PARIAMAN, ONtime.ID—Kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang menimpa seorang gadis penjaja gorengan yang baru berusia 18 tahun di Kayu Tanam, Padang Pariaman harus menjadi wake-up call bagi seluruh pihak betapa Sumatera Barat (Sumbar) tengah darurat perlindungan terhadap anak dan perempuan. Lebih-lebih dengan tren angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di Sumbar yang terus menunjukkan peningkatan setiap tahun.
Anggota DPRD Sumbar, Endarmy menyatakan keprihatinan atas meninggalnya Nia Kurnia Sari (NKS) yang diduga dibunuh, setelah terlebih dahulu diperkosa. Anggota dewan Daerah Pemilihan (Dapil) Padang Pariaman-Kota Pariaman itu menyebut, kejadian yang menimpa NKS merupakan alarm bagi semua pihak untuk lebih meningkatkan perhatian dalam upaya melindungi kaum perempuan dari segala bentuk tindak kekerasan.
“Apa yang dialami NKS adalah peristiwa yang sangat memprihatinkan terjadi di daerah kita. Saya minta persoalan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah dan semua pihak terkait. Harus ada antisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang. Ini terkait juga dengan upaya untuk melindungi perempuan dari segala bentuk tindak kekerasan,” ujar Endarmy, Rabu (11/9).
Endarmy mengatakan, sejumlah faktor bisa menjadi pemicu maraknya tindak kriminal di tengah masyarakat, seperti penggunaan obat-obat terlarang atau narkoba, pengaruh gawai, faktor ekonomi, hingga sejumlah faktor lainnya. Beberapa faktor tersebut bisa menyebabkan tindakan seseorang menjadi tidak terarah, sehingga berani melakukan tindak kriminal seperti pemerkosaan bahkan pembunuhan.
Agar kasus kriminal serupa bisa ditekan, srikandi Partai NasDem itu meminta kepada pemerintah daerah untuk memperbanyak program-program pembinaan di tengah masyarakat. Terutama yang menyasar generasi muda yang memang rentan terpengaruh hal-hal negatif.
“Kegiatan pembinaan harus diperbanyak, terutama yang menyasar remaja, karena remaja adalah kelompok yang rentan terpengaruh dengan hal-hal negatif. Ini merupakan PR untuk pemerintah, dalam hal ini khususnya Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman bersama pihak terkait lainnya,” katanya.
Sebagai wakil rakyat dari Dapil II Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, Endarmy meminta kepada pihak kepolisian untuk cepat melakukan penangkapan terhadap pelaku. Jika ditemukan, ia minta hukum ditegakkan dengan seadil-adilnya.
Endarmy mengaku hatinya sangat terenyuh atas apa yang menimpa NKS. Sebab, dari cerita orang-orang terdekat korban, remaja perempuan itu adalah anak yang baik dan berbakti pada orang tua. Ia rela membantu perekonomian keluarga dan juga menabung untuk mewujudkan rencananya berkuliah dengan berjualan gorengan.
Usai NKS diberitakan hilang dan tidak pulang ke rumah, Endarmy juga telah mendatangi rumah keluarga. Ia bersama-sama warga ikut terjun melakukan pencarian. Saat mendatangi rumah keluarga korban, ia juga sempat menyampaikan bahwa jika remaja perempuan itu telah ditemukan, dan pulang dengan selamat dirinya bersedia membantu untuk biaya pendidikan ke perguruan tinggi.
Namun takdir berkata lain, dua hari setelah diinformasikan hilang, gadis berusia 18 tahun itu ditemukan sudah tak bernyawa. Jasadnya ditemukan di kawasan rimba dekat kediamannya, Minggu (8/9).
Anggota DPRD Sumbar Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Firdaus yang juga dari Dapil Padang Pariaman-Kota Pariaman menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya NKS yang diduga dibunuh. Jika dugaan ini benar adanya, ia sangat menyayangkan perilaku orang yang telah berbuat tindakan keji tersebut.
Firdaus juga berterima kasih kepada pihak kepolisian, BPBD, TNI, dan masyarakat yang telah berperan aktif melakukan pencarian NKS sejak dilaporkan hilang hingga ditemukan. Kepada keluarga, ia mendoakan supaya diberikan kesabaran, meskipun hal itu terasa sangat berat.
“Kita sama-sama berduka. Kejadian ini menjadi catatan penting bagi kita semua, baik itu masyarakat, pemerintah, DPRD, TNI, Polri, dan lembaga adat untuk memastikan agar hal ini tidak terulang lagi ke depannya. Kita pikirkan dan lakukan bersama-sama,” ujar Firdaus.
Firdaus mengatakan, luka dan kesedihan yang dirasakan keluarga tentu saja teramat besar. Namun, hal itu dapat diredakan dengan rasa kebersamaan dan kekeluargaan dari seluruh masyarakat.
“Mari bersama-sama kita tenangkan sanak saudara kita yang sedang bersedih dan berduka. Semoga dengan kehadiran kita membuat keluarga mendapat kekuatan dalam menghadapi cobaan,” tutur Firdaus.
Masih Dalam Penyelidikan
Sebelumnya, Koordinator Tagana Padang Pariaman, Donal Debra mengatakan, NKS dilaporkan hilang oleh keluarga pada Jumat (6/9) malam. Warga sudah mulai melakukan pencarian pada pukul 23.00 WIB dengan menyusuri jalanan yang biasanya dilalui korban.
“Korban ini sehari-harinya berjualan goreng keliling dari pukul empat sore sampai enam sore. Namun, pada hari kejadian, korban tidak juga kembali ke rumah hingga pukul 22.00 WIB,” kata Donal.
Pada pukul 01.00 WIB, pencarian korban mulai membuahkan hasil. Rombongan pencari berhasil menemukan goreng dagangan milik korban yang tercecer di semak-semak dekat jalanan menuju rumah korban. “Tidak jauh dari barang bukti pertama, warga kembali menemukan jilbab korban. Kedua temuan ini terletak sekitar 100 meter dari kediaman korban,” katanya.
Donal menyebut, pada hari korban dinyatakan hilang, hujan lebat mengguyur daerah tersebut. Hal itu menyulitkan warga melakukan pencarian lebih lanjut. Pencarian korban dilanjutkan hingga Minggu (8/10) sore. Donal bersama tim pencari dan warga sekitar akhirnya menemukan jasad korban yang terkubur kurang lebih 200 meter dari lokasi penemuan barang bukti pertama. “Kami coba menyusuri daerah lereng tebing yang jarang dikunjungi warga. Di sana, kami menemui ada tanah timbunan yang mencurigakan,” katanya.
Donal bersama warga langsung menggali tanah tersebut dengan cangkul. Ia menemukan seutas tali rafia yang membentuk simpul. “Saat coba digali lagi, cangkul yang kami gunakan mengenai tangan korban. Dari sana, kami menghentikan penggalian dan langsung melaporkan ke pihak berwajib,” tuturnya.
Ia menyebut, korban ditemukan tanpa busana dengan posisi miring. Kedua kaki korban tertekuk ke belakang dan ada memar berat di mulut korban.
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Padang Pariaman, Iptu AA Reggy mengatakan, pihak kepolisian saat ini masih menyelidiki kasus tersebut, dan hingga saat ini sudah ada sejumlah saksi yang dimintai keterangan.
“Kami telah periksa beberapa saksi. Di antaranya adalah satu orang yang terakhir melihat korban, keluarganya, yaitu ibu dan kakak perempuannya, dan tiga orang pemuda di nagari tersebut,” katanya, Selasa (10/9).
Reggy mengatakan, sebenarnya ada satu orang lagi pemuda yang dijadwalkan untuk diperiksa. Namun pemuda tersebut kabur. “Dari empat pemuda tersebut, satu di antaranya belum ditemukan sampai saat ini. Kami masih melakukan pengejaran,” kata Reggy.
Meningkat Setiap Tahun
Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) Sumbar mencatat, tren kekerasan seksual maupun fisik terhadap anak dan perempuan di Ranah Minang dari tahun ke tahun kian mengkhawatirkan.
Pada tahun 2020 jumlah kasus kekerasan terhadap anak tercatat berjumlah 427 kasus. Angka itu kemudian naik menjadi 548 kasus pada 2021 dan 567 kasus pada 2022. Pun halnya dengan kasus kekerasan terhadap perempuan. Pada 2020 tercatat sebanyak 188 kasus. Lalu, pada 2021 naik menjadi 205 kasus dan kembali naik pada 2022 menjadi 228 kasus.
Pada tahun 2023 lalu, tercatat ada sebanyak 783 kasus kekerasan terhadap anak dengan jumlah korban mencapai 841 orang. Sementara kasus kekerasan terhadap perempuan, berjumlah sebanyak 268 kasus dengan jumlah korban berjumlah 272 orang. Per 30 Juni 2024, Simfoni PPA mencatat adanya 242 kasus kekerasan terhadap anak dengan jumlah korban 274 orang. Sumber yang sama juga merekam 105 kasus kekerasan terhadap perempuan dengan jumlah korban berjumlah 105 orang. (*)













