PADANG, ONTIME.ID — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Minangkabau-Padang Pariaman membenarkan terjadi peningkatan suhu udara di Sumbar beberapa waktu terakhir. Dari catatan BMKG suhu udara di Sumbar bahkan mencapai 35 derajat celcius.
Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau – Padang Pariaman, Yudha Nugraha, kepada ONTIME.ID, Kamis (27/4), mengatakan, konidis cuaca seperti itu menjadi penyebab kondisi suhu jauh lebih panas dan membuat gerah dari hari biasanya. Namun, Yudha menyebut kondisi itu masih normal.
“Karena kalau kita melihat dari suhu udara maksimum harian, meskipun terdapat peningkatan dari suhu biasanya 30-31 derajat menjadi 32-35 derajat, namun belum dikategorikan sebagai cuaca ekstrem karena masih dalam kategori normal,” ucapnya.
Yudha juga menyangkal peningkatan suhu udara di Sumbar diakibatkan merupakan gelombang panas yang diprediksi di beberapa negara. “Untuk kondisi di Sumbar bukan karena gelombang panas,” kata dia.
Jika dilihat secara klimatologisnya untuk bulan Mei-Juni beberapa daerah di Sumbar merupakan musim kemarau sehingga minim pertumbuhan awan-awan, termasuk juga di daerah lainnya di Indonesia.
Lebih jauh, BMKG mencatat suhu tertinggi mencapai 35,2 derajat pada tanggal 24 April. Namun, saat ini suhu mulai kembali turun mengingat sudah terlihat pertumbuhan awan hujan pada siang-sore hari.
“Oleh karenanya, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas pada siang hari yang terik, terutama antara pukul 11.00 WIB – 14.00 WIB, mengingat di waktu tersebut merupakan periode dimana nilai ultraviolet maksimum,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga dapat mengantisipasi dengan menggunakan pelindung dari sinar matahari langsung seperti payung, topi, tabir surya serta menjaga cairan tubuh. “Untuk perkiraan kami, beberapa hari ke depan hujan sudah mulai kembali turun, sehingga suhu udara maksimum relatif lebih rendah dari sebelumnya,” ujarnya.
Di sisi lain, analisis yang dilakukan BMKG menunjukkan fenomena udara panas ini bukan karena heatwave atau gelombang panas. Sejumlah negara di kawasan Asia Selatan dilaporkan dilanda gelombang panas sejak pekan lalu hingga saat ini.
Dalam rilis BMKG, Selasa (25/4), gelombang panas ini dilaporkan negara-negara seperti Bangladesh, Myanmar, India, China, Thailand dan Laos. Berdasarkan analisis, kenaikan suhu udara di negara ini mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Fenomena gelombang panas dapat terjadi dengan ditandai oleh dua karakteristik, yakni berdasarkan fenomena dan indikator statistik suhu kejadian.
Sementara, fenomena udara panas yang dirasakan di Indonesia saat ini, menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam pernyataan persnya, menegaskan bahwa berdasarkan analisis yang dilakukan, kondisi ini bukan termasuk gelombang panas.
“Fenomena udara panas yang terjadi di Indonesia belakangan, jika ditinjau secara lebih mendalam dengan dua penjelasan tersebut, tidak termasuk dalam kategori gelombang panas, karena tidak memenuhi kondisi-kondisi tersebut,” jelas Dwikorita. Dwikorita menegaskan bahwa secara karakteristik fenomena, suhu udara panas di Indonesia disebabkan oleh gerak semu matahari.
Analisis BMKG menunjukkan bahwa kondisi tersebut adalah siklus yang biasa terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini, yang sedang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, juga dapat berulang terjadi pada periode yang sama tiap tahunnya.
Sementara itu, menurut analisis indikator pengamatan suhu kejadian, menunjukkan bahwa lonjakan suhu maksimum yang mencapai 37,2 derajat Celsius yang dilaporkan dari stasiun BMKG di Ciputat pada 17 April 2023. Suhu tinggi tersebut sudah turun dan kini suhu maksimum teramati berada dalam ksiaran 34-36 derajat Celsius di beberapa wilayah.
Lebih lanjut Dwikorita mengatakan bahwa variasi suhu maksimum di Indonesia masih relatif normal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, berkisar antara 34-36 derajat Celsius. Secara klimatologi, di Jakarta sepanjang April-Mei-Juni, merupakan bulan-bulan yang mana suhu maksimum dapat mencapai puncaknya, selain Oktober-November.
Selaih udara panas, akhir-akhir ini, laporan sinar UV tinggi juga disebut-sebut sebagai penyebab suhu panas di Indonesia. Namun, BMKG menerangkan bahwa tinggi rendahnya indeks sinar ultraviolet (UV) tidak memberikan pengaruh langsung pada kondisi suhu udara di suatu wilayah.
Indonesia merupakan negara yang berada di wilayah tropis, sehingga pola harian seperti udara panas, secara rutin dapat teramati dari hari ke hari meskipun tidak ada fenomena gelombang panas. Selain itu, faktor cuaca seperti berkurangnya tutupan awan dan kelembapan udara dapat memberikan kontribusi lebih terhadap nilai indeks UV. (vand)













