PASBAR, ONTIME.ID—Malang nian nasib masyarakat Pasaman Barat (Pasbar). Sudahlah jatuh, tertimpa tangga pula. Belum lagi pulih dari gempa 6,1 M yang melanda pada 25 Februari lalu, mereka kini sudah dibayangi-bayangi ancaman bencana lain.
Tak kunjung dimulainya proses rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascagempa, lantaran masih terhalang persoalan data, jelas sangat merugikan dan menyengsarakan masyarakat, yang kini mulai dihantui kecemasan baru.
Sampai saat ini, sebagian besar masyarakat terdampak gempa di Pasaman dan Pasbar masih tinggal di hunian semeentara (huntara). Seperti namanya, huntara sejatinya tidak dibangun untuk bertahan lama. Bukan untuk ditinggali secara permanen. Maka tak heran jika huntara, yang memang dibangun seadanya, tak diharapkan bisa bertahan melawan ancaman bencana lain yang bisa datang sewaktu-waktu.
Seperti yang terjadi di Pasbar pada Sabtu (28/5) lalu, ketika angin puting beliung menerjang dan merusakkan sejumlah huntara yang ditinggali masyarakat terdampak gempa. Camat Talamau, Andre Affandi menyebut, setidaknya terdapat 15 huntara yang tersebar di beberapa nagari dan jorong di kecamatan tersebut yang rusak diterjang puting beliung.
“Sejauh ini, ada 15 huntara yang atapnya diterbangkan oleh angin puting beliung. Huntara-huntara tersebut tersebar di Rimbo Batu, Pasa Lamo, Kampung Alang, Lubuak Sariak, Limpato, Timbo Abu, dan Mudiak Simpang,” katanya kepada ONTIME.ID, beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan, angin kencang yang terjadi sepanjang hari Sabtu tersebut memang membuat masyarakat, terutama korban gempa yang masih tinggal di huntara, cemas. Oleh karenanya, masyarakat sangat mengharapkan bantuan rehab-rekon segera cair, sehingga mereka bisa tinggal di hunian permanen yang lebih aman.
“Cuaca saat ini memang ekstrem. Angin kencang yang terjadi mengakibatkan pohon tumbang dan atap rumah beterbangan,” katanya.
Salah seorang korban gempa yang tinggal di huntara, Hendi (38) mengaku sedih dengan apa yang dialami oleh keluarganya dan masyarakat di Nagari Kajai. Rumah mereka yang rusak akibat gempa pada 25 Februari lalu sampai sekarang belum kunjung diperbaiki. Kini, huntara tempat ia dan keluarganya bernaung malah ikut rusak diterjang badai.
“Padahal baru dapat bantuan terpal dari PMI Pasbar. Sekarang sudah rusak lagi. Saya berharap rehab-rekon dari BNPB dan pemerintah daerah secepatnya dilakukan. Tinggal di huntara membuat kami cemas, terlebih ketika hujan dan angin kencang datang,” kata Hendi.













