Oleh : Leonardy Harmainy Datuak Bandaro Basa
Tidak terasa, perjalanan Ramadan kita telah memasuki fase paling menentukan: 10 hari terakhir. Inilah bagian paling istimewa dari bulan suci yang selalu dinantikan oleh orang-orang beriman.
Jika pada awal Ramadan Allah menurunkan rahmat-Nya, dan pada pertengahannya Allah membuka pintu ampunan-Nya, maka pada 10 hari terakhir Allah menjanjikan sesuatu yang lebih agung: pembebasan dari api neraka.
Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan perhatian yang sangat besar pada hari-hari ini. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad dan tercatat dalam kitab hadis Sahih Bukhari serta Sahih Muslim disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Pesan hadis ini sangat jelas: 10 hari terakhir adalah puncak ibadah di bulan Ramadan. Jika pada hari-hari sebelumnya seseorang masih lalai, maka fase inilah kesempatan terakhir untuk memperbaiki diri.
[irp posts=”34602″ ]
Salah satu keistimewaan terbesar pada 10 hari terakhir Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah berfirman:
“Lailatul qadar khairun min alfi syahr.”
Artinya, satu malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Jika dihitung, seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Bayangkan, satu malam ibadah bisa bernilai seperti ibadah sepanjang usia manusia. Inilah karunia luar biasa yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad.
Namun para ulama juga mengingatkan dengan tegas: orang yang paling merugi adalah mereka yang melewati Lailatul Qadar tanpa mendapatkan ampunan Allah. Kerugian itu bukan karena tidak mengetahui tanggalnya, tetapi karena tidak bersungguh-sungguh mencarinya.
Karena itu, ada beberapa amalan yang seharusnya diperbanyak pada 10 malam terakhir Ramadan.
Pertama, menghidupkan malam dengan qiyamul lail. Jangan biarkan malam-malam terakhir Ramadan berlalu dalam kelalaian. Isilah dengan shalat malam, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan doa. Tidak harus panjang atau berat. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kesungguhan hati.
Kedua, memperbanyak istighfar dan taubat. Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Ramadan adalah waktu terbaik untuk membersihkan hati dari kesalahan masa lalu. Rasulullah bahkan mengajarkan doa yang sangat dianjurkan dibaca ketika mencari Lailatul Qadar:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.
Doa ini pendek, tetapi mengandung harapan yang sangat besar: agar Allah menghapus seluruh dosa yang pernah kita lakukan.
[irp posts=”34599″ ]
Ketiga, memperbanyak sedekah dan amal kebaikan. Rasulullah dikenal sebagai orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi ketika Ramadan. Memberi makanan berbuka, membantu orang yang membutuhkan, atau sekadar berbagi rezeki kepada sesama adalah amal yang sangat dicintai Allah.
Namun di balik semua amalan itu, ada satu renungan penting yang sering kita lupakan.
Ramadan tahun lalu mungkin kita masih berkumpul bersama banyak orang: keluarga, sahabat, tetangga, dan orang-orang yang kita cintai. Hari ini sebagian dari mereka sudah kembali kepada Allah. Waktu berjalan begitu cepat, dan kehidupan manusia tidak pernah dijamin sampai Ramadan berikutnya.
Karena itu, tidak ada kepastian bahwa kita akan bertemu Ramadan tahun depan.
Jika pada awal Ramadan kita belum maksimal, jika pada pertengahannya kita masih banyak lalai, maka 10 hari terakhir ini adalah kesempatan terakhir untuk memperbaiki semuanya.
- Perbanyak membaca Al-Qur’an.
- Perbanyak doa.
- Perbanyak istighfar.
Dan yang paling penting, dekatkan hati kita kepada Allah.
Sebab boleh jadi, Ramadan kali ini adalah Ramadan terakhir dalam hidup kita. (*)
[irp posts=”34596″ ]


Oleh : Leonardy Harmainy Datuak Bandaro Basa










