Pendidikan

Gaji Rp500 Ribu dan Amanat Ibu, Kisah Guru Honorer Muda yang Bertahan di Tengah Ketimpangan

253
×

Gaji Rp500 Ribu dan Amanat Ibu, Kisah Guru Honorer Muda yang Bertahan di Tengah Ketimpangan

Sebarkan artikel ini
Guru
Gaji Rp500 Ribu dan Amanat Ibu, Kisah Guru Honorer Muda yang Bertahan di Tengah Ketimpangan

SRAGEN, ONtime.ID — Menjadi guru honorer bukan sekadar pilihan pekerjaan bagi Ahmad Falih Al Hafid (24). Di balik profesinya sebagai pengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 6 Sragen, Jawa Tengah, tersimpan idealisme, pengabdian, sekaligus ironi kesejahteraan yang masih jauh dari kata layak.

Falih mulai mengajar sejak Juli 2025. Masa pengabdiannya baru berjalan satu semester. Dalam surat keputusan (SK), ia berstatus sebagai guru ekstra. Namun dalam praktiknya, beban tugas dan tanggung jawab yang ia emban tidak berbeda dengan guru honorer pada umumnya.

Status tersebut muncul bukan karena minimnya peran, melainkan persoalan administratif. Hingga kini, namanya belum tercatat dalam Sistem Informasi Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan (SIMPATIKA) yang belum dibuka.

“Sebenarnya ya guru honorer. Cuma di SK tertulis guru ekstra karena SIMPATIKA belum dibuka. Katanya nanti kalau sudah dibuka, data saya akan dimasukkan,” ujar Falih.

[irp posts=”33529″ ]

Dunia pendidikan bukanlah medan baru baginya. Sebelum mengajar di madrasah negeri, Falih sudah lebih dulu menekuni profesi guru di sekolah swasta, bahkan sejak belum menyelesaikan studi kuliah. Ia memilih bertahan di jalur pendidikan agar ilmu yang dipelajarinya tidak berakhir sia-sia.

Selain itu, pengalaman mengajar ia pandang sebagai modal penting untuk menghadapi seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Kalau saya kerja di tempat lain, ilmu yang saya dapat bisa tidak terpakai. Apalagi kalau nanti ada tes CPNS atau PPPK yang mempertimbangkan pengalaman kerja, pasti akan lebih berat,” katanya.

Namun, idealisme tersebut harus berhadapan langsung dengan realitas ekonomi. Saat ini, Falih hanya menerima honor sekitar Rp500 ribu per bulan. Ia mendengar kabar nominal tersebut akan mengalami kenaikan, meski hingga kini belum ada kepastian.

Dengan penghasilan tersebut, Falih mengakui belum mampu hidup mandiri secara ekonomi.

“Kalau ditanya cukup atau tidak, ya jelas tidak. Banyak kebutuhan. Apalagi saya laki-laki, dengan pendapatan segitu untuk melangkah lebih jauh juga masih ragu,” tuturnya.

Keinginan untuk berpindah pekerjaan sempat terlintas, terutama ketika melihat peluang kerja lain dengan penghasilan yang lebih menjanjikan. Namun, niat itu kembali surut. Selain karena panggilan hati, ada amanat orang tua yang membuatnya bertahan.

[irp posts=”33514″ ]

“Sebenarnya niatan pindah kerja itu ada. Tapi karena keinginan ibu juga, mau tidak mau saya tetap ambil jalan ini,” ungkapnya.

Kondisi ekonomi yang belum stabil turut memengaruhi rencana hidup Falih. Ia mengaku belum berani memikirkan pernikahan. Dengan penghasilan yang sebagian besar masih bergantung pada pekerjaan sampingan, ia memilih menunda membangun keluarga.

“Untuk sekarang saya belum menikah. Ini juga jadi faktor memperlambat untuk berkeluarga karena pemasukan belum stabil dan belum cukup,” katanya.

Untuk menopang ekonomi, Falih mulai mengembangkan usaha ternak kecil-kecilan. Di sisi lain, ia tetap menyimpan harapan untuk bisa diangkat menjadi ASN melalui jalur PPPK atau CPNS. Namun harapan itu terasa semakin berat.

Menurutnya, jumlah formasi PPPK dan CPNS tidak sebanding dengan lonjakan lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) prajabatan setiap tahun.

“PPG prajabatan dibuka beberapa gelombang tiap tahun, artinya lulusan makin banyak. Tapi formasi PPPK atau CPNS yang dibuka justru semakin sedikit,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengalamannya saat mengikuti PPG prajabatan di Blora. Dari sekitar 800 pendaftar, awalnya tersedia 130 formasi. Namun menjelang pelaksanaan tes, jumlah tersebut terus berkurang hingga tersisa sekitar 50-an.

Kondisi ini menempatkan guru honorer muda seperti Falih dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka dituntut mengabdi dan menjaga kualitas pendidikan. Di sisi lain, kesejahteraan yang diterima belum mampu menjamin kehidupan yang layak.

[irp posts=”33517″ ]

Meski demikian, Falih memilih bertahan. Ia tetap mengajar, mengembangkan usaha ternak, dan menunggu peluang agar bisa menjadi guru dengan penghasilan yang lebih manusiawi.

“Ke depan saya ingin tetap mengajar, tapi juga memperbesar usaha ternak supaya ekonomi bisa lebih kuat,” pungkasnya. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID