PARIAMAN, ONtime.ID — Eks Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Teluk Bone 511 yang digadang menjadi tujuan wisata baru di Kota Pariaman kini tengah merenungi nasib menjelang terpilihnya kepemimpinan pemerintahan yang baru. Sampai saat ini, tidak ada yang dapat menebak kapan kapal tersebut akan difungsikan.
Eks KRI Teluk Bone datang ke Pariaman pada akhir September 2023, ditarik dari Surabaya dengan menempuh sebulan perjalanan. Mulanya kapal itu diparkirkan di tengah laut antara Muaro Pariaman dan Talao Pauh.
Pada 31 Maret 2024, kapal yang pernah dipakai dalam Perang Dunia II tahun 1945-1946 oleh armada Amerika Serikat itu terbawa ombak hingga menepi tepat di Pantai Talao Pauh. Kepindahannya sempat mengundang rasa syukur dari pemerintah kota karena pemko tidak perlu lagi menggelontorkan dana untuk menepikan kapal.
Namun, saat itu pemko juga mengambil langkah penanganan dengan mendatangkan ekskavator untuk menggali pasir dengan tujuan menyelamatkan kapal. Tetapi, bagai mengail kucing hanyut, lubang galian pasir pantai yang digali kembali menutup karena sapuan ombak.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Pariaman Afwandi, mengatakan dinasnya bertanggung jawab untuk memindahkan kapal dari Surabaya ke perairan Kota Pariaman. Ia menggelontorkan uang senilai Rp. 2 miliar yang sudah mencakup biaya perbaikan kapal sebelum ditarik hingga proses penarikan sampai ke Pariaman.
Afwandi mengatakan, dalam e-katalog sudah dirinci anggaran senilai Rp. 2 miliar tersebut sepenuhnya diberikan ke pihak ketiga. Peruntukannya selain jasa penarik kapal, juga termasuk biaya perbaikan sebelum kapal dinyatakan siap untuk ditarik. “Sebelum ditarik, kami cek kondisi kapal bersama pihak ketiga. Bagian yang rusak atau yang perlu ditambal, langsung diperbaiki,” jelas dia.
Dia menjelaskan, KRI Teluk Bone merupakan hibah dari Kementerian Pertahanan. Pemko sudah lama menginginkan kedatangan kapal perang ke Pariaman, tetapi ada beberapa masalah yang dihadapi. “Awalnya program ini ide dari walikota sebelumnya yang saat itu pergi ke Kemenhan untuk meminta kapal. Sudah tiga kali permintaan, yang pertama dan kedua kapal tenggelam. Yang ketiga kali, akhirnya berhasil mendatangkan KRI Teluk Bone,” papar Afwandi.
Dia mengungkapkan bahwa pengadaan mata anggaran kapal perang tersebut sebelumnya tidak ada dalam perencanaan kegiatan Dishub. Anggaran tersebut dicantolkan ke Dokumen Perencanaan Anggaran (DPA) Dishub setelah dipastikan keputusan hibah dari Kemenhan.
“Setelah permintaan kapal perang disetujui, maka dirumuskanlah penarikan kapal ke Pariaman. Dalam hal ini, mata anggarannya cocoknya berada di Dishub, maka diletakkanlah mata anggaran tersebut ke Dishub tanpa ada perencanaan sebelumnya,” ujar dia.
Dia melanjutkan, keputusan tersebut langsung dirumuskan tim Badan Anggaran (Banggar) sebelum APBD disahkan. Setelah disahkan menjadi peraturan daerah (perda), maka Dishub langsung menjalankan kegiatannya untuk menarik kapal perang tersebut ke perairan Kota Pariaman.
Antusias masyarakat cukup tinggi menyaksikan kedatangan eks kapal perang yang pernah dipakai dalam Perang Dunia II oleh Amerika Serikat itu. Saat kapal menepi ke Talao Pauh, masyarakat juga masih tertarik melihat kondisi kapal dari jarak yang lebih dekat. Posisi kapal yang sudah menepi memang cukup melegakan. Namun, keberadaannya kini menimbulkan tanda tanya dari masyarakat, sampai kapan besi raksasa itu akan termenung di sana. (*)













