Kuliner

Salero Minang Maimbau

1266
×

Salero Minang Maimbau

Sebarkan artikel ini
minang
Salero Minang Maimbau

Keanekaragaman kuliner di Sumbar membuat kuliner khas Minang menyimpan potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai penunjang dalam pengembangan wisata.

“Wisata kuliner menjadi salah satu alternatif di samping pilihan jenis wisata lainnya, seperti wisata budaya, wisata alam, dan wisata bahari yang sudah terlebih dahulu dikenal oleh wisatawan yang datang ke Sumbar,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Ketua The Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Sumbar, Darmawi. Ia mengatakan, kuliner mempunyai peran penting dalam industri pariwisata. Perputarannya cepat dan untungnya besar. Sebab, sebagian besar pengeluaran adalah untuk kuliner.

“Peran kuliner sangat penting dalam industri pariwisata. Kuliner memiliki daya tarik yang kuat mendatangkan wisatawan,” ujarnya.

Ia berpendapat bahwa sektor kuliner sudah bisa menjadi andalan Sumbar untuk menggaet wisatwan. Pasalnya, setiap kuliner di Indonesia, termasuk di Sumbar, memiliki kekhasan yang membedakan dari daerah lain. Sumbar sendiri juga memiliki banyak kuliner lokal yang mendunia dan memiliki nilai jual jika dikembangkan.

“Banyak masakan Minang yang terkenal di mana-mana. Setiap daerah di Indonesia pasti ada rumah makan Padang. Itu artinya orang sudah kenal dengan makanan Minang. Sudah ada branding,” ujarnya.

Pemerintah daerah, ucapnya, dapat mengembangkan SDM masyarakat di sekitar tempat wisata sebagai praktisi dan produsen yang bisa mengambil keuntungan dari sektor kuliner ini. Di samping itu, butuh inovasi-inovasi dan gerakan-gerakan yang mendorong agar nilai jualnya meningkat. Sehingga perputaran uang di destinasi wisata juga semakin besar dan pada gilirannya akan membantu perekonomian masyarakat dan meningkatkan potensi pariwisata.

“Biasanya, travel agent yang kreatif akan melihat kuliner dan oleh-oleh ini sebagai sumber pendapatan dan memasukkannya dalam paket-paker wisata. Kemudian, memberikan tester dalam bentuk kemasan-kemasan kecil agar wisatawan dapat mencobanya dulu. Pelayanan, tampilan, kebersihan, serta kemasan juga sangat penting dalam mempromosikan kuliner kita,” katanya.

Terpisah, Praktisi Wisata, Zuhrizul melihat peran sektor kuliner dalam menarik wisatawan sangat besar. Kuliner mendatangkan uang paling tinggi. Terlebih Sumbar identik dengan makanan lamak (enak).

“Kini trennya wisatawan mencari tempat makan yang suasananya tenang dan nyaman, seperti di tepi sawah, alam, dan desa-desa wisata yang pemandangannya bagus. Faktanya, Sumbar masih kekurangan itu. Itu potensi yang masih bisa tergarap,” ujarnya.

Ia menyebut, saat ini, sektor UMKM kuliner, seperti kue kering untuk oleh-oleh juga belum dikemas secara baik. Padahal, potensinya besar. Selama ini, Sumbar masih fokus sebatas menyediakan bahan baku. Makanan sehat, terdaftar, ada label halal, dan masa kedaluwarsa, itulah yang menurutnya harus didorong. Selama ini, itulah yang kurang.

Selain itu, sangat penting untuk meningkatkan nilai jual kuliner. Selama ini, Sumbar hanya menjual hasil produksi, tapi yang mengemas adalah pihak lain. Secara ekonomi, keuntungannya lebih tipis.

Walaupun bisa terus berjualan, ujarnya, namun akan lebih bagus mulai diedukasi bagaimaana nilai jualnya meningkat. Kemudian, pemasarannya juga bukan hanya di objek-objek wisata saja, tapi juga di bandara dan mal-mal yang masih banyak menjual makanan dari luar.

“Mentawai memiliki pisang, dikirim ke Pekanbaru dan Batam. Di sana diolah menjadi pisang kipas atau cake pisang. Dari yang harganya setandan Rp20.000 sampai di Pekanbaru pisang yang tadi bisa menjadi Rp200.000. Di Batam menjadi cake pisang. Padahal mana ada di Batam kebun pisang,” katanya.

Bimbingan teknis (bimtek) adalah yang saat ini paling diperlukan oleh masyarakat. Bukan hanya pelatihan di mana narasumber hanya berbicara saja. Akan tetapi, datangkanlah ahli masak yang bisa membuat labu menjadi cake labu, es krim labu, sup labu, dan sebagainya.

Kemudian, bagaimana nanti pengemasannya. Selain itu, pemerintah juga mendampingi setelah pelatihan.Jangan hanya diam.

“Kalau di luar negeri kementerian terkait, kantornya kosong. Sebab mereka langsung di luar mengedukasi masyarakat. Instansi pemerintahan harus ke lapangan, sehingga UMKM kuliner kita maju. Jangan mengurus birokrasi aja. Butuh kerja sama dengan konsultan kuliner sebagai tenaga pendamping hingga menjadi produk kemasan yang layak jual,” tuturnya.