PADANG, ONTIME.ID—Di tengah kian membaiknya kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia, hepatitis akut, yang hingga kini masih menjadi misteri, muncul menebarkan ancaman baru.
Bahkan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), saat ini sudah ada 14 kasus dugaan hepatitis akut di Indonesia, di mana salah satunya berada di Sumatra Barat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumbar, dr. Lila Yanwar menyebutkan, ancaman penyakit yang menyerang anak-anak namun belum diketahui pasti penyebabnya itu, memang patut diwaspadai, terlebih oleh para orang tua.
Kewaspadaan terhadap ancaman hepatitis misterius ini juga ditunjukkan dari dibentuknya tim ahli, yang terdiri dokter anak dari RSUP M. Djamil dan dokter anak dari seluruh kabupaten/kota.
Tim ahli tersebut bertugas melakukan screening dan verifikasi diagnosa awal gejala hepatitis pada anak. Data hasil screening tersebut kemudian dikirimkan ke Dinkes Sumbar untuk dilakukan penindakan lebih lanjut.
“Sampai saat ini, sudah ada beberapa laporan yang masuk. Tapi baru kami tanggapi kalau sudah ada gejala kerusakan hati, dan setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan ternyata hasil temuan hepatitisnya negatif. Kalau sudah seperti itu, baru kami waspada. Namun kalau cuma demam dan tidak ditemukan kerusakan hati, maka tidak akan ditindaklanjuti,” ujarnya saat dihubungi ONTIME.ID, Senin (23/5).
Selain itu, pihaknya juga telah mengundang kepala dinas kesehatan seluruh kabupaten/kota, dokter anak, serta hampir 250 pimpinan puskesmas di Sumbar guna menyosialisasikan terkait hepatitis akut, mulai dari keberadaan, gejala, bagaimana pengawasan serta penindakannya, dan seterusnya.
Lebih jauh, ia mengatakan, meski telah melakukan screening, namun langkah-langkah antisipasi, khususnya dari orang tua, tetap diperlukan. Dalam hal ini ia mengimbau para orang tua untuk senantisa menjaga kebersihan dan pola makan anak-anaknya.
“Lingkungan sekitar harus bersih. Makanan juga mesti diolah dengan baik, mulai dari cara memasaknya, cara menyimpannya, dan seterusnya. Di samping itu, ketika berada di tengah kerumunan, protokol kesehatan (prokes) tetap harus diterapkan. Karena kita kan belum tahu, kuman ini datang dan masuknya dari mana,” kata Lila.
Selanjutnya, ketika anak demam, ia mengimbau orang tua untuk segera memeriksakannya ke puskesmas terdekat. Jangan hanya diobati sendiri di rumah. Terakhir, segera melengkapi imunisasi dasar bagi anak. Bagaimanapun, imunisasi dapat memperkuat imun anak dan melindungi anak dari berbagai macam penyakit.
“Kalaupun bukan hepatitis, bisa jadi difteri atau campak. Oleh karenanya, bagi anak-anak yang belum diimunisasi, segera diimunisasi,” katanya.
Terpisah, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar, Finny Fitry Yani mengatakan, langkah antisipasi untuk pencegahan hepatitis akut pada anak-anak masih terus dilakukan meskipun gejala yang mirip kasus itu mulai senyap. Tim khusus juga sudah dibentuk melalui SK Dinkes Sumbar.
Ia menyebut, edukasi mengenai hepatitis dan penguatan kembali imunisasi juga terus digencarkan. “Meskipun sekarang gejala yang menyerupai hepatitis sudah mulai senyap, tapi IDAI dan Dinkes tetap melakukan langkah antisipasi dan terus siaga,” ucapnya.
Dinkes juga telah memberikan warning kepada sejawat direktur rumah sakit dan kepala dinkes kabupaten/kota, jika ada gejala menyerupai hepatitis akut, agar segera dilaporkan.
Untuk di Sumbar, RSUP M. Djamil telah ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan hepatitis akut, menyusul ditemukannya kasus suspek hepatitis akut yang meninggal dunia beberapa waktu lalu.
Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUP M. Djamil, Bestari Jaka Budiman mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan ruangan Intensive Care Unit (ICU), Neonatal Intensive Care Unit (NICU), dan ruang perawatan. “Ada delapan ruangan isolasi yang disiapkan untuk pasien dugaan hepatitis misterius ini,” kata Bestari.











