Peristiwa

Sumbar Waspada Potensi Banjir Lahar Dingin Marapi

443
×

Sumbar Waspada Potensi Banjir Lahar Dingin Marapi

Sebarkan artikel ini
Banjir
Sejumlah warga tengah berada di daerah terdampak bencana banjir bandang lahar dingin di Bukik Batabuah, Kabupaten Agam, Senin (13/5). Berdasarkan data BNPB, per Senin (13/5) jumlah korban meninggal dalam musibah tersebut telah mencapai 43 orang.

PADANG, ONTIME.ID—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hingga sepekan ke depan cuaca ekstrem masih akan melanda daerah Salingka Gunung Marapi. Dengan kata lain, banjir lahar dingin berpotensi akan kembali terjadi. Untuk itu, pemerintah daerah (pemda) dan masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, termasuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi.

Kepala BMKG, Dwikorita Karniwati mengatakan, sebagian besar wilayah Sumatera Barat (Sumbar), termasuk daerah yang berada di kawasan Salingka Gunung Marapi, masih akan berpotensi mengalami curah hujan tinggi, setidaknya sampai dengan tanggal 20 Mei mendatang.

“Kami selalu mengeluarkan peringatan dini, dan sekali lagi, ancaman galodo lahar dingin masih akan ada sampai 20 Mei,” ujar Dwikorita saat konferensi pers via Zoom bersama wartawan, Minggu (12/5) malam.

Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana lanjutan erupsi Gunung Marapi itu, Dwikorita meminta masyarakat untuk terus memantau prediksi cuaca yang dikeluarkan BMKG.

Curah hujan tinggi selama beberapa hari ke depan tidak hanya diprediksi terjadi di wilayah Sumbar saja. Cuaca ekstrem berupa hujan deras yang disertai angin kencang dari siang hingga malam hari bahkan juga telah terjadi di berbagai daerah lainnya di Indonesia sejak tanggal 11 Mei lalu. “Prediksi cuaca ekstrem ini disampaikan karena akan bersamaan dengan potensi terjadinya banjir lahar dingin dan banjir bandang di Sumbar,” ucapnya.

Dwikorita menjelaskan, erupsi Gunung Marapi bukanlah faktor tunggal penyebab terjadinya banjir bandang lahar dingin yang menerjang tiga daerah di Sumbar akhir pekan lalu. Selain endapan abu vulkanik yang terus turun dan masuk ke aliran sungai bersama hujan, banjir bandang juga dipicu oleh aktivitas vulkanik Gunung Marapi yang memicu gempa bumi kecil dan meretakkan batuan.

“Itulah sebabnya galodo terjadi tidak di satu tempat. Ini telah kami sampaikan beberapa kali, diingatkan, ini perlu diwaspadai, ternyata memang terjadi. Informasi kami ini bukan kabar pertakut, melainkan untuk meningkatkan kewaspadaan guna meminimalisasi dampak dan korban yang ditimbulkan,” katanya.

Dwikorita minta warga menghindar dari lokasi zona bahaya yang telah ditetapkan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan BPBD setempat. Ini diingatkan karena beberapa kali dalam bulan ini, terjadi guncangan gempa. “Menjauh dari bantaran sungai yang berhulu dari Marapi, Singgalang, dan gunung lainnya,” katanya.

Di sisi lain, Dwikorita menyatakan bahwa Sumbar adalah salah satu provinsi paling siap dan paling tangguh dalam mitigasi bencana. Namun, Sumbar terbilang unik karena tidak memiliki zona musim, di mana pola hujannya dikontrol oleh curah hujan tahunan dan nyaris tidak memiliki musim kemarau.

“Karena provinsi ini berada pada kondisi geografis yang unik, di mana ia menghadap ke Samudera Hindia yang luas, serta membelakangi Bukit Barisan yang tinggi. Oleh karena itu, hujannya hampir terjadi sepanjang bulan. Kami lihat, sampai sekarang musim hujannya belum berhenti, erupsi Marapi juga belum berhenti, sehingga potensi banjir lahar dingin masih tetap ada,” ucapnya.

Mengingat kondisi tersebut, ia menilai program-program mitigasi yang diperlukan untuk Sumbar harus segera direalisasikan. Di samping itu, BMKG juga tetap akan menginformasikan prakiraan cuaca ke depan, dengan harapan pemerintah daerah bersama masyarakat terus meningkatkan kesiapsiagaan.

“Untuk peringatan dini cuaca ekstrem sendiri, paling tidak untuk sepekan ke depan masih akan terus terjadi. Selain untuk masyarakat dan pemerintah, peringatan ini juga sangat penting bagi tim SAR yang masih melakukan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan. Sehingga, ketika cuaca mulai tidak memungkinkan, pencarian agar segera dihentikan,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah mengimbau masyarakat Sumbar yang berdomisili atau beraktivitas di kawasan zona merah bencana banjir dan longsor untuk tidak berada di kawasan tersebut hingga batas waktu yang belum ditentukan.

“Sebagaimana BMKG yang terus secara rutin menyampaikan prakiraan cuaca kepada kita, termasuk di tengah situasi saat ini, maka masyarakat kami minta terus waspada. Terutama sekali yang berada di zona merah, seperti di sepanjang daerah aliran sungai, di dekat tebing perbukitan, dan seterusnya. Lebih-lebih yang tinggal di Agam, Tanah Datar, dan Padang Panjang,” ujar Mahyeldi, usai pertemuan dengan BMKG di Padang, Senin (13/5).

Ia menyampaikan, potensi terjadinya banjir lahar dingin yang mengancam keselamatan masyarakat masih sangat besar. Hal itu tidak terlepas dari kenyataan bahwa Gunung Marapi sampai saat ini masih terus erupsi.

Oleh karena itu, masyarakat yang bermukim di dalam kawasan zona merah, hendaknya menghentikan aktivitas di kawasan tersebut, sehingga dampak banjir lahar dingin seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu, bisa diminimalisasi.

“Kami selalu berkoordinasi dengan BMKG dalam hal potensi dan prediksi cuaca ke depan. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah pusat terkait juga kami lakukan untuk memulihkan dampak banjir dan longsor sepekan terakhir, terutama sekali dampak kerusakan jalan nasional, dampak korban jiwa dan luka-luka yang timbul, dan lain sebagainya,” ujar Mahyeldi.

Korban Banjir Lahar Dingin Capai 43 Orang

Korban meninggal dunia akibat banjir lahar hujan di Sumbar mencapai 43 orang. Angka ini berdasarkan laporan termutakhir yang diterima oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (13/5) pukul 13.00 WIB.

Penambahan jumlah korban hari ini setelah tim pencarian dan pertolongan menemukan lima warga Kabupaten Tanah Datar dan satu orang warga Padang Pariaman dalam keadaan meninggal dunia. Dari enam jenazah yang ditemukan pada hari ini (kemarin, red), empat di antaranya masih dalam proses identifikasi.

Adapun rincian korban meninggal dunia per Senin (13/5) siang antara lain di Kabupaten Agam 19 orang, Kabupaten Tanah Datar 14 orang, Kabupaten Padang Pariaman 8 orang, Kabupaten Padang Panjang dua orang. Sementara itu, korban dalam pencarian sebanyak 15 orang.

Kejadian ini juga memaksa warga untuk mengevakuasi diri dan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat jumlah pengungsi di Kabupaten Agam sebanyak 1.159 jiwa dan di Kabupaten Tanah Datar sebanyak 2.039 jiwa.

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Kabupaten Tanah Datar bersama dengan Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan penanganan darurat di lokasi terdampak. (vand)