Padang

Tol Padang-Pekanbaru Mulai Diujicobakan 15 Desember

260
×

Tol Padang-Pekanbaru Mulai Diujicobakan 15 Desember

Sebarkan artikel ini
TOL
Exit Tol Padang-Pekanbaru di Kapalo Hilalang, Padang Pariaman, yang juga akses menuju Tarok City, beberapa waktu yang lalu. Seksi I Padang-Sicincin sendiri rencananya akan diujicobakan pada 15 Desember 2024 mendatang.

PADANG, ONtime.ID—PT Hutama Karya (Persero) bakal melakukan uji coba Jalan Tol Padang-Pekanbaru Seksi I Padang-Sicincin pada 15 Desember mendatang. Kehadiran tol Padang-Pekanbaru diharapkan bisa mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (Sumbar), termasuk juga menjadi solusi sejumlah persoalan transportasi dan lalu lintas di Ranah Minang.

Pengamat Transportasi Universitas Andalas (Unand), Yossyafra melihat, pembangunan infrastruktur jalan pada suatu daerah merupakan upaya untuk memperluas aksesibilitas dan meningkatkan mobilitas suatu daerah. Begitu pula dengan keberadaan Jalan Tol Padang-Pekanbaru yang akan diresmikan Desember mendatang, yang juga akan meningkatkan dua aspek tersebut.

“Saat ada pembangunan infrastruktur jalan baru, maka akses baru akan terbuka. Saat akses ini terbuka dan mobilitas meningkat, maka akan terjadi kemudahan baik dari segi biaya atau ongkos transportasi umum. Setidaknya akan ada perubahan pada jumlahnya serta muatan yang diangkut akan lebih fleksibel, karena ada akses lain yang bisa dilalui sehingga akan mempercepat dan mempermudah proses sampainya,” katanya.

Keberadaan Tol Padang-Pekanbaru nantinya, menurut Yossyafra, akan meningkatkan laju perekonomian Sumbar, karena adanya kemudahan akses untuk pengiriman sentra produksi dari Padang ke Pekanbaru maupun dari Pekanbaru ke Padang.

“Secara perekonomian, keberadaan tol ini sangat menguntungkan dan disinyalir akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Seperti berbagai macam sentra produksi yang ada di Sumbar, contohnya di Limapuluh Kota. Lalu, sayuran dari Tanah Datar dan Agam ke arah Riau akan semakin lancar dan semakin cepat prosesnya. Ini salah satu dampak yang akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

Terkait permasalahan yang ada di Sumbar, seperti kemacetan, katanya, saat volume kendaraan meningkat sedangkan kapasitas aksesnya tetap, hal itu akan menimbulkan rasio perbandingan volume dan kapasitas semakin besar sehingga tidak akan memiliki kecocokan.

“Kemacetan juga bisa terjadi pada spot-spot yang berpotensi terjadinya kecelakaan, bencana alam seperti longsor dan banjir, atau pada simpang-simpang yang mobilitasnya sangat padat, di mana arus lalu lintasnya dominan. Hal inilah yang akan terus menimbulkan antrean panjang dan waktu di perjalanan juga akan semakin lama,” tuturnya.

Ia menyebutkan, hal tersebut butuh penanganan dari pihak terkait, baik dari sisi jalan maupun lalu lintas, serta dari sisi rekayasa dan manajemen lalu lintas itu sendiri.

Terkait manajemen lalu lintas, pemerintah mungkin tidak akan mengatur terkait pembagian akses yang bisa dilalui, karena menurutnya, pengguna jalan diberikan hak untuk memilih akan melalui jalan tol yang memungut biaya ataupun jalan nasional yang tidak berbayar.

Menurut pengamatannya, orang yang memiliki kendaraan pribadi atau kendaraan pada umumnya akan lebih memilih melalui jalan tol. Kendati demikian, hukum keseimbangan kerap kali berlaku. “Yang jelas, keberadaan tol tersebut akan meningkatkan mobilitas, serta penurunan volume kendaraan di jalan nasional juga pasti terjadi. Namun kembali lagi kepada hak pengguna jalan, bisa jadi mereka memilih tol karena lebih cepat atau hanya sekadar untuk menikmati pemandangan. Jadi kepentingan dan interest-nya tentu akan berbeda,” ujar Yossyafra.

Senada dengan itu, Ketua Pusat Transportasi Lembaga Penelitian Unand, Yosritzal menyebutkan, keberadaan Tol Padang-Pekanbaru dipastikan akan sangat berdampak kepada perkembangan ekonomi Sumbar, di mana pergerakan laju mobilitas akan meningkat dan lebih cepat dari biasanya.

“Saat transportasi lancar, maka pertumbuhan ekonomi juga akan lancar dan akan lebih besar, karena ada peluang dan akses yang lebih mudah. Tapi kalau transportasi dan akses terhambat, sebagai contoh peristiwa banjir bandang di Lembah Anai, yang mengakibatkan kemacetan dan berimbas pada perekonomian Sumbar yang kehilangan hingga puluhan miliar rupiah,” ujarnya.

Kemacetan, di sisi lain akan berkesinambungan terhadap pendapatan suatu daerah, karena kemacetan merupakan kerugian yang tak terbilang jumlahnya. “Tidak pun ada yang diangkut oleh transportasi di jalan, kemacetan itu sendiri sudah menjadi kerugian karena orang-orang kehilangan waktu, rugi bahan bakar, kelelahan, dan sebagainya serta stresnya juga dapat,” tuturnya.

Terkait jalan tol disinyalir akan menjadi solusi untuk memberantas kemacetan di Sumbar, ia mengatakan benar akan menjadi solusi, namun hanya untuk sementara waktu. Hal ini karena selama ini jalan tol tidak pernah menjadi solusi permanen untuk mengatasi kemacetan.

“Jalan tol hanya akan menjadi solusi sementara, karena akan terjadi peningkatan jumlah kendaraan yang beroperasi di jalan tol itu sendiri. Kita bisa lihat kasusnya di ibu kota, maupun kota-kota lain di Indonesia, bahwa jalan tol hanya jadi solusi sementara,” ujar Yosritzal.

Kemacetan, menurutnya, bisa jadi berkurang di jalan biasa karena orang sudah berbondong-bondong melalui jalan tol. Kendati demikian, dengan adanya tol bukan berarti mematikan akses yang lama sehingga bebannya bisa dibagi.

“Sebagian kendaraan bisa melewati tol, sebagian lagi bisa melewati jalur biasa. Tapi, dengan adanya tol kemudian jalur biasa dimatikan dengan tidak adanya peremajaan atau kualitas jalannya semakin jelek, maka tol tidak akan menjadi solusi atas permasalahan sebelumnya. Jadi dua akses ini harus tetap ada dalam kondisi mantap,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan Jalan Tol Padang-Pekanbaru Seksi I Padang-Sicincin akhirnya bakal segera rampung. PT Hutama Karya (Persero) menjadwalkan uji coba ruas tol sepanjang 36,6 kilometer itu bakal dilakukan pada 15 Desember 2024 mendatang.

Hal ini disampaikan Direktur Operasi III PT Hutama Karya (Persero), Koentjoro di sela-sela peninjauan pembangunan Tol Padang-Sicincin di Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (24/10).

Ia menyebut, uji coba tol yang menjadi proyek strategis nasional tersebut sekaligus untuk memastikan kelancaran arus libur Natal dan Tahun Baru 2025. Ia berharap uji coba tersebut dapat memperlancar arus lalu lintas yang diperkirakan akan meningkat drastis dari arah Kota Padang menuju Kota Bukittinggi maupun sebaliknya.

Selama masa uji coba, PT Hutama Karya memastikan tidak ada pemberlakuan tarif kepada pengguna jalan tol alias gratis. Namun, pihaknya tidak merinci berapa lama masa uji coba tol yang merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) tersebut. “Jadi, selama libur Natal dan Tahun Baru 2025 masyarakat bisa menikmati jalan tol ini dengan gratis,” kata Koentjoro. (*)