Opini

Bahaya Media Elektronik pada Anak

237
×

Bahaya Media Elektronik pada Anak

Sebarkan artikel ini
Media
Bahaya Media Elektronik pada Anak

Penulis:  — Farah Handika —

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, media elektronik telah menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Telepon pintar, tablet, televisi, gim daring, dan berbagai platform media sosial menawarkan hiburan sekaligus akses informasi tanpa batas.

Namun, di balik kemudahan itu terdapat persoalan yang tidak boleh dianggap sepele: *ketika teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu justru mengambil alih masa kanak-kanak.*

Anak yang terlalu lama terpaku pada layar bukan sekadar kehilangan waktu bermain. Ia berpotensi kehilangan kesempatan untuk berinteraksi langsung, bergerak aktif, membaca situasi sosial, mengembangkan kreativitas, dan membangun kemampuan mengendalikan emosi.

Yang lebih mengkhawatirkan, persoalan ini sering dianggap sebagai hal biasa. Anak diam dengan gawai di tangan dianggap “tidak merepotkan”. Anak yang sibuk bermain gim dianggap sedang bersantai. Padahal, jika penggunaan tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi ketergantungan perilaku terhadap perangkat digital.

*Masalahnya bukan semata-mata pada gawai, melainkan pada bagaimana dan seberapa lama anak menggunakannya.*

Media elektronik juga membuka pintu menuju berbagai konten yang belum tentu sesuai dengan usia anak. Kekerasan, bahasa kasar, pornografi, perjudian, penipuan, hingga berbagai bentuk perundungan dapat muncul melalui layar yang berada hanya beberapa sentimeter dari wajah mereka.

Orang tua tidak boleh berasumsi bahwa anak selalu aman hanya karena berada di dalam rumah.

Dunia digital tidak memiliki pagar seperti halaman rumah. Sekali anak memiliki akses internet tanpa pendampingan, ia dapat berhadapan dengan dunia yang jauh lebih luas daripada kemampuan mereka untuk memahami dan menyaringnya.

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.

Melarang anak menggunakan teknologi sama sekali bukan solusi yang realistis. Anak justru perlu dibekali kemampuan menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab. Orang tua harus mengetahui apa yang ditonton anak, gim apa yang dimainkan, siapa yang berinteraksi dengannya, serta berapa lama waktu yang dihabiskan di depan layar.

Lebih penting lagi, *orang tua tidak cukup hanya membuat aturan—mereka harus memberikan contoh.*

Sulit meminta anak meletakkan telepon jika orang tua sendiri terus-menerus menatap layar ketika sedang makan, berbicara, atau berkumpul bersama keluarga.

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Sekolah pun memiliki tanggung jawab. Pendidikan literasi digital tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan internet atau aplikasi. Anak perlu diajarkan cara mengenali informasi palsu, menjaga privasi, menghadapi perundungan digital, memahami jejak digital, serta mengetahui bahwa tidak semua hal yang muncul di internet layak dipercaya atau ditiru.

Kita tidak sedang menghadapi perang melawan teknologi. Kita sedang menghadapi tantangan bagaimana memastikan teknologi tetap berada di tangan manusia, bukan manusia yang dikendalikan oleh teknologi.

Karena itu, membiarkan anak tumbuh tanpa batas di dunia digital bukanlah bentuk kasih sayang. Memberikan gawai tanpa pengawasan bukan pula tanda bahwa orang tua mengikuti perkembangan zaman.

*Kasih sayang kepada anak juga berarti berani memberikan batas.*

Anak membutuhkan layar, tetapi mereka jauh lebih membutuhkan orang tua yang hadir. Mereka membutuhkan teknologi, tetapi juga membutuhkan permainan di luar rumah, percakapan di meja makan, buku yang dibaca, teman yang ditemui secara langsung, dan keluarga yang benar-benar mendengarkan.

Jangan sampai suatu hari kita memiliki generasi yang sangat mahir mengoperasikan teknologi, tetapi gagap berkomunikasi; cepat memperoleh informasi, tetapi sulit membedakan kebenaran dan kebohongan; memiliki ribuan teman di dunia maya, tetapi kesulitan membangun hubungan nyata.

*Teknologi seharusnya menjadi alat untuk mempersiapkan masa depan anak, bukan menjadi pencuri masa kanak-kanak mereka. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID