Tak ayal, hampir semua hasil karya foto yang dihasilkan oleh pria asal Kurai, Bukittinggi ini mampu menyentuh sisi kerinduan akan kampung halaman, tentang masa kecil. Seolah foto-foto Erison menumbuhkan kembali ingatan masa kecil di Minangkabau.
“Saya senang berbagi, suatu kepuasan tersendiri bagi saya jika karya-karya sederhana yang saya hasilkan dapat bermanfaat bagi orang banyak, apalagi jika ada orang rantau di luar Minangkabau yang mengaku rindunya terobati setelah melihat foto saya,” lanjutnya.
Selain media untuk berekspresi, bagi EJK fotografi merupakan salah satu cara untuk ikut memperkenalkan keindahan alam dan keragaman budaya Sumatra Barat ke khalayak luas dengan memotret berbagai tradisi, bentangan alam dan budaya dan nilai Minangkabau. EJK ingin mengabadikan dan mewariskan ingatan tentang budaya dan nilai-nilai Minangkabau kepada generasi penerus.
Semua Berawal dari Seni
Kelihaian mata dan tangan Erison dalam membidik foto yang penuh dengan makna lahir dan tumbuh dari kesenian melukis yang ia kuasa yang ia tumpahkan ke fotografi secara otodidak. Bahkan hingga sekarang EJK mengaku tidak terlalu menguasai teori fotografi secara khusus dan teknis.
“Jujur, saya belum pernah membaca satupun buku tentang fotografi. Ilmu fotografi saya sangatlah tipis dan biasa saja. Basic ilmu foto saya hanya dari jiwa seni lukis yang saya punya , saya pun kurang suka berumit-rumit dengan teori,” ungkapnya.
Begitupun dengan proses editing foto, Erison hanya mengandalkan gawainya untuk mengedit foto yang akan dibagikan di sosial media. Ia mengaku tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan aplikasi editing foto seperti layaknya seorang fotografer.
Menurut Erison, jika foto tersebut sudah memiliki makna yang cukup dalam, maka foto tersebut sudah memukau tanpa harus dipoles dengan berbagai aplikasi. “Saya lebih menyukai foto-foto sederhana yang sarat makna, ketimbang foto yang terlebih dahulu dengan aplikasi editing digital,” ujarnya.
Hal tersebut yang membuat foto-foto karya Erison memenangi sejumlah penghargaan, ikut berbagai pameran dan di jual hingga ke luar negeri. Dan yang menarik bagi EJK tidak terlalu mementingkan persoalan hak cipta maupun royalti dari setiap karya foto yang dihasilkannya.
“Bagi saya karya yang hebat adalah karya sederhana yang bisa dinikmati oleh banyak orang, serta bermanfaat bagi orang banyak, makanya saya tidak terlalu mempermasalahkan soal hak cipta, keindahan alam tuhan yang ciptakan kok, kenapa kita manusia yang sekadar ambil gambar pelit sekali,? ” tuturnya.
Erison menyebutkan, untuk menghasilkan karya fotografi yang bagus harus tabah untuk terus belajar dan mencoba tanpa harus terbebani khususnya oleh keterbatasan pengetahuan maupun kamera yang dimiliki. Apa lagi saat ini dengan kehadiran handphone orang sudah bisa menjadi fotografer asal memiliki kemauan selalu belajar.
“Jika ingin berkarya awalilah dengan keikhlasan,karena ikhlas adalah kunci segalanya, jika benar-benar bersungguh-sungguh dalam berkarya, nanti rupiah pasti akan datang sendirinya,” katanya.
Hal itu sudah dibuktikan langsung oleh Erison. Bahkan salah satu kamera yang selama ini dipakai merupakan pemberian dari seorang Menteri dari Malaysia Tan Sri Rais, yang mengaku senang dengan foto-foto karyanya.













