SUMBAR

Nilai Ekspor Sumbar Turun 43,72 Persen

241
×

Nilai Ekspor Sumbar Turun 43,72 Persen

Sebarkan artikel ini
Ekspor
Nilai Ekspor Sumbar Turun 43,72 Persen

PADANG, ONtime.ID—Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat, nilai ekspor komoditas asal Sumbar pada September 2024 hanya sebesar USD135,59 juta. Nilai ini turun 43,72 persen dibanding nilai ekspor pada Agustus 2024 yang sebesar USD240,93 juta.

Di samping itu, Kepala BPS Sumbar, Sugeng Arianto juga menyebut, jika dibadingkan dengan bulan yang sama tahun 2023, nilai ekspor Sumbar juga turun 27,09 persen.

Ia menyampaikan, ekspor asal Sumbar pada September 2024 dikirim ke beberapa negara tujuan. “Nilai ekspor terbesar, yaitu ke Pakistan sebesar USD50,88 juta. Kemudian diikuti India sebesar USD21,69 juta,” ucapnya, kemarin.

Ia menambahkan, ekspor ke India memiliki peran besar terhadap total ekspor Sumbar periode Januari hingga September 2024, yaitu sebesar 30,68 persen. Selanjutnya, ekspor ke Pakistan memberikan peran sebesar 24,12 persen. Dan ekspor ke Myanmar memberikan peran sebesar 8,83 persen.

Komoditas utama yang diekspor ke India pada September 2024 adalah cryde palm oil (CPO). Sedangkan Pakistan liquid fractions of palm oil.

Kemudian menurut sektor, ekspor produk industri pengolahan mengalami penurunan sebesar 43,69 persen dibandingkan bulan sebelumnya (m-to-m). Sektor industri pengolahan berperan sebesar 95,06 persen terhadap total ekspor Sumbar pada periode Januari-September 2024. Ekspor sektor pertambangan berperan 0,09 persen dan ekspor sektor pertanian berperan 4,85 persen.

Sugeng menyatakan, saat ini Sumbar dalam posisi yang diuntungkan karena naiknya harga komoditas unggulan. Namun, sayangnya, peningkatan harga tersebut justru menurunkan permintaan komoditas CPO sehingga menghambat kinerja ekspor.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemangku kebijakan di Sumbar mulai memikirkan solusi untuk mengolah minyak kelapa sawit mentah menjadi produk turunan lain, sehingga tetap berkontribusi positif terhadap perekonomian Ranah Minang.

Di sisi lain, impor pada September 2024 senilai USD41,36 juta. Angka ini mengalami penurunan 5,07 persen dibanding impor Agustus 2024 sebesar USD43,57 juta. Namun jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, nilai impor Sumbar naik hingga 123,04 persen.

“Impor terbesar adalah golongan bahan bakar mineral yang sebesar USD27,07 juta. Impor bahan bakar mineral mendominasi impor periode Januari-September 2024 sebesar 66,03 persen,” ujarnya.

Di sisi lain, total impor yang masuk ke Indonesia pada September 2024, yang terbesar berasal dari Singapura senilai USD27, 39 juta. Kemudian Brasil sebesar USD5,11 juta, Malaysia USD4,87 juta, Tiongkok USD2,08 juta, dan Amerika Serikat USD0,84.

“Secara komulatif, impor Sumbar pada Januari hingga September 2024 didominasi komoditas asal Singapura, yaitu 41,33 persen dari total impor,” ucapnya.

Terpisah, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumbar menilai turunnya ekspor Sumbar dipicu oleh ketegangan geopolitik yang terus terjadi selama beberapa waktu terakhir terakhir, terutama untuk komoditas CPO.

Kepala BI Perwakilan Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, eskalasi konflik yang masih maupun yang berpotensi akan terjadi di beberapa negara berimbas langsung kepada kinerja ekspor global termasuk di Indonesia. Efeknya, para eksportir khawatir atau ragu untuk mengimpor CPO dalam waktu jangka panjang.

Selain itu, semakin selektifnya pasar luar negeri dalam menerima barang atau komoditas ekspor juga turut memengaruhi permintaan ekspor CPO dari suatu negara. Hal tersebut dilatarbelakangi kebijakan sebuah negara untuk melindungi komoditas lokal agar tidak tertekan oleh barang atau komoditas impor.

Di satu sisi, ia melihat pemerintah pusat telah menyiapkan skema untuk mengantisipasi apabila komoditas, seperti CPO tidak terakomodir oleh pasar ekspor global. Salah satunya hilirisasi produk dengan menghasilkan biodiesel.

Kendati demikian, pemangku kebijakan juga didorong bisa berinovasi dan melakukan hilirisasi produk dan mencari pasar baru, atau tidak hanya mengandalkan negara yang selama ini menjadi sasaran utama ekspor CPO. (*)