Padang

BASARNASPerkuat Kesiapsiagaan Hadapi Megathrust Mentawai

128
×

BASARNASPerkuat Kesiapsiagaan Hadapi Megathrust Mentawai

Sebarkan artikel ini
Basarnas
PETUGAS gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI/Polri, dan sejumlah pihak terkait lainnya melakukan simulasi penyelamatan korban bencana di pelataran kantor Balai Kota Padang, Kamis (31/10).

PADANG, ONtime.ID—Pemerintah daerah di Sumatera Barat (Sumbar) bersama instansi kebencanaan terkait yang ada di tingkat lokal maupun nasional terus berupaya mematangkan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman potensi bencana gempa dan tsunami imbas dari aktivitas seismik Megathrust Mentawai.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah dengan menyelenggarakan simulasi Latihan Gabungan (Latgab) Kesiapsiagaan Personel yang digelar Badan SAR Nasional (Basarnas) di Lapangan Galanggang, Balai Kota Padang, Kamis (31/10).

Pada kesempatan itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya (Marsma) TNI Kusworo menyatakan, latgab kali ini bukan sekadar upaya antisipasi terhadap dampak dari potensi Megathrust Mentawai secara teoritis, namun juga menjadi simulasi langsung untuk menghadapi bencana yang berpotensi nyata di wilayah Sumbar. Artinya, latgab ini bertujuan untuk mengasah kewaspadaan dan kesiapsiagaan peserta, yang nanti akan menyebarkan semangat yang sama di tengah masyarakat.

Sebelum digelar di Kota Padang, latihan serupa juga digelar di beberapa daerah rawan bencana  gempa dan tsunami di Indonesia, seperti Aceh, Yogyakarta, Selat Sunda yang meliputi Anyer, Carita, Tanjung Lesung, serta wilayah timur hingga Selat Bali dan Sorong di Papua.

Ia menyebut, kawasan yang berada di pertemuan lempeng besar, seperti Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik, memang memiliki risiko bencana tinggi. Termasuk di Sumbar yang notabene memiliki banyak sekali gunung berapi aktif. Kondisi ini menjadikan Sumbar sebagai salah satu daerah rentan bencana gempa dan tsunami.

Di samping itu, prakiraan kondisi cuaca yang telah di keluarkan BMKG juga turut meningkatkan risiko bencana. Hingga beberapa waktu ke depan, Sumbar diperkirakan akan mengalami periode hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat. Situasi ini memperbesar peluang terjadinya bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor, terutama di area rawan bencana.

“Maka, kesiapsiagaan perlu terus ditingkatkan. Kegiatan ini sangat penting untuk memperkuat upaya pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan SAR di wilayah-wilayah yang rawan bencana itu,” kata Kusworo.

Ia menekankan, kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi bencana sangatlah besar. Hal itu tergambar dari begitu tingginya intensitas operasi yang dilaksanakan Basarnas selama sembilan  bulan terakhir.

Selama Januari-September 2024, Basarnas telah melaksanakan 1.876 operasi SAR di seluruh Indonesia. Ribuan operasi tersebut tercatat telah berhasil menyelamatkan 33.289 korban. Sementara korban meninggal dunia hanya berjumlah 1,406 orang.

Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang, Suhaidi Ahadi menyatakan, hampir seluruh wilayah pesisir Sumbar adalah daerah dengan risiko tinggi bencana gempa dan  tsunami. Menyikapi hal  itu, pemda bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terkait telah mencanangkan sejumlah progam peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. “Salah satu upayanya yang sekarang kami jalankan adalah pencanangan Nagari Tsunami Ready Community di Nagari Ampiang Parak, Kabupaten Pesisir Selatan,” ujarnya.

Suhaidi menyebut, ada empat daerah yang telah dicanangkan sebagai wilayah Tsunami Ready Community di Sumbar, yakni Purus dan Lolong Belanti di Kota Padang, Ulakan Tapakis di Kabupaten Padang Pariaman, dan Tua Pejat di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Ia menegaskan, Sumbar terletak di zona sesar aktif Sumatera Fault Sistem. Meskipun sejauh ini BMKG telah mencatat terjadinya gempa-gempa kecil, namun ia berharap gempa-gempa kecil itu tidak memicu terjadinya gempa yang lebih besar.  Untuk itu, masyarakat Sumbar harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi potensi bencana gempa dan tsunami.

Ia menjelaskan, salah satu daerah dengan kategori ancaman tinggi adalah wilayah pesisir Kabupaten Kepulauan Mentawai yang bahkan telah dikategorikan sebagai daerah zona tsunami dekat. Daerah ini hanya punya golden time waktu penyelamatan diri selama 10 menit setelah terjadinya gempa.

“Seluruh pesisir Sumbar dari Pessel sampai Pasaman Barat berada di zona ancaman tsunami yang sangat besar. Berdasarkan pemodelan tsunami terakhir, wilayah landaanya sekitar 3-4 kilometer dengan golden time 20-30 menit,” tuturnya.

Ia menekankan, jika sewaktu-waktu terjadi bencana, masyarakat minimal harus memiliki kemampuan melakukan evakuasi mandiri. Kemampuan dan kesadaran ini hanya dapat diciptakan dengan seringnya menggelar simulasi latihan rutin.

Pada kesempatan yang sama, Plt Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy mengapresiasi upaya Basarnas dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana di Sumbar. Audy menilai, SAR di Padang merupakan salah satu tim SAR paling aktif di Indonesia. Audy menilai, selain terlatih, SAR di Kota Padang juga berpengalaman, baik di darat maupun di laut.

“Potensi megathrust adalah ancaman nyata, dan dampaknya berpotensi meluas bagi sejumlah daerah kabupaten/kota. Ini tanggung jawab bersama, kita semua harus saling mendukung dan bersinergi. Kami berterima kasih kepada Kepala Basarnas atas dukungannya di Sumbar,” ujar Audy.

Audy berharap latgab ini menjadi momentum penting untuk mengasah dan memperkuat kesiapsiagaan Sumbar dalam menghadapi potensi bencana. Dengan kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah dalam mengantisipasi megathrust semakin solid dan terarah.

Audy mengungkapkan rasa terima kasih atas perhatian besar pemerintah pusat terhadap situasi kebencanaan di Sumbar. Termasuk saat awal September lalu, di mana Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto juga memimpin langsung Apel Kesiapsiagaan Potensi Megathrust di Kabupaten Mentawai.

“Sumbar telah melewati rentetan kejadian bencana mulai dari gempa, letusan gunung, banjir lahar dingin, dan lain sebagainya. Pada saat momen-momen menyulitkan seperti itu, kita merasakan betul kehadiran pemerintah pusat, mulai dari BNPB, Basarnas, Kementerian Sosial, kementerian terkait lain, serta organisasi relawan,” ucap Audy.

Audy menekankan, bahwa kesiapsiagaan terhadap berbagai jenis potensi kebencanaan sangat diperlukan. Sebab, hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memastikan kapan bencana akan terjadi. Termasuk dalam menanggapi potensi guncangan gempa Mentawai Megathrust, yang harus disikapi dengan kesiapsiagaan dan pola mitigasi yang baik dan terukur.

“Kita tidak dapat memastikan kapan bencana datang, tapi kita bisa mengantisipasi besaran dampak yang bisa diakibatkan oleh bencana itu. Oleh karena itu, simulasi yang akan digelar di Balai Kota Padang ini berarti sangat penting bagi kita,” katanya. (*)