PASAMAN, ONTIME.ID –Hidup dalam kemiskinan dan penuh keterbatasan itulah yang dialami seorang nenek berusia 102 tahun bernama bani, nenek tersebut tinggal sebatang kara dengan kondisi rumah yang jauh dari kata layak.
Berlokasi di Jorong Guo Siayung, Nagari Lubuak Gadang, Kecamatan Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman, atas undangan dari warga setempat tim ontime.id menyambangi rumah nenek Bani tersebut, rumahnya terlihat memang tidak layak untuk ditempati dengan dinding rumah hanya menggunakan papan seadanya, atap rumahpun terlihat banyak lubang disana sininya dan dipastikan ketika hujan air akan menggenangi isi rumahnya.
“Kalau makan seketemu aja, kalau ada dimakan, kalau gak ada ya puasa, Memang pernah ada pihak yang meminta KK dan KTP untuk dijanjikan bantuan, namun hingga kini tak kunjung datang. ” kata Nenek Bani saat ditemui oleh ontime.id dikediamannya, Rabu (21/06/2023).
Bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) hingga Bantuan Langsung Tunai (BLT) tidak pernah singgah kerumahnya. Pemkab Pasaman dan Nagari Lubuak Gadang seakan tutup mata dengan kondisi warganya yang hidup dalam kemiskinan, lalu kemana mengalirnya Dana Desa yang seharusnya untuk penanganan kemiskinan serta penguatan ketahanan pangan.
Dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia (Permenkeu RI) Nomor 201/PMK.07/2022, yang dijadikan sebagai landasan mutlak bagi desa dalam mengelola dana desa tahun 2023.

BLT Dana Desa 2023 tak lagi diarahkan untuk penanganan Covid19. Melainkan, lebih difokuskan untuk pengentasan kemiskinan ekstrem desa.
Disebutkan, pada Pasal 36 ayat (1) dan (2). Bahwa calon keluarga penerima manfaat BLT Dana Desa sebagaimana yang dimaksud [miskin ekstrem] ialah keluarga miskin yang berdomisili di desa bersangkutan.
Memang begitu miris dari +2 milyar dana anggaran untuk nagari (dana desa) di nagari Lubuak Gadang yang notabene nya dikucurkan 25% untuk BLT (Bantuan Langsung Tunai) tidak tepat sasaran, kami nilai jauh dari kata adil karena masih banyak rumah warga yang terbilang bagus, tapi mereka dapat bantuan, BLT, PKH dan lain-lainnya.
Kini nenek Bani seakan pasrah dengan segala kekurangannya, hidup miskin didalam rumah yang jauh dari kata layak, berharap bantuan dari Pemkab Pasaman ataupun dari Nagari Lubuak Gadang seakan hanya mimpi baginya.
Melihat keadaan tersebut tim ontime.id langsung menemui Asrul walinagari Lubuak Gadang untuk mengkonfirmasi hal tersebut, namun Asrul tidak berada dikantornya. (tim)













