Peristiwa

Dugaan Rekayasa Kasus Pembunuhan 2022, Warga Tapian Nauli Minta Aparat Bertindak

191
×

Dugaan Rekayasa Kasus Pembunuhan 2022, Warga Tapian Nauli Minta Aparat Bertindak

Sebarkan artikel ini
Dugaan
Dugaan Rekayasa Kasus Pembunuhan 2022, Warga Tapian Nauli Minta Aparat Bertindak

TAPSEL, ONtime.ID — Seorang warga Kelurahan Tapian Nauli, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Asa Z. Hulu, menyatakan keberatan dan meminta penegak hukum membuka kembali dugaan kasus pembunuhan yang terjadi pada tahun 2022.

Ia menilai bahwa selama ini informasi terkait peristiwa tersebut telah ditutup-tutupi dan bahkan direkayasa oleh sejumlah oknum di lingkungan kelurahan maupun keluarga korban.

Kasus yang dimaksud berkaitan dengan dugaan pembunuhan terhadap Abdul Rahma Giawa, warga setempat yang pada 2022 disebut hilang setelah sebuah pesan singkat (SMS) tak dikenal masuk ke ponsel Lurah Tapian Nauli berinisial S.TB. SMS tersebut berisi pemberitahuan bahwa telah terjadi pembunuhan di kawasan Setia, Lingkungan Tapian Nauli, dengan pelaku disebut dua orang: Yustinus Waruwu dan Sozanolo Hia.

Menurut Asa Z. Hulu, sejak pesan itu beredar luas di masyarakat, aparat kelurahan tidak menunjukkan tindakan cepat untuk memastikan kebenaran informasi. Padahal, isu itu telah menimbulkan kehebohan di wilayah Dolok Tapan dan membuat warga mempertanyakan keberadaan Abdul Rahma yang tidak lagi muncul di lingkungan mereka.

Melihat tidak adanya langkah dari pihak kelurahan, Asa meminta salinan SMS tersebut dari rekannya dan membagikannya ke dalam grup WhatsApp Kelurahan Tapian Nauli. Tujuannya, kata Asa, agar pemerintah setempat bergerak memeriksa kebenaran informasi itu.

Namun dua hari setelah unggahan tersebut, Asa dipanggil oleh Lurah, perangkat kelurahan, dan seorang Babinsa untuk dimintai keterangan terkait alasannya menyebarkan informasi itu.

“Saya hanya ingin memastikan peristiwa ini tidak ditutupi. Kalau ada kejahatan, jangan dibiarkan. Itu demi keselamatan masyarakat,” ujar Asa.

Ia mengaku justru di-intimidasi oleh oknum Babinsa, Lurah, dan jajaran kelurahan. Menurutnya, upaya itu dilakukan untuk membungkam warga dan menahan penyebaran informasi terkait dugaan pembunuhan tersebut.

Setelah proses mediasi di kantor lurah, pihak keluarga korban bersama perangkat kelurahan menunjukkan surat pernyataan hilang yang menyebut bahwa Abdul Rahma “pergi dari rumah dan belum kembali”. Surat itu dibacakan oleh Lurah S.TB sebagai dasar agar masyarakat melapor bila mengetahui keberadaan korban.

Namun menurut Asa, surat tersebut terindikasi hanya sebagai pengalihan atas peristiwa yang sebenarnya. Ia mengatakan bahwa keluarga dan kelurahan tidak memberi respons ketika dirinya mencoba menyampaikan informasi baru setelah dua bulan.

Ketegangan semakin meningkat setelah Sozanolo Hia, salah satu orang yang disebut dalam SMS sebagai pelaku, mengirim rekaman video pengakuan kepada Asa Z. Hulu. Dalam rekaman itu, Sozanolo diduga menyatakan bahwa:

  • Pembunuhan dilakukan atas perintah dari pihak keluarga korban sendiri,

  • Terdapat oknum yang ikut membantunya menutupi kasus, termasuk RT berinisial S. Nduru, Lurah S.TB, serta seorang kepala lingkungan yang juga Babinsa berinisial B.TB.

Selain itu, Sozanolo diduga menyebut bahwa dirinya pernah diminta pihak keluarga untuk membunuh Asa Z. Hulu, karena dianggap “terlalu banyak membongkar kejahatan”.

Semua pengakuan ini masih berstatus klaim sepihak dan membutuhkan verifikasi aparat penegak hukum.

Asa Meminta Kasus Dibuka Secara Resmi

Atas rangkaian kejadian itu, Asa menyatakan dirinya merasa ditipu dan diintimidasi oleh sejumlah oknum dalam upaya menutupi kasus tersebut.

“Saya keberatan karena saya diintimidasi, ditipu, dan diberikan surat keterangan palsu. Ini semua untuk menutupi kejahatan. Saya meminta penegak hukum turun tangan,” tegas Asa.

Ia mendesak kepolisian melakukan penyelidikan terhadap:

  • Dugaan pembunuhan terhadap Abdul Rahma Giawa,

  • Dugaan rekayasa surat pernyataan hilang,

  • Dugaan intimidasi oleh oknum kelurahan,

  • Dugaan keterlibatan beberapa pihak dalam menutupi kasus.

Hingga laporan ini disusun, belum ada keterangan resmi dari kepolisian terkait pengakuan pelaku maupun dugaan keterlibatan oknum kelurahan seperti yang disampaikan oleh Asa Z. Hulu. Kasus ini kini menjadi perhatian warga Tapian Nauli, yang berharap agar pihak berwenang segera mengambil langkah hukum untuk memastikan kebenaran peristiwa tersebut. (tim)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID