Opini

Meneguhkan Pers Sehat di Era Disrupsi: Momentum HPN 2026 untuk Kedaulatan Ekonomi dan Kekuatan Bangsa

161
×

Meneguhkan Pers Sehat di Era Disrupsi: Momentum HPN 2026 untuk Kedaulatan Ekonomi dan Kekuatan Bangsa

Sebarkan artikel ini
HPN
Meneguhkan Pers Sehat di Era Disrupsi: Momentum HPN 2026 untuk Kedaulatan Ekonomi dan Kekuatan Bangsa

Oleh: AHMAD SALEH, SH (Pendiri Media ONtime.ID) 

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang dipusatkan di Provinsi Banten pada 9 Februari menjadi momentum refleksi penting bagi dunia jurnalistik Indonesia. Mengusung tema besar “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat,” peringatan tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan panggilan serius untuk menata ulang ekosistem pers nasional di tengah perubahan lanskap informasi yang semakin kompleks.

Pendiri media online ONtime.ID, Ahmad Saleh, SH., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat atas peringatan HPN 2026. Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini sangat tepat dan kontekstual dengan tantangan yang dihadapi pers nasional saat ini, khususnya dalam menjaga kualitas informasi di tengah arus digital yang semakin deras.

HPN, bagi Ahmad Saleh, harus dimaknai sebagai ruang evaluasi dan penguatan komitmen bersama untuk menjaga marwah pers sebagai pilar keempat demokrasi. Pers tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pengontrol kekuasaan, penggerak literasi publik, serta pengawal kepentingan masyarakat luas.

Di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, pers dihadapkan pada tantangan serius. Disrupsi digital telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat. Kecepatan sering kali mengalahkan akurasi, popularitas mengalahkan kedalaman, dan viralitas mengalahkan verifikasi. Dalam situasi seperti ini, kesehatan pers menjadi isu fundamental.

Pers yang sehat bukan sekadar bebas dari tekanan politik dan ekonomi, tetapi juga mampu menjaga integritas, independensi, dan profesionalisme. Ahmad Saleh menegaskan bahwa kesehatan pers harus dimulai dari komitmen internal setiap media untuk memproduksi informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.

“Selamat Hari Pers Nasional 2026. Semoga pers Indonesia semakin profesional, independen, dan mampu menjadi rujukan utama masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran sekaligus harapan terhadap kondisi pers saat ini. Di satu sisi, kebebasan pers di Indonesia telah mengalami kemajuan signifikan sejak era reformasi. Namun di sisi lain, tantangan baru muncul dalam bentuk misinformasi, disinformasi, dan polarisasi opini di ruang digital.

Media online, khususnya, berada di garis depan dalam menghadapi dinamika tersebut. Persaingan yang ketat dalam industri media digital sering kali mendorong praktik jurnalisme yang mengedepankan kecepatan dan klik semata. Jika tidak diimbangi dengan standar etik yang kuat, kondisi ini dapat menggerus kepercayaan publik terhadap media.

Ahmad Saleh menilai bahwa kepercayaan publik adalah modal utama pers. Tanpa kepercayaan, media akan kehilangan legitimasi sosialnya. Oleh karena itu, setiap insan pers harus menjadikan akurasi, verifikasi, dan keberimbangan sebagai prinsip utama dalam setiap produk jurnalistik.

Tema HPN 2026 juga menekankan hubungan erat antara pers sehat dan kedaulatan ekonomi. Dalam konteks ini, pers memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem ekonomi yang transparan dan berkeadilan. Pemberitaan yang objektif dan investigatif dapat mendorong akuntabilitas, mencegah praktik korupsi, serta memperkuat iklim investasi yang sehat.

Pers yang kredibel mampu menciptakan ruang informasi yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Informasi yang akurat akan membantu pelaku usaha, investor, dan masyarakat dalam mengambil keputusan ekonomi yang rasional. Sebaliknya, informasi yang menyesatkan dapat merusak kepercayaan pasar dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Dalam konteks ini, Ahmad Saleh menekankan pentingnya pers sebagai mitra pembangunan. Pers harus mampu menyajikan informasi yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif. Kritik yang konstruktif akan membantu pemerintah dan pelaku usaha dalam memperbaiki kebijakan serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Namun, kemitraan tersebut tidak boleh mengurangi independensi pers. Pers harus tetap berdiri di atas kepentingan publik, bukan kepentingan kelompok atau kekuasaan tertentu. Independensi adalah syarat mutlak bagi pers untuk menjalankan fungsi kontrol sosial secara efektif.

Selain itu, HPN 2026 juga harus menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang jurnalistik. Transformasi digital menuntut jurnalis untuk memiliki kemampuan multidisipliner, mulai dari literasi data, verifikasi digital, hingga pemahaman terhadap algoritma media sosial. Tanpa peningkatan kapasitas, pers akan tertinggal dalam menghadapi perubahan teknologi yang cepat.

Ahmad Saleh juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara media, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil dalam membangun ekosistem informasi yang sehat. Kolaborasi ini tidak hanya penting untuk menjaga kualitas informasi, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan industri media yang berkelanjutan.

Industri pers saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Perubahan model bisnis media akibat digitalisasi telah mengurangi sumber pendapatan tradisional. Dalam kondisi ini, inovasi dan adaptasi menjadi kunci keberlangsungan media. Media harus mampu mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan tanpa mengorbankan independensi editorial.

Penyelenggaraan HPN 2026 di Provinsi Banten diharapkan menjadi simbol kebangkitan pers nasional yang lebih kuat dan adaptif. Kehadiran insan pers dari berbagai daerah di Indonesia harus dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi dan pertukaran gagasan untuk memperkuat jurnalisme berkualitas.

Lebih dari itu, HPN harus menjadi momentum untuk mengingatkan kembali bahwa pers adalah penjaga memori kolektif bangsa. Setiap berita yang diproduksi memiliki dampak terhadap cara masyarakat memahami realitas. Oleh karena itu, tanggung jawab moral pers tidak pernah kecil.

Dalam konteks bangsa yang sedang menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari ketidakpastian ekonomi hingga dinamika geopolitik, keberadaan pers yang sehat menjadi kebutuhan mendesak. Pers yang sehat akan melahirkan masyarakat yang sehat secara informasi. Masyarakat yang sehat secara informasi akan melahirkan ekonomi yang kuat. Dan ekonomi yang kuat akan memperkokoh ketahanan bangsa.

HPN 2026 harus menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen tersebut. Pers Indonesia harus terus berbenah, meningkatkan profesionalisme, dan menjaga integritas. Sebab hanya dengan pers yang sehat, kedaulatan ekonomi dapat terwujud dan bangsa yang kuat dapat dibangun.

Selamat Hari Pers Nasional 2026. Saatnya pers Indonesia meneguhkan peran sebagai penjaga kebenaran dan penggerak kemajuan bangsa. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID