Opini

Indonesia Butuh Orang Baik

444
×

Indonesia Butuh Orang Baik

Sebarkan artikel ini
Indonesia
Leonardy Harmainy, Ketua Badan Kehormatan DPD RI

 LEONARDY HARMAINY                                                                                                         Ketua Badan Kehormatan DPD RI

 

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sebanyak 275,77 juta jiwa pada 2022. Mayoritas dari jumlah tersebut, beragama Islam, 237,53 pada 2021 atau 86,9 persen.

Sementara itu, Perusahaan riset DataReportal menyebut kalau jumlah perangkat seluler yang terkoneksi di Indonesia mencapai 370,1 juta pada Januari 2022. Artinya, lebih banyak perangkat seluler yang menyala dari pada penduduk Indonesia.

Melalui data-data di atas, bagaimana kita bisa mencari orang-orang baik untuk mengurus negeri ini? Bukankah berita-berita yang viral sekarang menyebutkan betapa banyak yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Walaupun kampanye antikorupsi sudah pula disiapkan dana sedemikian banyak.

Mari kita bertanya masih adakah Bupati yang baik, Wali kota yang baik, Gubernur yang baik, DPRD yang baik, dibandingkan dengan pemberitaan tentang harta kekayaan dan sifat glamour di ruang publik? Jangan dijawab dulu.

Mari bertanya lagi, masih adakah Menteri yang baik, Presiden dan wakil yang baik, DPR, DPD, MPR yang baik? dibandingkan dengan pemberitaan kasus pajak, aliran dana ilegal hingga Rp349 Triliun itu? Lagi, jangan dijawab dulu.

Mari bertanya lagi, masih adakah Polisi yang baik, Tentara yang baik, Jaksa yang baik, Hakim yang baik, di tengah pemberitaan tentang aparatur yang dicurigai menggunakan kedudukan untuk meraup uang negara? Lagi-lagi, jangan dijawab dulu.

Mari bertanya lagi, masih adakah Mahasiswa yang baik, Dosen yang baik, Dekan yang baik, Rektor yang baik di tengah merebak pemberitaan tentang mahasiswa-dosen terlibat pelecehan seksual, juga rektor yang tertangkap karena kasus korupsi?

Jika Tan Malaka (1897-1949) menyebutkan “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda,” maka kita bisa menyebutkan, “atas nama kemerdekaan yang telah dianugrahkan Allah Swt. “Kita masih bisa bertahan karena punya harapan. Jika hidup sudah tak punya harapan maka alamat kematian segera tiba. Harapan untuk menjadi lebih baik sebagai individu, keluarga, bangsa, negara adalah cita-cita yang harus dijaga. Itulah idealisme yang hendak diungkapkan sebagai kemewahan oleh Tan Malaka.

Harapan menjadi lebih baik sering kali dikacaukan oleh godaan-godaan nafsu  yang buruk. Memperkaya diri dan hidup hedonis. Lupa diri dan mudah tersungkur di kaki industri dan kapitalisme. Itulah yang menjalar lebih banyak jumlahnya dari rakyat Indonesia bernama seluler seperti diungkapkan pada data di awal tulisan ini.

Pertanyaan-pertanyaan di atas bukanlah sesuatu yang mengada-ada, namun hendak menggelitik kekuasaan-kekuasaan di tangan orang-orang yang cenderung lupa diri. Kekuasaan sekecil apapun adalah amanah yang tidak boleh sekalipun dikhianati. Bagaimana bisa kita membentengi diri jika sudah menduduki kekuasaan tersebut? Jawabnya tiada lain adalah spiritualitas. Ada sikap teologis dalam setiap langkah, menjaga etika dan moralitas yang tinggi bersebab takut atas balasan yang berat.

Kita masih optimis menjawab, begitu banyak orang-orang baik di Indonesia tercinta ini, hanya saja lebih memilih sebagai mayoritas diam (silent majority). Cenderung bekerja dalam diam dan tak hendak juga tak mau didorong untuk berkorban lebih besar agar mengurus Indonesia. Mereka berjalan dalam sepi, terpinggirkan dari sikap berani dan ambisi. Di situlah orang-orang baik berada, tidak tersorot kamera untuk viral di ruang publik.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa mereka tidak hadir di ruang publik untuk ambil bagian membasmi kejahatan terorganisir ini? Bukankah kejahatan terorganisir akan mendapat tempat dari kebaikan yang tidak kocar-kacir? Jawaban sederhananya adalah, perlu ada kampanye kesadaran sosial agar orang-orang yang dipandang baik dan cakap diberi tempat dari pada orang-orang yang ambisi dan terlalu berani.

Sesungguhnya, Indonesia tidak kekurangan orang baik. Masih banyak orang baik di negara ini. Harus kita cari mereka, pada ivent Pemilu 2024 nanti. Seyogyanya, tidak hanya uang semata yang mesti menjadi tolok-ukur setiap calon pemimpin, harus pula kecakapan, kebaikan, ketakwaan, yang diuji dengan seksama. Uang sudah menggeser mereka ke tepi, sehingga kita sulit dan lama menanti berita-berita baik dari pemimpin yang baik. Bukan banjir informasi yang memperkeruh ruang publik dengan segala keburukan negeri ini.

Bulan suci Ramadhan tempat yang baik untuk melihat ke dalam diri, apakah kita sudah menjadi lebih baik; Khoirunnas Anfauhum Linnas “Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab No. 129). Tentu saja, jawabannya harus tetap singgah di hati tak perlu diungkapkan agar tidak riya’. Pada kalimat lain, ditemukan: Menjadi orang penting itu baik, namun menjadi orang baik jauh lebih penting!

Harapan kita, ibadah puasa akan membuka jalan pikiran untuk menjadi orang baik dan lebih baik lagi, kemudian memilih orang baik, dalam memimpin negeri ini di setiap lini. Masih begitu banyak orang baik di negeri ini, hanya saja sering sekali kesempatan untuk mereka tertutup rapi oleh keengganan orang untuk bermewah-mewah dengan idealisme. Sebaliknya, jauh lebih tergoda dengan kehidupan.

Indonesia akan lebih baik jika setiap lini pemimpinnya adalah orang-orang baik, dengan spiritualitas yang teruji dan moralitas yang tinggi. Selamat menunaikan ibadah puasa. (*)