Opini

Sepuluh Hari Terakhir Ramadan, Antara Lailatul Qadar dan Diskon Lebaran

291
×

Sepuluh Hari Terakhir Ramadan, Antara Lailatul Qadar dan Diskon Lebaran

Sebarkan artikel ini
Ramadan
Oleh: Kompol (purn) Taufik Isra, (Pemimpin Umum ONtime.ID)

Oleh: Kompol (purn) Taufik Isra, (Pemimpin Umum ONtime.ID)

Sepuluh hari terakhir Ramadan selalu dipromosikan sebagai fase paling sakral dalam kalender spiritual umat Islam. Di dalamnya terdapat peluang bertemu dengan Lailatul Qadar, malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan.

Secara ideal, inilah momen ketika manusia menanggalkan kesibukan duniawi dan kembali menata relasi dengan Tuhan.

Namun realitas sosial justru menunjukkan kontras yang tidak nyaman.

Di satu sisi, masjid memang tampak lebih hidup. Program itikaf, kajian malam, dan tadarus digencarkan. Media sosial dipenuhi kutipan religius dan ajakan memperbanyak ibadah. Tetapi pada saat yang sama, sepuluh hari terakhir Ramadan juga berubah menjadi puncak musim konsumsi nasional.

Diskon besar-besaran di pusat perbelanjaan, lonjakan belanja daring, hingga kepadatan arus mudik menjadi penanda bahwa energi masyarakat lebih banyak tersedot pada persiapan menuju Idul Fitri.

[irp posts=”34626″ ]

Kontradiksi ini tidak bisa lagi dianggap sekadar kebetulan budaya. Ia mencerminkan pergeseran makna Ramadan itu sendiri.

Alih-alih menjadi ruang penyederhanaan hidup, Ramadan—terutama sepuluh hari terakhir—sering berubah menjadi panggung simbolik religiusitas. Ibadah dilakukan, tetapi sering kali berdampingan dengan gaya hidup yang justru bertentangan dengan semangat pengendalian diri. Sementara khutbah menyerukan kesederhanaan, etalase toko mempromosikan kemewahan sebagai bagian dari “tradisi Lebaran.”

Masalahnya bukan pada tradisi merayakan hari raya. Masalahnya adalah ketika spiritualitas menjadi kosmetik sosial—tampak di permukaan, tetapi tidak mengubah struktur perilaku.

Ironi lainnya adalah ketimpangan dalam kesempatan beribadah. Narasi ideal tentang itikaf dan ibadah malam sering mengabaikan realitas banyak pekerja: buruh pabrik yang harus lembur menjelang libur panjang, pedagang kecil yang justru menggantungkan penghasilan terbesar pada periode ini, hingga pekerja informal yang bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat Lebaran.

Bagi mereka, sepuluh hari terakhir Ramadan bukan waktu kontemplasi, melainkan puncak tekanan ekonomi.

Situasi ini menunjukkan bahwa romantisme spiritual Ramadan sering kali berdiri di atas asumsi kelas menengah: mereka yang memiliki waktu, stabilitas ekonomi, dan ruang untuk memperdalam ibadah. Sementara kelompok rentan justru menjalani Ramadan dalam kondisi yang jauh dari idealisme religius yang sering dipromosikan.

[irp posts=”34623″ ]

Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan secara jujur adalah: apakah sepuluh hari terakhir Ramadan benar-benar menjadi fase transformasi moral, atau hanya ritual tahunan yang semakin terkomodifikasi?

Jika Ramadan hanya menghasilkan lonjakan penjualan ritel, kepadatan mudik, dan euforia konsumsi menjelang hari raya, maka yang tersisa hanyalah ritual tanpa revolusi moral. Spirit Ramadan seharusnya menantang manusia untuk menahan diri, bukan sekadar menunda konsumsi hingga malam takbiran.

Sepuluh hari terakhir Ramadan seharusnya menjadi saat ketika masyarakat menilai ulang prioritas hidup: solidaritas sosial, keadilan ekonomi, dan empati terhadap mereka yang paling rentan. Tanpa refleksi semacam itu, Ramadan akan terus berulang setiap tahun—meriah secara ritual, tetapi miskin dalam perubahan sosial.

Dan mungkin di situlah kritik paling tajam terhadap cara kita menjalani Ramadan hari ini: kita merayakan kesuciannya, tetapi belum tentu menghidupi maknanya. (*)

[irp posts=”34620″ ]

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID