Opini

Menghidupkan Kembali Spirit “Iqra” di Tengah Kehidupan Modern

254
×

Menghidupkan Kembali Spirit “Iqra” di Tengah Kehidupan Modern

Sebarkan artikel ini
Iqra
Menghidupkan Kembali Spirit “Iqra” di Tengah Kehidupan Modern

Oleh : Leonardy Harmainy Datuak Bandaro Basa

Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad di Gua Hira merupakan salah satu momen paling menentukan dalam sejarah peradaban manusia. Dalam peristiwa itu, Malaikat Jibril menyampaikan satu kata yang sangat mendasar sekaligus revolusioner: Iqra.

Perintah ini termaktub dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-‘Alaq ayat pertama: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Jika dipahami secara sederhana, kata iqra berarti membaca. Namun konteks turunnya ayat ini justru membuka pemahaman yang jauh lebih luas. Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang tidak membaca dan menulis. Tetapi Allah tetap memerintahkan beliau untuk membaca. Dari sinilah para ulama menafsirkan bahwa iqra tidak sekadar membaca tulisan, melainkan membaca kehidupan.

Iqra adalah ajakan untuk membuka mata dan hati terhadap tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Langit yang membentang luas, matahari yang terbit tanpa pernah terlambat, pergantian siang dan malam, hingga kehidupan manusia itu sendiri—semuanya adalah “ayat” yang dapat dibaca oleh orang yang berpikir.

[irp posts=”34560″ ]

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama sering menjelaskan bahwa manusia sebenarnya dihadapkan pada dua jenis ayat. Pertama adalah ayat qauliyah, yaitu wahyu Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an. Kedua adalah ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta.

Orang yang benar-benar menjalankan perintah iqra akan berusaha membaca keduanya. Ia membaca Al-Qur’an untuk memahami petunjuk hidup, sekaligus membaca alam untuk melihat kebesaran Sang Pencipta. Dari proses ini lahirlah ilmu pengetahuan, rasa syukur, dan kerendahan hati.

Ayat berikutnya dalam Surah Al-‘Alaq menegaskan kemuliaan ilmu pengetahuan:

“Yang mengajarkan manusia dengan pena, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Ayat ini memberi pesan kuat bahwa ilmu adalah jalan kemuliaan manusia. Tidak mengherankan jika dalam sejarahnya, peradaban Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Semangat iqra melahirkan para ulama, ilmuwan, dan pemikir besar yang meneliti berbagai bidang ilmu, mulai dari astronomi, kedokteran, matematika, hingga filsafat.

[irp posts=”34557″ ]

Namun pertanyaan yang patut kita renungkan hari ini adalah: apakah semangat iqra masih hidup dalam diri kita?

Di era modern, manusia memang membaca lebih banyak daripada generasi sebelumnya. Kita membaca berita, media sosial, pesan singkat, dan berbagai informasi yang datang tanpa henti. Tetapi tidak semua bacaan membawa kita kepada kebijaksanaan.

Sering kali kita justru tenggelam dalam arus informasi yang menjauhkan kita dari makna hidup yang sebenarnya. Kita sibuk membaca dunia, tetapi lupa membaca wahyu. Kita mengamati kehidupan orang lain, tetapi lupa membaca diri sendiri.

Dalam perspektif tasawuf, membaca diri sendiri merupakan bentuk iqra yang paling dalam. Manusia diajak untuk melakukan muhasabah, menilai keadaan hatinya.

Apakah hati kita dipenuhi kecintaan kepada Allah, atau justru dipenuhi oleh ambisi dunia?
Apakah ilmu yang kita cari mendekatkan kita kepada kebenaran, atau hanya memperbesar ego kita?

[irp posts=”34554″ ]

Orang yang benar-benar dekat kepada Allah justru akan semakin sadar akan kekurangan dirinya. Ia tidak menjadi sombong karena ilmu, tetapi semakin rendah hati karena menyadari luasnya pengetahuan Allah dibandingkan pengetahuan manusia.

Karena itu, perintah iqra seharusnya tidak berhenti sebagai slogan religius. Ia harus menjadi cara hidup.

  • Membaca Al-Qur’an dengan hati yang hadir.
  • Membaca kehidupan dengan iman yang jernih.
  • Dan membaca diri sendiri dengan kejujuran.

Jika semangat ini kembali hidup dalam kehidupan umat, maka ilmu tidak hanya menghasilkan kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Dan dari sanalah lahir manusia yang tidak hanya maju secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID