Oleh : Mawar Setiani Hia (Mahasiswi Ilmu Ekonomi Universitas Andalas)
Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dan menempati posisi keempat penduduk terbanyak di dunia, memiliki dinamika sosial yang tentunya sangat kompleks. Fenomena yang sedang menarik dan ramai dibahas belakangan ini adalah penurunan angka pernikahan di Indonesia.
Data terbaru menunjukkan hal yang menjadi indikator dalam penurunan signifikan dalam jumlah pernikahan di Indonesia. Artikel ini akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan penurunan angka pernikahan dan apa saja dampaknya bagi pertumbuhan penduduk.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, terjadi penurunan yang cukup signifikan terkait angka pernikahan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2019, tercatat sekitar 2 juta pernikahan, namun angka ini terus menurun hingga tahun 2023 menjadi sekitar 1,5 juta pernikahan. Penurunan ini menunjukkan tren yang cukup mengkhawatirkan dan perlu perhatian yang lebih dari berbagai pihak menimbang hal ini berimplikasi terhadap pertumbuhan penduduk.
Penurunan angka pernikahan di Indonseia dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari faktor sosial maupun ekonomi dan budaya. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap fenomena ini diantaranya adalah:
- Perubahan sosial dan budaya. Hal ini mengecu pada keterbukaan terhadap gaya hidup masyarakat khususnya generasi muda atau yang sering disebut Gen Z. Generasi muda masa sekarang lebih terbuka atas pilihan-pilihan kehidupan, termasuk salah satunya adalah pilihan untuk tidak menikah. Saat ini pun sebagian orang sudah menormalisasikan hidup bersama tanpa menikah, kemudian pilihan untuk hidup melajang pun diterima dan dianggap biasa oleh masyarakat yang berbanding terbalik dengan persepsi orang pada zaman dahulu yang berpendapat bahwa menikah adalah sebuah keharusan dan akan dipandang kurang baik jika tidak kunjung menikah di usia yang bisa dibilang sudah tua
Selain itu, peningkatan pendidikan pun sangat berpengaruh pada pilihan untuk menikah. Semakin banyak orang, khususnya wanita ingin mengejar pendidikan dan karir yang tinggi. Hal ini menyebabkan penundaan terhadap pernikahan karena prioritas pada pendidikan dan pekerjaan.
- Kondisi Ekonomi. Ketidakstabilan ekonomi seseorang dan tingginya tingkat pengangguran membuat banyak orang ragu untuk menikah karena adanya ketakutan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka yang akan semakin bertambah jika sudah menikah. Di samping itu, biaya pernikahan yang cukup tinggi juga menjadi sebuah permasalahan karena pada umumnya orang-orang ingin menyelenggarakan pesta pernikahan yang luar biasa karena pernikahan adalah momen yang sangat berharga dalam kehidupannya.
- Perubahan Nilai dan Norma. Generasi muda sekarang lebih mengutamakan kebebasan pribadi dan menganggap pernikahan akan merenggut kebebasan yang dimilikinya tersebut. Jika orang-orang dulu berpikir bahwa pernikahan adalah jalan menuju kebahagiaan, tetapi sekarang hal itu tidak berlaku untuk kebanyakan orang lagi. Media sosial juga ikut berpengaruh dalam membentuk persepsi tentang pernikahan itu sendiri dikarenakan saat ini banyak orang-orang yang menggugah kehidupan pernikahan mereka yang tidak semuanya berkahir bahagia. Hal inilah yang menjadi ketakutan pada orang-orang yang belum menikah sehingga niat untuk menikah menjadi turun.
Fenomena ini tentu akan berimplikasi pada pertumbuhan penduduk. Beberapa dampak yang dapat ditimbulkan akibat penurunan angka pernikahan yaitu:
- Penurunan Tingkat Kelahiran. Jika semakin sedikit orang yang menikah, otomatis akan memengaruhi jumlah kelahiran. Penurunan pernikahan berarti lebih sedikit keluarga yang terbentuk, akibatnya permintaan terhaadap anak akan menurun. Ditambah pula dengan trend child free yang sedang maraknya tentu akan sangat berdampak pada tingkat kelahiran di Indonesia. Penurunan angka kelahiran ini akan berdampak pada laju pertumbuhan penduduk yang semakin melambat. BPS melaporkan bahwa laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2020-an lebih rendah dibandingkan dekade sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa penurunan pada angka pernikahan berdampak pada penurunan tingkat kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk.
- Implikasi sosial ekonomi. Adanya penurunan angka pernikahan dan kelahiran akan mengubah struktur demografi Indonesia, dengan proporsi penduduk usia lanjut yang semakin besar. Ini akan menimbulkan beban ketergantungan pada usia produktif dan menjadi tantangan dalam hal pembiayaan dan pelayanan kesehatan untuk lansia.
Dengan laju pertumbuhan penduduk yang lambat, Indonesia kemngkinan akan menghadap tantangan dalam ketersediaan tenaga kerja di masa depan. Produktivitas ekonomi akan terpengaruh jika tidak ada cukup tenaga kerja usia produktif yang memasuki pasar kerja. Ini akan merambat pada pertumbuhan ekonomi dan produktivitas di dalam negeri.
Selain hal itu, pemerintah juga harus mempertimbangkan kebijakan yang mendukung keluarga dan pernikahan, seperti insentif pajak, subsisdi perumahan, dan fasilitas kesejahteraan lainnya untuk mendukung peningkatan angka pernikahan dan kelahiran.
Dampak yang disebabkan oleh penurunan angka pernikahan ini sangat memengaruhi kestabilan dalam negara sehingga diperlukan upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan pihak yang terkait untuk mengatasi penurunan angka pernikahan ini sebagai berikut.
- Meningkatkan Kesadaran dan Edukasi tentang pernikahan.
- Edukasi tentang pentingnya pernikahan dan keluarga. Menyediakan program edukasi yang menekankan pentingnya pernikahan da keluarga dalam konteks sosial dan ekonomi bisa membantu mengubah persepsi masyarakat.
- Kampanye kesehatan reproduksi. Mengedukasi generasi muda tentang kesehatan reproduksi dan pentingnya perencanaan keluarga juga dapat membantu meningkatkan angka pernikahan.
- Mendorong Kebijakan yang Mendukung Keluarga.
- Memberikan insentif finansial seperti subsidi perumahan, tunjangan anak, dan insentif pajak bagi pasangan yang menikah dan memiliki anak dapat mendorong lebih banyak orang menikah.
- Kebijakan Kesetaraan Gender: Memastikan bahwa perempuan memilki peluang yang sama dalam karir dan pendidikan, serta menyediakan dukungan untuk perempuan yang bekerja sambil mengurus keluarga.
- Mengatasi Tantangan Ekonomi
- Meningkatkan Stabilitas Ekonomi: Menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan stabilitas ekonomi akan memberikan rasa aman bagi pasangan untuk menikah dan memulai keluarga.
- Mendorong pernikahan yang sederhana dan terjangkau dapat mengurangi beban finansial yang sering kali menjadi hambatan bagi pasangan yang ingin menikah.
Kesimpulan
Penurunan angka pernikahan di Indonesia adalah fenomena yang kompleks dengan berbagai faktor penyebab dan dampak yang luas. Mengatasi masalah ini memerlukan pendekatan yang holistik, melibatkan kebijakan publik yang mendukung, edukasi masyarakat, dan peningkatan kondisi ekonomi. Dengan upaya yang terkoordinasi, diharapkan tren penurunan angka pernikahan dapat dibali, sehingga mendukung pertmbuhan peenduduk dan kesejahteraan sosial-ekonomi Indonesia secara keseluruhan. (*)













