KOPENHAGEN, ONTIME.ID- Pemerintah Denmark pada Jumat (9/2) lalu menegaskan tidak akan menangguhkan penyaluran dana kepada badan PBB yang membantu pengungsi Palestina, UNRWA, dalam menjalankan operasi kemanusiaan di Jalur Gaza.
Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan Denmark akan tetap menyalurkan dana kepada UNRWA sesuai jadwalnya pada Maret mendatang.
“UNRWA adalah organisasi di Gaza yang memiliki kemampuan memastikan masyarakat sipil di sana hidup dengan layak,” ucap Rasmussen dilansir dari media setempat, DR, Minggu (11/2).
Rasmussen mengatakan, hukuman kolektif terhadap masyarakat Gaza tidak akan menghasilkan kontribusi apapun dalam menyelesaikan krisis yang rumit di daerah tersebut.
“Apalagi, organisasi tersebut memiliki 30 ribu pegawai, dan 13 ribu di antaranya bekerja di Gaza,” kata dia.
Ia juga mengatakan, sejumlah negara yang sebelumnya memutuskan menangguhkan penyaluran dana bagi UNRWA sudah berkomitmen untuk kembali memberi bantuan finansial kepada badan PBB tersebut tahun ini.
Rasmussen juga mengatakan Respons negara-negara tersebut terhadap tuduhan Israel terkait keterlibatan beberapa staf UNRWA dalam serangan Hamas pada 7 Oktober hanyalah ‘sinyal politik’ semata.
Sebelumnya, Rasmussen memperingatkan menteri-menteri luar negeri Belanda, Swedia, Jerman, dan Prancis dalam sebuah rapat sebelumnya bahwa apabila UNRWA ambruk, krisis di Gaza akan semakin runyam.
Dalam pernyataan pada akun resminya di X, atau Twitter, ia mengatakan telah menjalin dialog membangun dengan menteri-menteri dari Belanda, Swedia, Jerman, dan Prancis untuk membahas upaya mengembalikan kepercayaan kepada UNRWA.
Meski demikian, ia juga mengatakan bahwa semua tuduhan terhadap pegawai UNRWA harus tetap diselidiki secara menyeluruh.
Sementara itu, warga Palestina di Jalur Gaza dikabarkan terpaksa makan rumput lantaran krisis makanan hebat imbas agresi Israel. Warga Gaza semakin kesulitan mendapat bantuan kemanusiaan karena serangan-serangan Israel yang tiada henti, yang kini bahkan mulai menyasar Rafah.
Rafah adalah wilayah ujung selatan Gaza yang berbatasan dengan Mesir. Wilayah ini menjadi lokasi pengungsian bagi sekitar 1,3 juta warga Gaza serta menjadi pintu masuk bagi bantuan kemanusiaan.
Agresi Israel di Gaza hingga kini telah menewaskan 27.947 orang. Lebih dari 12 ribu di antaranya merupakan anak-anak dan 8.190 lainnya perempuan.
Menurut laporan PBB, serangan Israel di Gaza menyebabkan 85 persen penduduk mengungsi di tengah krisis makanan, air bersih, dan akses kesehatan. Sebanyak 60 persen infrastruktur daerah kantong itu juga rusak atau hancur buntut agresi militer.
Situasi yang sudah mengkhawatirkan ini pun semakin diperparah dengan rencana Israel menyerang Rafah.
Pada Kamis (8/2),Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer merencanakan evakuasi penduduk Palestina dari wilayah ujung selatan Gaza itu.
Menurut laporan Al Jazeera Arab, sedikitnya 15 orang tewas dan dalam serangan yang menargetkan rumah-rumah penduduk di Rafah pada Sabtu (10/2) dini hari.
Sebanyak tujuh orang juga tewas buntut serangan Zionis di sebuah rumah di Al Nasr, wilayah tetangga Rafah. (vand)













