Internasional

Dua Kapal Tanker Diserang di Dekat Selat Hormuz, Ancaman terhadap Jalur Energi Global Meningkat

249
×

Dua Kapal Tanker Diserang di Dekat Selat Hormuz, Ancaman terhadap Jalur Energi Global Meningkat

Sebarkan artikel ini
Kapal
Dua Kapal Tanker Diserang di Dekat Selat Hormuz, Ancaman terhadap Jalur Energi Global Meningkat

JAKARTA, ONtime.ID — Dua kapal tanker diserang di sekitar mulut Teluk Persia, memicu alarm baru atas keamanan jalur energi global dan memperbesar risiko gangguan di Selat Hormuz koridor vital yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar gas alam cair (LNG).

Laporan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebut satu insiden terjadi di utara Oman dan satu lagi lebih jauh ke selatan. Otoritas Keamanan Maritim Oman mengonfirmasi kapal tanker Skylight menjadi salah satu target. Kapal kecil itu diketahui masuk daftar sanksi United States Department of the Treasury tahun lalu karena diduga memfasilitasi ekspor minyak Iran.

Kapal kedua, MKD Vyom, dilaporkan diserang sekitar 50 mil dari pantai Oman. UKMTO menyebut sebuah kapal tak dikenal terkena proyektil yang memicu kebakaran sebelum api berhasil dikendalikan. Identitasnya kemudian dipastikan oleh Joint Rescue Coordination Centre Stavanger sebagai MKD Vyom.

[irp posts=”34312″ ]

Kapal ini memiliki kapasitas angkut sekitar 74.000 deadweight ton (DWT), jauh lebih besar dibanding Skylight yang hanya sedikit di atas 11.000 DWT. Sebagai pembanding, tanker minyak mentah kelas terbesar dunia dapat melampaui 300.000 DWT.

Sebanyak 20 awak Skylight telah dievakuasi dan empat orang dilaporkan luka-luka, menurut otoritas Oman. Hingga kini belum ada klaim tanggung jawab atas serangan tersebut. United States Central Command belum memberikan tanggapan resmi.

Ketegangan meningkat tajam menyusul eskalasi konflik setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang dibalas Teheran. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kapal melaporkan menerima siaran radio yang mengatasnamakan angkatan laut Iran dan menyatakan bahwa transit di perairan itu dilarang.

Namun, dalam pembaruan terpisah, UKMTO menegaskan tidak ada pemberitahuan resmi penutupan Selat Hormuz melalui mekanisme hukum internasional. Siaran radio sepihak tidak dapat dianggap sebagai deklarasi sah.

[irp posts=”34303″ ]

Data pelayaran menunjukkan terdapat dua kapal bernama Skylight, tetapi hanya satu yang terdeteksi berada di lepas pantai Oman saat insiden. Basis data maritim Equasis mencatat kapal tersebut berbendera Palau—negara yang dikategorikan berisiko menengah dalam daftar pengawasan Paris Memorandum on Port State Control, lembaga yang memantau standar keselamatan kapal.

Rangkaian serangan ini menggarisbawahi rapuhnya keamanan maritim di salah satu chokepoint terpenting dunia. Setiap gangguan di Selat Hormuz bukan hanya isu regional, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas harga energi global dan rantai pasok internasional. Hingga kini, perairan tersebut secara hukum tetap terbuka—tetapi faktanya, risikonya kian nyata. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID