Politik

Nevi Zuairina Bicara Tentang Inklusi Keuangan

616
×

Nevi Zuairina Bicara Tentang Inklusi Keuangan

Sebarkan artikel ini
nevi
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Nevi Zuairina  saat menjadi narasumber utama dalam kegiatan sosialisasi Holding BUMN sebagai lokomotif kebangkitan ekonomi masa depan di Kota Payakumbuh baru-baru ini. 

PAYAKUMBUH, ONTIME.ID- Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Nevi Zuairina  menjadi narasumber utama pada kegiatan sosialisasi Holding BUMN sebagai lokomotif kebangkitan ekonomi masa depan di Kota Payakumbuh baru-baru ini.

Kegiatan ini dihadiri oleh UMKM binaan BUMN dari Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Para peserta sangat antusias hadir pada kegiatan tersebut, karena kehadiran Nevi Zuairina pada acara itu.

Disebut Nevi, sosialisasi ini bertujuan untuk agar masyarakat bisa lebih memahami Inklusi keuangan, yakni ketersediaan akses pada berbagai lembaga, produk, dan layanan jasa keuangan. Hal ini menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Saat ini tidak kurang dari 1,2 miliar orang di dunia tidak memiliki rekening (account), sehingga mereka mengalami kesulitan untuk mengakses produk dan layanan keuangan untuk memenuhi kebutuhan mereka,” ujarnya.

 

Di Indonesia, sambung Nevi, diperkirakan lebih dari 80 juta orang dikategorikan sebagai unbanked population atau excluded population. Kondisi inilah yang membuat masih banyak penduduk yang hidup dalam kondisi miskin.

Politisi PKS ini menjelaskan, bahwa Inklusi keuangan berarti para individu dan pelaku usaha memiliki kemampuan untuk mengakses produk dan layanan keuangan seperti transaction, payments, savings, credit dan insurance.

Akses keuangan akan bermanfaat untuk memfasilitasi kehidupan sehari-hari, membantu keluarga dan bisnis, serta  merencanakan segalanya mulai dari tujuan jangka panjang hingga keadaan darurat yang tidak terduga. Karena itu, inklusi keuangan merupakan faktor pendorong utama untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan serta meningkatkan kemakmuran rakyat.

“Strategi nasional inklusi keuangan pun sudah dibangun dengan baik. Lembaga- lembaga keuangan bank dan non-bank juga semakin banyak dan aktivitasnya semakin berkembang,” sebut Nevi.

Legislator asal Sumatera Barat II ini menuturkan, saat ini pelaku UMKM mengalami banyak permasalahan seperti sulitnya memperoleh bahan baku, pendapatan dan omset menurun, jalur distribusi terhambat, produksi barang terganggu, bahan baku mahal, hingga kesulitan permodalan. Para pelaku UMKM mengharapkan adanya tambahan modal sehingga usaha yang telah dirintis dapat tumbuh kembali.

“Untuk memperoleh tambahan modal tersebut, UMKM dapat mengajukan kredit ke bank.  Namun belum banyak masyarakat yang tahu tentang produk keuangan dari bank itu sendiri sehingga kadangkala mereka terjebak ke dalam bank plecit ataupun pinjaman online ilegal yang sangat berisiko untuk menjerumuskan mereka ke lubang yang lebih dalam,” ucap Nevi.