Internasional

Iran Bantah Klaim 32.000 Korban Tewas, Perbedaan Data Korban Protes Picu Ketegangan Baru dengan AS

116
×

Iran Bantah Klaim 32.000 Korban Tewas, Perbedaan Data Korban Protes Picu Ketegangan Baru dengan AS

Sebarkan artikel ini
Iran
Iran Bantah Klaim 32.000 Korban Tewas, Perbedaan Data Korban Protes Picu Ketegangan Baru dengan AS

TEHERAN, ONtime.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Sabtu membantah keras klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut 32.000 warga sipil tewas selama gelombang protes di Iran sejak Desember lalu.

Araghchi menegaskan pemerintah telah merilis angka resmi dan menantang pihak-pihak yang menyebut jumlah lebih besar untuk menyampaikan bukti.

“Iran telah secara transparan mempublikasikan daftar resmi korban,” tulis Araghchi di platform X, seraya menyatakan bahwa data pemerintah mencatat 3.117 korban jiwa, termasuk sekitar 200 personel keamanan. Ia menyebut para korban tewas dalam apa yang diklaim sebagai “operasi teroris baru-baru ini.”

[irp posts=”34079″ ]

Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump menyatakan 32.000 orang telah tewas di Iran dalam “periode waktu yang relatif singkat.” Trump juga menyebut situasi di Iran sebagai “sangat, sangat menyedihkan,” sembari membedakan antara rakyat Iran dan para pemimpinnya.

Perbedaan angka korban menjadi sorotan tajam di tengah minimnya akses informasi independen di dalam negeri. Mai Sato, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Iran, sebelumnya memperkirakan lebih dari 20.000 warga sipil kemungkinan tewas, namun menekankan keterbatasan verifikasi akibat penyaringan internet yang ketat dan pemadaman komunikasi nasional yang diberlakukan selama enam minggu terakhir.

Kelompok pemantau berbasis di Amerika Serikat, HRANA, menyatakan telah mendokumentasikan lebih dari 7.000 kematian terkait protes nasional, dan sedang menyelidiki hampir 12.000 laporan tambahan. Pemerintah Iran belum memberikan tanggapan rinci atas metodologi atau temuan organisasi tersebut.

[irp posts=”34075″ ]

Dalam pernyataan bersama yang ditandatangani sekitar 30 pelapor khusus dan pakar HAM internasional pada Jumat, para ahli menyerukan otoritas Iran untuk mengungkap secara penuh nasib puluhan ribu orang yang dilaporkan ditahan, hilang secara paksa, atau tidak diketahui keberadaannya sejak protes berlangsung. Pernyataan itu juga mendesak penghentian seluruh hukuman mati dan eksekusi yang dikaitkan dengan aksi demonstrasi.

“Skala sebenarnya dari penindakan keras terhadap para pengunjuk rasa Iran masih belum dapat ditentukan,” demikian pernyataan para ahli yang dikutip sejumlah media internasional. Mereka menilai perbedaan tajam antara angka resmi dan estimasi kelompok masyarakat sipil memperdalam penderitaan keluarga korban serta menimbulkan pertanyaan serius tentang akuntabilitas.

Ketegangan di dalam negeri terus berlanjut. Kantor berita peradilan Iran, Mizan, pada Sabtu merilis rekaman sidang tiga pria yang menyatakan penyesalan atas pembakaran sepeda motor, sebuah masjid, dan salinan Al-Quran di Teheran saat kerusuhan. Pengamat HAM internasional kerap menuding media pemerintah menayangkan pengakuan yang diduga diperoleh di bawah tekanan, tudingan yang dibantah otoritas Iran.

[irp posts=”34072″ ]

Di sektor pendidikan, sejumlah mahasiswa kembali ke kampus untuk pertama kalinya setelah penutupan universitas dan peralihan pembelajaran daring selama gelombang protes. Di Sharif University of Technology, bentrokan dilaporkan terjadi antara mahasiswa dan kelompok paramiliter Basij yang berafiliasi dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Video yang beredar di media sosial menunjukkan aksi saling ejek di tengah peningkatan pengamanan kampus dan asrama.

Perselisihan angka korban turut memperkeruh hubungan Teheran–Washington, yang saat ini juga dibayangi isu program nuklir Iran. Awal bulan ini, Iran dan AS kembali membuka jalur dialog di Muscat, Oman, sebelum dilanjutkan pertemuan di Jenewa di bawah mediasi Oman. Namun proses diplomasi berlangsung di tengah pengerahan militer AS di Teluk Persia dan latihan militer Iran yang meningkatkan kekhawatiran kawasan.

Trump pada Kamis lalu menyatakan Washington akan mempertimbangkan opsi militer dalam 10 hingga 15 hari jika pembicaraan nuklir gagal mencapai hasil. Pada Sabtu, ia kembali menyebut tengah “mempertimbangkan” serangan militer terbatas untuk menekan Iran agar menyepakati kesepakatan nuklir baru, tanpa merinci bentuk tindakan yang dimaksud.

[irp posts=”34066″ ]

Sementara itu, sejumlah negara mulai meningkatkan peringatan perjalanan bagi warganya. Serbia menjadi salah satu negara terbaru yang menyerukan evakuasi warganya dari Iran, menyusul kekhawatiran eskalasi konflik.

Dengan perbedaan data korban yang masih lebar dan ketegangan geopolitik yang terus meningkat, situasi Iran kini berada di persimpangan antara tuntutan transparansi domestik dan tekanan internasional. Hingga saat ini, angka pasti korban protes belum dapat diverifikasi secara independen, meninggalkan ruang abu-abu yang terus menjadi sumber perdebatan global. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID