GAZA, ONTIME.ID- Perang antara Israel dan kelompok Hamas dari Palestina telah berlangsung selama dua pekan lebih. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan sebanyak 6.546, termasuk 2.704 anak-anak menjadi korban tewas di Gaza. Sementara korban tewas di wilayah Tepi Barat ada 103, termasuk 30 anak-anak dan 1 perempuan.
Militer Israel pun merilis data kematian. Sebanyak 1.405, termasuk 308 anggota militer dan 58 anggota kepolisian tewas selama perang berkecamuk sepanjang 7-25 Oktober.
Sebanyak 25 orang jurnalis juga dilaporkan tewas selama meliput perang Israel. Jumlah jurnalis Palestina yang terbunuh sejak 7 Oktober kini mencapai 21 orang. Tiga jurnalis Israel dan satu jurnalis Lebanon juga tewas dalam konflik tersebut.
Untuk korban luka-luka, Israel menyebut ada 5.431 orang, sementara korban luka di Gaza ada 16.297 (termasuk 2.000 anak-anak dan 1.400 perempuan) dan 1.828 orang di Tepi Barat.
Korban hilang atau menjadi sandera di Israel ada sebanyak 218 orang. Di Gaza, lebih dari 1.500 orang menghilang, termasuk 830 anak-anak, sementara di Tepi Barat ada 1.215 orang yang ditahan.
Selama periode 7-25 Oktober 2023, perang Israel-Palestina total telah menimbulkan sekitar 8.000 korban jiwa, dan 24.700 korban luka dari kedua belah pihak. Data ini dihimpun United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) dari Kementerian Kesehatan Gaza dan keterangan resmi pemerintah Israel.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut tak ada tempat yang aman bagi warga Palestina di Gaza saat ini, seiring pertikaian antara Israel dan Hamas yang kian memanas.
Dalam perkembangan terbaru, Israel mengatakan serangan udaranya mengenai 250 sasaran di Gaza dalam 24 jam terakhir. Pasukan pertahanan Israel (IDF) mengeklaim telah melakukan serangan yang ditargetkan di sejumlah infrastruktur dan pos peluncuran rudal anti-tank di Gaza utara.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali menegaskan Israel sedang mempersiapkan invasi darat ke Gaza, namun tidak memberikan rincian kapan serangan darat itu akan dilakukan.
Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Palestina, Lynn Hastings mengatakan, peringatan dini Israel agar warga di Gaza utara mengevakuasi diri tak ada bedanya bagi orang-orang yang tak bisa mengungsi lantaran tidak memiliki tujuan atau tidak bisa bergerak.
“Ketika jalur evakuasi dibom, ketika orang-orang di utara dan selatan terjebak dalam pertikaian, ketika kebutuhan pokok untuk bertahan hidup tidak ada lagi, dan ketika tidak ada jaminan untuk kembali, orang-orang tak punya pilihan,” katanya seperti dilansir dari BBC, Rabu (25/10).
“Tidak ada tempat yang aman di Gaza,” katanya.
Awal bulan ini, militer Israel memperingatkan masyarakat di utara Jalur Gaza untuk menuju ke selatan.
Sebelumnya PBB juga memperingatkan tentang pasokan bahan bakar di Gaza yang akan segera habis, mengakibatkan rumah sakit menutup hampir seluruh layanannya, kecuali Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Seiring beberapa negara di seluruh dunia menyalurkan bantuan yang sangat dibutuhkan ke Gaza, PBB telah memperingatkanbahwa Gaza akan kehabisan bahan bakar pada Rabu (25/10) malam. Jika bahan bakar habis, itu akan berdampak sangat besar pada upaya bantuan kemanusiaan yang mereka lakukan di wilayah yang tengah dilanda prahara tersebut.
PBB menekankan pentingnya pengiriman pasokan bahan bakar ke wilayah itu demi memastikan warga mendapatkan air minum yang bersih, layanan rumah sakit tetap buka dan operasi bantuan dapat terus berlanjut.
Menipisnya pasokan bahan bakar di Gaza, memicu kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap layanan kesehatan. Badan-badan PBB lainnya memperkirakan bahwa sepertiga rumah sakit di Gaza dan hampir dua per tiga klinik layanan kesehatan utama ditutup karena kerusakan atau kekurangan bahan bakar. (vand)













