PONTIANAK, ONtime.ID — SMAN 1 Pontianak menyatakan menolak mengikuti pelaksanaan ulang final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang sebelumnya menuai polemik penilaian.
Sikap tersebut disampaikan langsung Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, melalui pernyataan resmi yang diunggah di akun Instagram sekolah @smansaptk.informasi.
Dalam pernyataan itu, SMAN 1 Pontianak menegaskan tetap menghormati hasil lomba yang menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat pada ajang LCC Empat Pilar tingkat nasional.
“SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan LCC yang diulang, sebagaimana informasi yang disampaikan MPR,” demikian isi pernyataan sikap yang ditandatangani Indang Maryati, Kamis (14/5/2026).
[irp posts=”36134″ ]
Indang mengatakan pihak sekolah juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang muncul akibat polemik penilaian dalam babak final tersebut.
Ia mengajak seluruh pihak untuk menyelesaikan persoalan dengan mengedepankan semangat kebersamaan, saling menghormati, dan menjaga nilai persatuan.
Menurutnya, sejak awal SMAN 1 Pontianak tidak pernah berniat membatalkan hasil perlombaan maupun menjatuhkan pihak tertentu. Langkah yang dilakukan sekolah, kata dia, semata-mata untuk meminta kejelasan dan klarifikasi terkait mekanisme penilaian dewan juri.
“Yang kami lakukan merupakan bagian dari ikhtiar untuk memperoleh konfirmasi dan klarifikasi demi terwujudnya kompetisi yang transparan, objektif, dan akuntabel,” ujar Indang.
Ia juga menegaskan sekolahnya tidak memiliki tujuan menyerang kredibilitas lembaga, panitia, maupun individu tertentu yang terlibat dalam pelaksanaan LCC Empat Pilar MPR RI.
[irp posts=”36130″ ]
Karena itu, Indang berharap polemik tersebut tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu iklim pendidikan.
“Kami berharap ke depan tercipta suasana pendidikan yang kondusif, aman, dan nyaman bagi seluruh peserta didik,” katanya.
SMAN 1 Pontianak juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah memberikan perhatian dan dukungan selama polemik berlangsung.
Sebelumnya, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyatakan final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat akan digelar ulang dengan menghadirkan dewan juri independen.
“Dewan juri yang akan mengadili dalam LCC tersebut adalah juri independen,” kata Ahmad Muzani di Gedung Nusantara III, Jakarta, Rabu.
Polemik bermula saat babak final LCC Empat Pilar pada 9 Mei 2026 yang mempertemukan SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Saat itu, dewan juri mengajukan pertanyaan mengenai lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR dalam memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
[irp posts=”36126″ ]
Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi peserta pertama yang menjawab dengan menyebut anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan Presiden.
Namun jawaban tersebut dinilai kurang tepat oleh dewan juri sehingga tim mendapat pengurangan nilai sebesar lima poin.
Kesempatan kemudian diberikan kepada regu B dari SMAN 1 Sambas yang memberikan jawaban serupa dan justru dinyatakan benar oleh juri dengan tambahan 10 poin.
Keputusan itu langsung diprotes peserta SMAN 1 Pontianak karena merasa telah memberikan jawaban yang sama lebih dulu.
Dewan juri beralasan jawaban SMAN 1 Pontianak dianggap tidak secara jelas menyebut frasa “pertimbangan DPD”. Namun alasan tersebut dibantah oleh peserta regu C.
Salah seorang dewan juri, Indri Wahyuni, menyebut aspek artikulasi menjadi dasar penilaian dalam lomba tersebut.
[irp posts=”36122″ ]
“Artikulasi itu penting. Dewan juri menilai berdasarkan apa yang terdengar jelas. Kalau tidak terdengar, maka juri berhak memberikan pengurangan nilai,” ujar Indri Wahyuni yang juga menjabat sebagai Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI.
Kontroversi penilaian itu kemudian viral di media sosial dan memicu perdebatan publik hingga menjadi perhatian nasional. (*)













