Opini

Puasa dan Penguatan Karakter Masyarakat dalam Kerangka Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

145
×

Puasa dan Penguatan Karakter Masyarakat dalam Kerangka Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Sebarkan artikel ini
Puasa
Puasa dan Penguatan Karakter Masyarakat dalam Kerangka Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Oleh: Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si. (Ketua LKAAM Sumbar)

Ibadah puasa bukan sekadar ritual tahunan yang dijalankan umat Islam dengan menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah madrasah karakter, tempat manusia ditempa menjadi pribadi yang sabar, jujur, dan berempati.

Dalam perspektif adat Minangkabau, nilai-nilai puasa memiliki resonansi yang sangat kuat, karena sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Sumatera Barat: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Sebagai Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat (LKAAM) Sumbar, saya memandang puasa bukan hanya sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sebagai momentum memperkuat sendi-sendi adat dan moral masyarakat Minangkabau. Puasa menuntut pengendalian diri, sementara adat Minang mengajarkan raso jo pareso, menggunakan rasa dan periksa (pertimbangan) sebelum bertindak. Keduanya bertemu dalam satu titik: pembentukan manusia berakhlak.

[irp posts=”34092″ ]

Puasa adalah ujian integritas. Tidak ada yang benar-benar mengetahui kualitas puasa seseorang selain dirinya dan Allah SWT. Inilah latihan kejujuran yang paling mendasar. Dalam kehidupan sosial, integritas menjadi fondasi utama kepercayaan. Jika individu terbiasa jujur dalam hal yang tidak terlihat, ia akan lebih kuat menjaga amanah dalam urusan yang terlihat. Bagi masyarakat adat, amanah adalah kehormatan. Sekali rusak, sulit dipulihkan.

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, masyarakat Minangkabau menghadapi tantangan besar: lunturnya nilai sopan santun, melemahnya otoritas ninik mamak, serta meningkatnya konflik sosial yang dipicu oleh ego dan kepentingan sempit. Puasa hadir sebagai ruang refleksi kolektif. Ia mengajarkan bahwa menahan diri lebih mulia daripada melampiaskan amarah. Dalam adat, kita mengenal pepatah nan kuriak kundi, nan merah sago; nan baiak budi, nan indah baso. Puasa memperhalus budi dan memperindah bahasa.

Dimensi empati dalam puasa juga sangat relevan bagi kehidupan sosial Minangkabau. Rasa lapar dan dahaga menumbuhkan kesadaran bahwa tidak semua orang hidup dalam kecukupan. Tradisi gotong royong, badoncek, dan saling membantu adalah manifestasi nilai empati yang sudah lama hidup dalam adat. Puasa memperkuat kembali kesadaran itu, bahwa kesejahteraan tidak boleh dinikmati sendiri, melainkan harus dibagi.

[irp posts=”34089″ ]

Lebih jauh, puasa mengajarkan disiplin. Waktu sahur dan berbuka melatih keteraturan. Disiplin spiritual ini semestinya tercermin dalam disiplin sosial—taat pada aturan nagari, menghormati kesepakatan adat, dan mematuhi hukum negara. Adat Minangkabau tidak pernah bertentangan dengan syariat; justru ia memperkuatnya. Karena itu, puasa menjadi momentum menyatukan kembali kesadaran bahwa adat dan agama bukan dua kutub yang berseberangan, melainkan satu kesatuan nilai.

Di era digital, tantangan moral semakin kompleks. Informasi mengalir tanpa batas, fitnah dan ujaran kebencian mudah tersebar. Puasa mengajarkan menjaga lisan. Dalam konteks kekinian, menjaga lisan berarti menjaga jari dan pikiran. Masyarakat adat harus menjadi contoh dalam bermedia sosial yang santun, tidak mudah terprovokasi, dan tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Raso jo pareso harus hadir sebelum menekan tombol kirim.

Puasa juga mengingatkan pentingnya kepemimpinan yang berintegritas. Dalam struktur adat, ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai memikul tanggung jawab moral. Kepemimpinan bukan soal kuasa, melainkan soal keteladanan. Puasa adalah latihan keteladanan itu. Bagaimana mungkin seorang pemimpin adat menyerukan kesabaran jika ia sendiri tidak mampu menahan amarah? Bagaimana mungkin menyerukan kejujuran jika integritasnya diragukan?

[irp posts=”34086″ ]

Momentum Ramadan semestinya menjadi ajang muhasabah bagi seluruh elemen masyarakat Sumatera Barat. Apakah adat masih dijalankan dengan ruhnya, atau hanya menjadi simbol seremonial? Apakah generasi muda masih merasakan kebanggaan terhadap identitas Minangkabau, atau justru tercerabut dari akar budayanya? Puasa memberi ruang hening untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini.

Makna puasa yang tajam terletak pada transformasi. Jika setelah Ramadan masyarakat menjadi lebih santun, konflik berkurang, solidaritas meningkat, dan kepedulian sosial tumbuh, maka puasa telah berhasil menjadi kekuatan perbaikan sosial. Namun jika perubahan hanya berlangsung sementara, maka kita perlu menguatkan kembali pemahaman tentang hakikat ibadah ini.

Bagi masyarakat Minangkabau, menjaga harmoni adalah prinsip utama. Konflik diselesaikan dengan musyawarah, bukan permusuhan. Puasa memperkuat semangat itu. Ia mengajarkan bahwa menahan ego adalah jalan menuju perdamaian. Dalam falsafah adat, keseimbangan adalah kunci—antara hak dan kewajiban, antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.

[irp posts=”34083″ ]

Sebagai Ketua LKAAM Sumbar, saya mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan puasa sebagai titik tolak memperkuat kembali nilai adat basandi syarak. Jangan biarkan puasa berhenti pada ritual lahiriah. Jadikan ia sebagai energi moral untuk membangun nagari yang rukun, generasi muda yang berakhlak, dan kepemimpinan yang amanah.

Pada akhirnya, puasa adalah cermin diri. Ia memperlihatkan siapa kita saat diuji oleh keterbatasan. Dari sana kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan memenuhi keinginan, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri. Jika nilai ini tertanam kuat, maka masyarakat Minangkabau akan tetap kokoh menghadapi perubahan zaman—berakar pada adat, berpijak pada syariat, dan bergerak maju dengan martabat. (*)

Ikuti Terus Saluran Whatsapp ONtime.ID