Wilda ingin berbagi rasa kepedulian kepada alam dengan mengelola sampah yang dihasilkan setiap hari.
Bagi Wilda tidak semua sampah harus dibuang karena ada sampah yang bisa diolah menjadi barang yang bernilai bahkan bisa dijual.
Perempuan kelahiran Sijunjung itu sudah aktif dalam gerakan sosial mengeloh sampah saat ia masih kuliah di Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta. Ketika itu Wilda sudah mulai risih dengan sampah yang berserakan jalanan.
Kegelisahan Wilda itu kemudian tersalurkan dengan bergabung gerakan sosial peduli lingkungan. Ia bersama teman-temannya mulai aktif terlibat dalam mengolah sampah.
“Di masa-masa kuliah saya sangat hobi berorganisasi seperti gerakan sosial ini salah satunya. Awalnya saya menganggap gerakan sosial sampah ini hanya sekedar pelepas hobi saja, bukan karena langsung panggilan jiwa,” ujar Wilda.
Apalagi saat itu, sampah masih menjadi permasalahan terbesar di Indonesia, di mana Indonesia menjadi salah satu negara dengan penyumbang sampah sisa makanan terbesar ke-3 di dunia. Hal ini juga yang kemudian mendorong Wilda Yanti bersama teman-temannya untuk melakukan gerakan sosial di bidang pengolahan sampah.
Aksi peduli itu, ia mulai dengan memberikan pembinaan kepada masyarakat tentang pentingnya mengelola sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. Wilda bahkan mendatangi langsung masyarakat dari pintu ke pintu untuk mengajak warga lebih sadar dalam mengelola sampah.
“Konsep sampah itu tidak harus berakhir di tempat pembuangan akhir sampah yang tentunya akan menumpuk sia-sia dan bahkan menambah masalah. Jadi dari pembinaan inilah kami melakukan sharing kepada masyarakat untuk bisa mengelola sampahnya kembali menjadi sesuatu yang bernilai,” katanya.
Hasilnya cukup memuaskan, gerakan peduli sampah tersebut disambut baik oleh masyarakat. Wilda pun kemudian mengembangkan pengelolaan sampah itu dalam bentuk bank sampah dengan konsep gotong royong.
Pada tahun 2011 Wilda Yanti menjadikan usaha kelompok sosialnya itu menjadi sebuah perusahaan yang ia namai dengan PT Xaviera Global Synergy yang melayani distributor sampah dan bahkan mengolahnya menjadi suatu produk yang bernilai ekonomi.
Dengan capaian yang sangat membanggakan itu, Wilda kemudian memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanya sebagai konsultan di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Saat itu Wilda sedang berada di puncak karirnya.













