanasan global diserap oleh laut. Ketika suhu permukaan laut naik, potensi cuaca ekstrem dan siklon tropis di daerah tropis juga meningkat,” jelasnya.

Menghadapi kondisi tersebut, Nofi mendesak pemerintah untuk mengubah paradigma penanganan bencana dari berbasis musim menjadi berbasis parameter iklim yang spesifik dan lokal.

“Parameter iklim harus menjadi dasar kebijakan. Edukasi ke masyarakat penting, dan sistem peringatan dini harus dibangun terutama di wilayah hulu,” katanya.

Ia juga meminta pemerintah menghentikan pemberian izin pembangunan di jalur air dan segera melakukan audit ulang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

“Harus ada zonasi yang tegas. Mana yang boleh dibangun, mana yang tidak. Jangan lagi memberi izin di daerah tangkapan air,” tegasnya.

Menurut Nofi, bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat hampir pasti akan kembali terjadi pada tahun-tahun mendatang.

“Siap-siap saja. Tahun depan kejadian serupa sangat mungkin terulang. Dalam krisis iklim, bencana akan makin sering dan waktunya bisa bergeser—lebih cepat atau lebih lambat,” pungkasnya. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID