Peristiwa

Misteri Kematian Fikri Padario, Keluarga Desak Polisi Ungkap Kasus Pembunuhan di Gasan  Gadang

672
×

Misteri Kematian Fikri Padario, Keluarga Desak Polisi Ungkap Kasus Pembunuhan di Gasan  Gadang

Sebarkan artikel ini
Polisi
Misteri Kematian Fikri Padario, Keluarga Desak Polisi Ungkap Kasus Pembunuhan di Gasan  Gadang

PADANG PARIAMAN, ONtime.ID — Hampir sebulan pascakejadian tragis yang menewaskan Fikri (34), warga Korong Muaro, Nagari Gasan Gadang, Kecamatan Batang Gasan, Kabupaten Padang Pariaman, kasus pembunuhan tersebut masih belum menemukan titik terang. Hingga kini, pihak kepolisian belum menetapkan satu pun tersangka, meski penyelidikan disebut telah berlangsung intensif.

Kondisi itu memantik kekecewaan keluarga korban serta warga sekitar yang merasa penanganan kasus berjalan lambat. Mereka menilai, setelah hampir empat minggu berlalu sejak peristiwa berdarah itu, publik belum mendapatkan kejelasan arah penyidikan maupun perkembangan signifikan dari pihak berwenang.

Sebagai bentuk keresahan dan dorongan moral, keluarga korban bersama tokoh masyarakat menggelar pertemuan di kawasan Nareh, Pariaman, pada Minggu (19/10/2025) pukul 11.00 WIB. Pertemuan itu bertujuan untuk merumuskan langkah bersama dan menyusun kesepakatan kolektif guna mendesak Polres Pariaman mempercepat pengungkapan kasus yang hingga kini belum membuahkan hasil.

“Kami sangat kecewa. Sudah tiga minggu, tapi belum ada kejelasan siapa pelakunya. Kami butuh ketegasan dari aparat penegak hukum,” ujar Azwirman, perwakilan keluarga korban.

Menurut Azwirman, pertemuan tersebut melibatkan keluarga besar korban, tokoh masyarakat, serta beberapa perwakilan warga Nagari Gasan Gadang. Tujuannya bukan hanya menuntut keadilan, tetapi juga memastikan agar kasus ini tidak dibiarkan menguap begitu saja.

“Kami ingin ada transparansi. Kalau memang masih diselidiki, sampaikan perkembangannya secara terbuka kepada publik. Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan,” tambahnya.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu malam (24/9/2025). Berdasarkan keterangan keluarga, Fikri berpamitan untuk pergi melihat ternak sapinya di ladang yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah. Namun, beberapa jam kemudian, warga dikejutkan oleh kabar bahwa Fikri ditemukan tergeletak di jurang kecil di belakang rumahnya dalam kondisi bersimbah darah.

Tubuhnya mengalami luka tusuk di bagian ulu hati. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun nyawanya tak tertolong.

Menurut sumber internal keluarga, sebelum kejadian itu, Fikri sempat menerima pesan WhatsApp dari seseorang yang diduga terkait dengan kasus pencabulan terhadap anaknya beberapa waktu sebelumnya. Dugaan ini kemudian memunculkan spekulasi bahwa pembunuhan tersebut bisa saja berkaitan dengan kasus lama yang menimpa keluarga korban.

Namun, hingga kini polisi belum memberikan keterangan resmi terkait kemungkinan keterkaitan kedua kasus tersebut.

Kasat Reskrim Polres Pariaman, Iptu Rio Ramadhan, saat dikonfirmasi wartawan, membenarkan bahwa penyidikan terhadap kasus pembunuhan Fikri masih terus dilakukan.

“Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan intensif. Kami sudah memeriksa beberapa saksi dan mengumpulkan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian,” ujar Rio.

Namun, ketika ditanya mengenai dugaan adanya pesan WhatsApp yang diterima korban sebelum kematian, Rio enggan berkomentar lebih jauh. “Kami masih menelusuri semua kemungkinan. Setiap informasi sedang kami verifikasi,” katanya singkat.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi apakah polisi telah mengantongi nama terduga pelaku atau motif pembunuhan.

Kasus ini telah menjadi perhatian luas di masyarakat Nagari Gasan Gadang. Warga menilai bahwa keterlambatan pengungkapan dapat menimbulkan keresahan dan menurunkan kepercayaan terhadap aparat penegak hukum.

“Warga sudah mulai resah. Kami tidak tahu apakah pelaku masih berkeliaran di sekitar sini atau tidak. Harus ada langkah cepat supaya masyarakat merasa aman,” ujar salah seorang tokoh nagari yang enggan disebut namanya.

Keluarga Tak Ingin Kasus Ini Tenggelam

Bagi keluarga, kepergian Fikri bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga perjuangan panjang mencari keadilan. Melina Sari, istri korban, menuturkan bahwa sejak malam kejadian, ia tidak pernah tenang.

“Setiap malam saya tidak bisa tidur. Saya hanya ingin tahu siapa yang tega melakukan ini pada suami saya,” katanya lirih.

Melina berharap aparat segera mengungkap pelaku agar keluarga bisa menutup luka dengan tenang. “Kalau dibiarkan berlarut, kami takut kasus ini akan dilupakan begitu saja,” tambahnya.

Pertemuan keluarga dan warga di Nareh diharapkan menjadi momentum kebangkitan solidaritas masyarakat untuk menuntut kejelasan hukum. Dalam suasana duka yang belum reda, satu hal menjadi suara bersama: keadilan tidak boleh tertunda.

Kematian Fikri bukan sekadar tragedi pribadi, tetapi juga ujian bagi penegakan hukum di Padang Pariaman. Waktu terus berjalan, dan masyarakat menunggu—bukan sekadar jawaban, tapi juga kepastian bahwa hukum benar-benar bekerja untuk semua. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID