PADANG, ONtime.ID — Tim Ahli DPRD Provinsi Sumatera Barat mulai memetakan sumber baru Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan menyoroti sektor perikanan, khususnya produksi benih udang vaname. Upaya ini dibahas dalam rapat rutin yang digelar Rabu (8/4) di ruang rapat khusus II DPRD Sumbar.
Rapat dipimpin Ketua Tim Ahli DPRD Sumbar, HM Nurnas, dan dihadiri seluruh anggota tim. Fokus utama pembahasan mengarah pada optimalisasi peran UPTD BPBALP Instalasi Sungai Nipah sebagai pusat pembenihan yang dinilai memiliki potensi strategis namun belum dimaksimalkan.
Dalam diskusi yang berlangsung intens, tim menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas produksi benih udang berkualitas, baik dari sisi fasilitas, teknologi, maupun sumber daya manusia. Instalasi Sungai Nipah dinilai dapat menjadi salah satu tulang punggung pengembangan budidaya udang vaname di Sumatera Barat jika dikelola secara lebih terarah.
[irp posts=”35370″ ]
“Kita melihat peluang besar di sektor ini. Jika dikelola optimal, kontribusinya terhadap PAD bisa signifikan,” ujar HM Nurnas.
Selain aspek teknis, rapat juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah didorong untuk membangun sinergi yang kuat dengan pelaku usaha serta pemangku kepentingan lain guna mempercepat pengembangan industri pembenihan udang yang berkelanjutan dan kompetitif.
Tim Ahli menilai, selama ini sektor perikanan belum sepenuhnya menjadi prioritas dalam strategi peningkatan pendapatan daerah. Padahal, dengan garis pantai yang panjang dan sumber daya kelautan yang melimpah, Sumatera Barat memiliki peluang besar untuk menjadikan sektor ini sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru.
[irp posts=”35366″ ]
Melalui rapat tersebut, Tim Ahli DPRD Sumbar berkomitmen merumuskan rekomendasi konkret yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan PAD, tetapi juga mampu mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir.
Langkah ini sekaligus menegaskan arah kebijakan baru yang lebih progresif, dengan menggeser fokus dari sumber PAD konvensional menuju sektor-sektor produktif berbasis potensi lokal. (*)













