Kab. Tanah Datar

Muhamad Syukur Resmi Sandang Gelar Dt. Godang Rajo

287
×

Muhamad Syukur Resmi Sandang Gelar Dt. Godang Rajo

Sebarkan artikel ini
Muhamad Syukur
Muhamad Syukur Resmi Sandang Gelar Dt. Godang Rajo

TANAH DATAR, ONtime.ID — Prosesi adat Minangkabau kembali menegaskan pentingnya regenerasi kepemimpinan kaum. Muhamad Syukur, S.Pd.I resmi menyandang gelar Datuk Godang Rajo setelah menjalani rangkaian prosesi malewakan gala panghulu yang berpuncak pada pengulangan pemasangan saluak, penyematan keris, serta pengucapan sumpah dan ikrar penghulu di Balairung Kerapatan Adat Nagari (KAN) Gurun, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Minggu (13/7/2026).

Prosesi tersebut menandai berpindahnya amanah kepemimpinan adat kepada Muhamad Syukur yang kini resmi bergelar Muhamad Syukur, S.Pd.I Dt. Godang Rajo, sebagai Panghulu kaum Suku Piliang Laweh, Jorong Ampalu, Nagari Gurun.

Bagi masyarakat Minangkabau, pengangkatan seorang datuk bukan sekadar seremoni adat. Gelar yang diwariskan turun-temurun itu merupakan simbol kepemimpinan yang melekat dengan tanggung jawab moral, sosial, dan hukum adat dalam membimbing anak kemenakan serta menjaga kehormatan kaum.

Muhamad Syukur bukan sosok baru di ruang publik. Kariernya dimulai sebagai wartawan sejak 1988 dan tercatat menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak 1989. Ia juga telah dinyatakan kompeten melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tingkat Muda dan Madya.

[irp posts=”37737″ ]

Selain berkecimpung di dunia jurnalistik, Muhamad Syukur juga pernah mengemban amanah sebagai anggota DPRD Kabupaten Tanah Datar periode 2009–2014. Selama menjabat, ia dipercaya sebagai Ketua Fraksi Hanura DPRD Tanah Datar sekaligus Sekretaris Komisi II DPRD Tanah Datar.

Pengalaman panjang di bidang jurnalistik, organisasi, dan legislatif dinilai menjadi modal penting dalam menjalankan fungsi kepemimpinan adat yang menuntut kemampuan menyelesaikan persoalan secara arif, mengayomi masyarakat, dan menjaga keseimbangan antara adat dan perkembangan zaman.

Dalam prosesi yang sama, sebanyak enam penghulu dan dua katik juga resmi dikukuhkan. Mereka adalah Dr. Febby bergelar Dt. Bangso Kayo dari Suku Koto, Muhammad Zidane bergelar Dt. Basa dari Suku Patopang, Rio Antoni, S.E bergelar Dt. Rajo Malano dari Palancuang Tinggi, Amron bergelar Dt. Malano Nan Putiah dari Payo Badar, Ambril bergelar Dt. Mangkuto Kayo Nan Kuniang dari Patopang, Arif Budiman, S.E., A.Md bergelar Dt. Rajo Endah dari Patopang, serta dua Katik yakni M. Hafiz bergelar Khatik Malano Nan Putiah dan Richie bergelar Khatik Mangkuto Kayo Nan Kuniang.

Rangkaian kegiatan adat berlangsung selama beberapa hari dan melibatkan partisipasi masyarakat. Agenda diawali dengan Pacu Jawi di Jorong Ampalu pada 8 Juli, dilanjutkan berbagai perlombaan budaya seperti lomba kurung, lomba randang baluik, pertandingan sepak takraw, membantai kerbau, pertunjukan randai, hingga malam hiburan KIM berhadiah setelah prosesi pengukuhan penghulu.

[irp posts=”37734″ ]

Ketua KAN Gurun, Dr. H. Febby Dt. Bangso Kayo, dalam sambutannya mengingatkan bahwa gelar penghulu bukan simbol prestise ataupun alat memperoleh kedudukan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada kaum dan masyarakat.

Ia menegaskan bahwa setiap datuk yang baru dikukuhkan wajib menjaga marwah adat, menjadi penengah dalam setiap perselisihan, serta mengedepankan nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai landasan dalam memimpin.

“Ingatlah, gelar ini adalah titipan nenek moyang. Jangan jadikan ia alat untuk mencari kekuasaan atau keuntungan pribadi. Jadikanlah diri kalian sebagai panutan, penyelesai sengketa, dan penjaga marwah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di tengah masyarakat,” tegas Dr. Febby di hadapan para penghulu baru dan ratusan tamu undangan.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa seorang penghulu tidak hanya bertanggung jawab menjaga silsilah kaum, tetapi juga dituntut mampu menjadi pemersatu masyarakat di tengah berbagai dinamika sosial yang terus berkembang.

Sementara itu, Muhamad Syukur Dt. Godang Rajo mengaku menerima amanah tersebut dengan penuh rasa syukur sekaligus kesadaran akan besarnya tanggung jawab yang kini berada di pundaknya.

[irp posts=”37731″ ]

Menurutnya, gelar yang diberikan kaum bukan sekadar penghormatan, tetapi merupakan kepercayaan yang harus dijaga melalui tindakan nyata dalam membina anak kemenakan dan memperkuat nilai-nilai adat di tengah kehidupan masyarakat.

“Ini adalah kehormatan terbesar bagi saya dan keluarga. Saya berjanji akan terus belajar kepada para senior serta hadir membimbing kaum dengan bijaksana sesuai tuntunan adat dan syarak,” ujarnya.

Pengukuhan para penghulu di Nagari Gurun menjadi momentum penting dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan adat Minangkabau. Di tengah derasnya perubahan sosial, regenerasi penghulu dinilai menjadi salah satu pilar utama untuk memastikan nilai-nilai adat tetap hidup, berfungsi, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. (nh)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID