“Perlu kajian-kajian khusus kenapa permukaan danau meningkat. Bisa jadi ada yang tersumbat. Soal sampah, jangan ada lagi yang membuang sampah ke sungai, terutama di Batang Lembang. Sampah harus dikelola, khususnya di sepanjang sungai-sungai yang bermuara ke danau,” katanya.
Soal alih usaha, gubernur menyambut baik solusi tersebut. Jika nagari-nagari sepakat, dalam rangka perlindungan Danau Singkarak, maka, katanya, akan dipetakan potensi-potensi lain yang bisa dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat di salingka danau.
“Kalau nagari-nagari sepakat, saya yakin bisa. Kuncinya kesepakatan. Danau yang ada di depan mata kita setiap hari kita lihat ini, bisa lestari jika kita bersama-sama menjaganya. Seperti yang dilakukan Nagari Sumpur misalnya, ada kearifan lokal untuk penyelamatan ikan bilih. Saya harap ini juga bisa diikuti oleh nagari lain,” katanya.
Sementara itu, Anggota DPRD Sumbar, Nazar Bakri mengapresiasi berbagai masukan dari gubernur dan berjanji akan menindaklanjuti pertemuan tersebut dengan duduk bersama masyarakat salingka danau untuk membuat kesepakatan pelestarian Danau Singkarak dan optimalisasi ekonomi kreatif yang kemudian akan diusulkan kembali kepada Gubernur.
Pada kesempatan itu itu, Gubernur juga melepas 15 ribu benih ikan Nilem dan Tawes untuk pelestarian sumber daya ikan di Danau Singkarak, di Nagari Saniang Baka, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok.
Dalam pertemuan itu turut hadir serta para wali nagari ataupun yang mewakili dari nagari-nagari salingka Danau Singkarak, di antaranya dari Nagari Sumani, Paninggahan, Singkarak, Muaro Pingai dan Saniang Baka. Selain itu turut mendampingi gubernur, Kepala DKP Sumbar Desniarti, Kepala Biro Umum Syefdinon, dan Kepala Biro Adpim Maifrizon. (*/red)













