PADANG, ONTIME.ID—Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) ditunjuk sebagai salah satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) untuk menyukseskan Program Unggulan (Progul) Mencetak 100 Ribu Entrepreneur.
Kepercayaan ini diwujudkan DP3AP2KB Sumbar melalui program pemberdayaan perempuan lewat usaha rumahan. Hingga hari ini, setidaknya telah ada 825 perempuan yang dilatih DP3AP2KB Sumbar.
Kepala DP3AP2KB Sumbar, Gemala Ranti menyebutkan, sasaran utama program ini adalah kelompok perempuan rentan, dengan tujuan utama meningkatkan taraf ekonomi dan ketahanan keluarga.
Dalam program itu, mereka dibekali dengan soft skill. Mereka diajarkan untuk membuat produk-produk rumah tangga. Adapun yang mengajarkan mereka adalah para ahli di bidangnya. Sedangkan diajarkan tergantung keinginan dan selera masyarakat itu sendiri.
“Jadi yang diajarkan itu sesuai dengan produk apa yang dimaui masyarakat. Tergantung potensinya apa. Kalau potensinya kuliner, kami latih membuat kuliner. Kalau potensi produk-produk kesenian, kami latih membuat produk-produk kesenian,” kata Gemala Ranti saat ditemui di kantornya, Rabu (30/11) siang.
Gemala mengungkapkan bahwa program pemberdayaan perempuan rentan ini sudah dimulai sejak akhir 2021 dan berlanjut hingga 2022. Tahun ini, dari target 1.000 perempuan rentan, yang terlatih hingga saat ini mencapai 825 perempuan, yang tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumbar. Namun, yang terbanyak tahun 2022 ini ada di Kabupaten Agam dan Kota Padang.
“Pelatihan melalui APBD murni tahun 2022 sudah selesai dilaksanakan. Tinggal lagi melalui APBD Perubahan. Jadi sampai akhir tahun ini pelatihan yang kami laksanakan terus berlanjut menuju target 1.000 perempuan,” katanya.
Produk yang dihasilkan melalui pelatihan yang digelar selama tiga hari ini berupa produk kue-kue jajanan sekolah dan produk makanan lain, seperti, donut, pisang salai, coklat, kue makanan ringan, dan lain sebagainya. Selain itu, juga ada kerajinan tangan, seperti sulaman dan ukiran serta aksesoris bros untuk jilbab.
“Tenaga pengajarnya benar-benar dipilih secara selektif, yakni yang ahli dan benar-benar memiliki rasa yang nyambung dengan peserta. Jadi yang diajarkan bagaimana membuat produk yang benar-benar berkualitas. Bagaimana menggunakan minyak goreng yang baik. Termasuk takaran adukan bahan-bahan kue seperti vanila gula, tepung, coklat yang pas. Termasuk kerajinan sulaman. Semuanya diajarkan lebih detail,” ujarnya.
Tidak hanya melatih, pihaknya juga melakukan evaluasi hasil pelatihan yang digelar. Misalnya, pada hari pertama dan kedua dilihat proses pelatihan yang diajarkan. Hari ketiga dilihat hasilnya, bahkan divideokan.
“Ternyata mereka yang ikut pelatihan cukup antusias untuk membuat produknya sampai jadi. Tidak hanya sekadar pandai membuat, melainkan juga memerhatikan kualitas. Misalnya, membuat donat, pelatihan yang diberikan bagaimana membuat donat yang berkualitas seperti donat terbaik merk J-Co. Hasilnya donatnya memang yang terbaik dengan kualitas seperti donat J-Co,” tuturnya.
Program pemberdayaan yang dilaksanakan tersebut, katanya, telah membuahkan hasil. Di mana, produk kue-kue yang dihasilkan oleh perempuan rentan ini sudah masuk ke sekolah-sekolah. Termasuk juga disediakan untuk konsumsi snack untuk kegiatan-kegiatan nagari dan kecamatan yang melibatkan orang banyak.
”Hasilnya sudah ada. Karena yang mengajarkan itu dari yang ahli dan produknya juga sudah terkenal, sehingga ikut membantu promosi produk yang dihasilkan. Produknya cepat dikenali masyarakat karena kualitasnya. Sehingga mampu menghasilkan pendapatan tambahan guna menopang dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,” ujarnya. (*/red)













