SUMBAR

Arus Mudik Menuju Sumbar Mulai Bergerak

578
×

Arus Mudik Menuju Sumbar Mulai Bergerak

Sebarkan artikel ini
mudik
Penumpang keluar dari pintu kedatangan di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Senin (25/4). Pihak bandara memprediksi akan terjadi lonjakan penumpang pada H-3 lebaran tahun ini hingga 50 persen dari tahun sebelumnya.

Ia menambahkan, untuk seluruh pemudik yang akan terbang harus memenuhi syarat yang tertera di Surat Edaran (SE) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Nomor 36 Tahun 2022. Beberapa di antaranya, bagi penumpang yang sudah melakukan vaksin booster akan dipersilahkan terbang, tetapi bagi penumpang yang baru vaksin dosis dua sebelum terbang harus melakukan swab PCR terlebih dahulu.

“Kami akan memastikan semua penumpang dalam keadaan sehat dan aman, dengan memakai masker serta tetap patuhi potokol kesehatan yang telah ditetapkan,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Executive General Manager AP II KC BIM, Siswanto mengatakan, untuk mengatasi lonjakan, pihak juga melakukan perpanjangan jam operasional sekitar satu jam. Perpanjangan jam operasional ini guna mengantisipasi jika ada penerbangan yang mengalami keterlambatan atau delay. “Selain itu kami juga stand by menunggu kedatangan pesawat yang delay tersebut,” ujarnya.

Ia mengatakan, keberadaan posko monitoring transportasi udara angkutan Lebaran 2022 inilah yang nantinya akan siap siaga membantu segala bentuk keamanan dan kenyaman pemudik yang datang ke Sumbar.

“Posko ini akan mulai beroperasi 25 April hingga 10 Mei. Posko ini bisa saja akan ada masa perpanjangan, dengan melihat kondisi kita nantinya,” ujarnya.

Sementara itu, Komandan Lanud (Danlanud) Sutan Sjahrir Padang, Kolonel Pnb M.R.Y. Fahlefie mengaku dukung penuh segala bentuk kegiatan yang diadakan BIM, terutama dalam rangka pengawasan mudik Lebaran 2022 melalui jalur udara.

“Kami dengan pemangku kepentingan terkait sifatnya mendukung apapun yang dibutuhkan oleh rekan-rekan di sini. Segala bentuk bantuan kesehatan dengan tenaga kesehatan dan bantuan vaksin bagi yang belum vaksin,” katanya.

Fahlefie juga mempersiapkan personel untuk menjaga keamanan selama aktivitas mudik berjalan, dengan begitu dapat membantu lancarnya jalan mudik di BIM.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Sumbar, Heri Nofiardi menyebut, puncak arus mudik baru akan terjadi pada H-2 atau tepatnya pada 30 April 2021. Hal ini mengingat perjalanan melalui jalur darat memang memakan waktu yang lebih lama.

Guna memastikan kelancaran aktivitas mudik melalui jalur darat, pihaknya bersama pemangku kepentingan terkait, seperti Polda Sumbar, juga telah mendirikan sejumlah posko di beberapa titik.

“Kalau pada masa mudik, mulai dari H-7 sampai H-1, mungkin tidak akan ada masalah. Karena orang rantau mudik ke Sumbar kan tidak berbarengan, tidak seluruhnya datang pada hari yang sama. Yang perlu diwaspadai itu saat momen libur Lebaran, saat masyarakat Sumbar, baik yang di ranah maupun yang dari rantau, menyerbu lokasi-lokasi wisata,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya sudah memetakan sejumlah titik yang dinilai rawan, baik dari segi kemacetan, kecelakaan, maupun bencana. Untuk daerah rawan kemacetan, dari arah utara, terdapat sembilan titik yang berpotensi rawan macet.

Sembilan titik tersebut di antaranya, Pasar Lubuk Alung; Pasar Sicincin; Objek Wisata Lembah Anai; Objek Wisata Mifan, RM Pak Datuak, dan Sate Mak Syukur; Pasar Koto Baru, Pasar Padang Luar, Pasar Baso, Simpang Piladang, serta Pasar Payakumbuh.

Sedangkan dari arah selatan, terdapat tiga titik, yakni Simpang Gaung Teluk Bayur, sepanjang ruas Tarusan-Painan, dan Pasar Kambang.

“Untuk menghindari titik-titik kemacetan tersebut, kami juga sudah memetakan sembilan jalur alternatif,” ucapnya.

Adapun kesembilan jalur alternatif tersebut yakni, Simpang Polsek BIM-Simpang Pasar Usang; Simpang Polsek BIM-Simpang Katapiang-Jambak Lubuk Alung; dan Simpang Polsek BIM-Simpang Katapiang-Pariaman.

Kemudian, Sicincin-Malalak; Simpang Pandai Sikek-Pasar Amur; Simpang Batu Palano-Sei Puar-Simpang Tanjung Alam; Simpang Ampek Angkek Canduang-Tabek Patah-Situjuah Payakumbuh; Simpang Bungus Teluk Kabung-Tarusan; dan Simpang Padang Sawah.

Sementara itu, untuk lokasi rawan kecelakaan, Dishub Sumbar mencatat terdapat 75 titik rawan. Di Padang 13 titik, Bukittinggi dua titik, Padang Pariaman empat titik, Padang Panjang tujuh titik, Pariaman lima titik, Pesisir Selatan lima titik, Pasaman dua titik, Payakumbuh dua titik, Tanah Datar tiga titik, dan Sijunjung dua titik.

Berikutnya, di Agam empat titik, Kota Solok dua titik, Mentawai tiga titik, Pasaman Barat dua titik, Lima Puluh Kota lima titik, Sawahlunto satu titik, Dharmasraya dua titik, Kabupaten Solok empat titik, dan Solok Selatan tujuh titik.

“Selain titik rawan macet dan rawan kecelakaan, pemudik juga harus mewaspadai titik-titik yang diketahui rawan bencana longsor, yang ketika cuaca tidak bagus mesti dihindari,” kata Heri.

Sejumlah titik rawan longsor tersebut di antaranya, dari arah timur, Padang-Lubuk Silasih; Lubuk Silasih-Padang Aro; Muaro Kalaban-Sawahlunto; dan Muaro Kalaban-Kiliranjaao. Lalu dari dari arah barat, patut diwaspadai jalur Bukittinggi-Lubuk Sikaping.

Kemudian, dari arah utara, Sicincin-Padang Panjang; Sicincin-Malalak; Manggopoh-Padang Lua; dan Payakumbuh-perbatasan Riau. Lalu, dari arah selatan, Padang-Painan; Painan-Tapan; dan Tapan-Kerinci.